War-V1 namanya, ini adalah prototipe ranpur karya Anak Bangsa yang ide rancangannya merujuk ke ikon robot Megabots (Amerika) dan Kuratas (Jepang). War-V1 memang dirancang sebagai robot hybrid tactical vehicle, dapat digerakkan lewat remote atau dikendalikan langsung oleh seorang awak. Dengan mengusung keunggulan lapis baja dan roda rantai, TNI AD pun mulai melirik konsep ranpur futuristik ini. (more…)
TNI AD dalam strategi pengembangan sistem komunikasinya telah mencanangkan deployment Open BTS (Base Transceiver Station). Akses jaringan seluler mandiri ini digadang untuk menyambung urat komunikasi hingga wilayah pedalaman, terutama di area yang tak terjamah coverage operator seluler. Lain dari itu, Open BTS juga dirancang sebagai jejaring akses kendali bagi drone (UAV/Unmanned Aerial Vehicle). (more…)
Karena misi yang berkaitan dengan penjinakan bahan peledak tergolong dinamis, maka kebutuhan perlengkapan tim Jihandak (Penjinak Bahan Peledak) harus disesuaikan. Dan bicara perlengkapan Jihandak maka tak bisa dilepaskan dari sosok ROV (Remotely Operated Vehicle). Selain punya andalan utama ROV Defender, Satuan Jihandak Zeni TNI AD juga mengoperasikan mini ROV mungil yang tak kalah canggih. Berpenggerak roda rantai (wheel tracks), Piap Gryf mampu menyusuri lekuk medan terjal yang sulit ditembus wahana lain. (more…)
Apa yang menarik dari penampilan tim Jihandak (Penjinak Bahan Peledak), ada yang menyebut kostum awak jibom (penjinak bom) yang terbungkus pelindung tebal nan rapat bak astronot, tapi sebagian lagi merujuk pada kehadiran sang robot penjinak bom yang masuk kategori ROV (Remotely Operated Vehicle). Dan bicara tentang ROV Jihandak, saat ini yang terbilang paling canggih adalah Defender ROV buatan Allen Vanguard yang dioperasikan Kompi Zeni Jihandak TNI AD. (more…)
Di bulan Februari lalu, pimpinan TNI AL pernah mengungkapkan rencana untuk memensiunkan kapal penyapu ranjau jenis Tripartite Class, KRI Pulau Rengat 711 dan KRI Pulau Rupat 712. Jadi pertanyaan bagi banyak orang, pasalnya Tripartite Class adalah kapal penyapu ranjau andalan Satran (Satuan Kapal Ranjau) TNI AL saat ini. Memang usianya pengadiannya sudah 28 tahun, tapi secara teknologi Tripartite Class masih jauh lebih maju dan modern ketimbang kapal penyapu ranjau eks Jerman Timur, Kondor Class. (more…)
Gara-gara hamparan ladang ranjau, tak hanya gerak laju unit infanteri yang bakal terhambat, tapi elemen kavaleri pun harus berpikir dua kali untuk melintasi area yang diduga ditanami ranjau darat. Maklum yang jadi horror tak hanya ranjau anti personel, tapi juga ranjau anti tank. Menghadapi tebaran dan ancaman ranjau, di lingkup TNI AD umumnya dipasrahkan pada satuan zeni tempur (Zipur). (more…)
Sebagai kapal hidro oseanografi terbaru dan tercanggih, KRI Rigel 933 dan KRI Spica 934 dari kelas OCEA OSV190 SC WB jelas punya fitur dan fasilitas yang mumpuni. Selain keberadaan side scan sonar, kedua kapal riset bawah laut ini juga dibekali AUV (Autonomous Underwater Vehicle) Hugin 1000 dan ROV (Remotely Operated Vehicle) Ocean Modules V8. (more…)
Beberapa waktu lalu kami telah menurunkan artikel dengan judul “Super Drone TNI AD: Andalkan Tangki Bahan Bakar Cadangan dan Kendali via BTS,” dan dari beberapa komentar yang muncul dari pembaca menarik untuk dicermati, yakni terkait penggunaan menara BTS (Base Transceiver Station) seluler guna mendukung sistem kendali pada drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Apakah yang digunakan adalah jenis Open BTS yang di deploy oleh TNI? Ataukah memanfaatkan tebaran menara BTS operator seluler yang jika ditotal mencapai angka ratusan ribu. (more…)
Meski belum resmi dipinang, masing-masing matra di TNI punya andalan drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle), ada yang sudah operasional seperrti Wulung oleh Skadron Udara 51, tapi ada yang masih prototipe, seperti serial LSU (LAPAN Surveillance UAV) dan OS Waifanusa yang ‘dekat’ dengan litbang TNI AL. Lantas, bagaimana dengan TNI AD? Matra darat tentu telah merilis beberapa tipe drone, termasuk flapping wing (robot burung) dan quadcopter yang dipersenjatai. Lain dari itu, TNI AD tak ingin ketinggalan dengan merilis prototipe Super Drone, yakni jenis UAV pesawat udara propeller. (more…)
Dimulai sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014, debut drone alias UAV (Unmanned Aerial Vehicle) seolah terdongkrak lewat niatan Capres Jokowi saat itu untuk memberdayakan peran drone untuk kepentingan intai pertahanan. Dari situlah beberapa instansi yang tekait iptek kian terpacu untuk mewujudkan prototipe drone. LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) menjadi ‘salah satu’ pemain yang diperhitungkan di Tanah Air. Setelah sukses dengan proyek prototipe LSU (LAPAN Surveillance UAV)-02 yang berhasil take off dari dek kapal perang KRI Diponegoro 365. (more…)