Sejak dikirim ke Ukraina untuk membantu pasukan Rusia, nama self propelled tarcked MLRS (Multiple Lauch Rocket System) buatan Korea Utara ini menjadi dikenal luas, dengan kaliber 600 mm, KN-25 pun disebut komunitas pertahanan internasional sebagai salah satu sistem artileri bergerak terkuat di dunia. Dan lewat unggahan di media sosial, disebut Korea Utara tengah memulai produksi massal KN-25. (more…)
Meski jumlahnya tidak diketahui, ada kabar Korps Marinir dalam waktu tak lama lagi bakal mengoperasikan senjata lawan tank atau roket anti tank disposable (peluncur sekali buang), menjadikan Korps Marinir sejajar dengan infanteri TNI AD dan Kopasgat TNI AU yang lebih dulu mengoperasikan roket anti tank disposable, meski dari merek yang berbeda. (more…)
Meski disebut sempat ‘babak belur’ akibat serangan presisi Israel pada akhir Oktober lalu, namun Iran tidak memperlihatkan kegoyahannya, terkhusus pada pengembangan satelit militer, selain mendapat dukungan teknologi dan peluncuran dari fasilitas milik Rusia di Kosmodrom Baikonur, Iran juga punya kemampuan meluncurkan satelit dengan roket di dalam negeri. (more…)
Meski baru digunakan secara terbatas, MLRS (Multiple Launch Rocket System) kaliber 122 mm sudah digunakan sejak lama sebagai arsenal senjata yang dipasang di kapal perang. Dengan daya hancurnya yang besar, MLRS dengan roket 122 mm dominan digunakan sebagai senjata bantuan untuk tembakan ke arah pantai atau pesisir yang dikuasai musuh. (more…)
Mengulang yang telah dilakukan pada tahun 2017, Resimen Artileri Korps Marinir TNI AL diwartakan akan melakukan uji tembak MLRS (Multiple Launch Rocket System) RM70 Grad yang ditempatkan di atas deck kapal perang. Menjadikan alutsista dari Batalyon Roket Marinir berubah peran sebagai senjata penggebuk dari tengah laut. (more…)
Di Zhuhai Airshow 2024, Cina membuat banyak kejutan, selain kemunculan jet tempur stealth J-35A dan UGV stealth trimaran “Killer Whale”, pengembang senjata dari Negeri Xi Jinping juga merilis inovasi yang belum pernah ada sebelumnya, yakni integrasi sub amunisi bom berpermandu, bom konvensional dan drone kamikaze dengan wahana luncur berkecepatan hipersonik atau hypersonic high-glide vehicle (HGV). (more…)
Roket Soyuz Rusia meluncurkan 53 satelit kecil ke orbit dari Vostochny pada 4 November 2024. (foto: Roscosmos)
Meski tak banyak diberitakan, pada tanggal 4 November 2024 menjadi torehan sejarah tersendiri dalam jagad antariksa Rusia, pasalnya telah pecah rekor nasional berupa peluncuran roket yang memuat satelit dengan jumlah terbanyak. Persisnya Roscosmos, lembaga antariksa nasional Rusia telah meluncurkan roket Soyuz-2.1b yang membawa 53 satelit kecil ke orbit. (more…)
Selain kampiun sebagai manufaktur yang memproduksi kapal perang permukaan dan kapal selam konvensional serta nuklir, Naval Group rupanya juga merintis pengembangan sistem senjata untuk kapal perang permukaan, yakni Modular Multipurpose Launching System. Disebut modular, lantaran dalam satu turret dapat dipasangi berbagai jenis senjata dengan kaliber yang berbeda-beda, tentunya untuk fungsi yang berlainan, (more…)
Semestinya pengembangan drone copter bersenjata di Indonesia dapat bercermin dari apa yang dilakukan oleh Rusia dan Ukraina dalam konflinya yang masih berkobar. Dari kubu Rusia, drone quadcopter FPV (First Person View) yang dipersenjatai dengan roket anti tank RPG-26 Aglen nampak dominan digunakan, pasalnya senjata anti tank disposable ini punya bobot relatif ringan dan tersedia dalam jumlah besar. (more…)
Aktif digunakan sejak Operasi Milliter menghadapi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada awal tahun 2003, Indonesia lewat Korps Marinir jelas bukan pengguna baru senjata senjata bantu infanteri jenis RPG (Rocket Propelled Grenade). Di lingkungan Korps Marinir TNI AL, jenis senjata yang kondang disebut RPG-7, persisnya adalah ATGL-L buatan Arsenal, manufaktur persenjataan dari Bulgaria. Dan belum lama ini ada kabar Korps Marinir mendapatkan tambahan aset senjata perorangan, ATGL-L2. (more…)