Angkatan Darat Inggris Pensiunkan 34 Helikopter AW159 Wildcat: Peluang Emas Berburu Alutsista Bekas Berkualitas?

Kabar mengejutkan datang dari Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) yang mengumumkan rencana untuk mulai mempensiunkan armada helikopter intai tempur AW159 Wildcat milik Angkatan Darat (British Army) mulai tahun 2027. Keputusan dalam Rencana Investasi Pertahanan ini didasari oleh pergeseran doktrin militer modern, di mana peran pengintaian di garis depan dinilai lebih aman dan efisien jika diserahkan kepada sistem drone dan teknologi peperangan elektronik.
Baca juga: Siap Tempur, AW159 Wildcat AL Filipina Dipasangi Rafael Spike Datalink Antenna
Pengalaman dari konflik di Ukraina menjadi bukti kuat bahwa mengirim helikopter berawak ke wilayah musuh hanya untuk memantau target secara visual memiliki risiko yang sangat tinggi dengan biaya yang besar. Sebagai gantinya, Menteri Pertahanan Inggris Dan Jarvis menegaskan bahwa anggaran akan dialihkan untuk membangun angkatan darat yang “10 kali lebih mematikan” melalui integrasi drone intai dan drone serang canggih yang nantinya akan beroperasi mendampingi helikopter serang AH-64E Apache.
Bagi negara-negara berkembang atau yang sedang memperkuat armada penerbangan militernya, kebijakan London ini bisa menjadi angin segar dan peluang emas untuk berburu alutsista bekas pakai (secondhand) dengan performa yang masih sangat mumpuni.
Meskipun saat ini pemerintah Inggris belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana penjualan 34 unit Wildcat yang akan dipensiunkan tersebut, peluang ke arah sana tetap terbuka lebar. Pola ini mengingatkan kita pada keputusan Angkatan Udara Inggris (RAF) beberapa waktu lalu saat mempensiunkan armada pesawat angkut taktis C-130J Super Hercules yang pada akhirnya sukses dialihkan dan dijual ke beberapa negara lain, seperti Bangladesh. Mengingat usia pakai Wildcat Angkatan Darat Inggris yang relatif masih muda, unit-unit yang nantinya purna tugas dipastikan menjadi komoditas hangat di pasar alutsista global.
The British Army Air Corps will start decommissioning its 34-strong AgustaWestland AW159 Lynx Wildcat battlefield reconnaissance helicopter fleet from 2027 onwards, as it transitions to uncrewed systems for the role. pic.twitter.com/xzrrsOcxTB
— Flying Lancer Полковник Раджен Bhaduri (@LancerFlying) July 1, 2026
AW159 Wildcat sendiri merupakan pengembangan mutakhir dari keluarga helikopter legendaris Westland Super Lynx yang dirancang dan diproduksi oleh Leonardo Helicopters (sebelumnya AgustaWestland). Helikopter ini pertama kali resmi dioperasikan oleh Angkatan Darat Inggris pada Agustus 2014 setelah melalui serangkaian uji coba sejak penerbangan perdana prototipenya pada tahun 2009.
Wildcat didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan medan operasi abad ke-21 dengan mengintegrasikan struktur airframe yang diperkuat, perlindungan terhadap balistik, serta sistem avionik digital yang sepenuhnya modern. Kehadirannya di British Army bertugas mengisi peran sebagai helikopter pengintai medan tempur (battlefield reconnaissance), komando dan kendali, serta sebagai platform serang ringan berkat kemampuannya beroperasi di lingkungan yang ekstrem dan menantang.
Diluncurkan dari Helikopter AW159 Wildcat, Rudal Martlet Sukses ‘Disulap’ Jadi Rudal Udara ke Udara
Dari spesifikasi teknis dan performa, helikopter multimisi serbaguna ini ditenagai oleh sepasang mesin turboshaft LHTEC CTS800-4N yang masing-masing mampu menghasilkan daya sebesar 1.361 shp. Berkat mesin performa tinggi ini, Wildcat memiliki kecepatan maksimum hingga 291 km/jam dan jarak jangkau operasi sekitar 777 kilometer dengan kapasitas angkut maksimal (Maximum Takeoff Weight) mencapai 6.000 kg.
Selain mampu membawa hingga 6 hingga 7 personel bersenjata di dalam kabinnya, keunggulan utama Wildcat terletak pada interkoneksi sistem sensornya. Helikopter ini dilengkapi dengan perangkat sensor elektro-optik/inframerah (EO/IR) berspesifikasi tinggi, sistem penanda target laser, serta kokpit digital dengan glass cockpit terintegrasi yang memudahkan kru dalam memetakan situasi taktis di lapangan serta membagikan data target secara real-time kepada pasukan darat maupun unit artileri jarak jauh.
Meskipun varian Angkatan Darat Inggris difokuskan pada misi pengintaian dan serang darat ringan, desain dasar AW159 Wildcat bersifat modular dan fleksibel. Helikopter ini dapat dipersenjatai dengan senapan mesin gatling maupun pod roket, dan pada varian maritimnya (seperti Wildcat HMA2 milik Royal Navy) bahkan mampu mengusung rudal anti kapal Martlet dan Sea Venom serta torpedo anti kapal selam.
Fleksibilitas platform inilah yang membuat Wildcat menjadi aset bernilai tinggi di pasar sekunder. Kombinasi antara jam terbang yang diperkirakan masih panjang, sistem sensor yang modern, serta reputasi perawatan standar NATO membuat eks Wildcat Inggris ini berpotensi menjadi incaran banyak negara yang membutuhkan helikopter taktis tangguh tanpa harus membayar harga penuh untuk unit yang baru keluar dari pabrikan. (Gilang Perdana)
Related Posts
-
Pemerintah Jerman Siap Caplok 40 Persen Saham Produsen MBT Leopard KNDS
No Comments | Jun 24, 2026 -
Israel Dirikan Aerospace Service India, Perusahaan Baru untuk Tangani Produksi Medium-Range Surface-to-Air Missile (MRSAM)
1 Comment | Apr 2, 2024
-
AM-50 Sayyad – Senapan Sniper Anti Material yang Diproduksi Hamas di Bunker Bawah Tanah Gaza
No Comments | Dec 25, 2023 -
Turki Borong 12 Unit C-130J Super Hercules ‘Bekas’ dari Inggris
No Comments | Dec 2, 2024


