Jelang Kedatangan KRI Gajah Mada, Skuadron Udara 100 Bangun Simulasi Geladak untuk Latihan ‘Deck Landing Practice’

Dinamika persiapan menyambut KRI Gajah Mada, kapal induk eks-ITS Giuseppe Garibaldi asal Italia, kini semakin intensif dilakukan oleh jajaran TNI AL Menjelang rencana kedatangannya pada momen HUT TNI 5 Oktober 2026, Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal), khususnya Skuadron Udara 100, secara proaktif telah membangun media simulasi geladak kapal sebagai sarana pelatihan khusus bagi para penerbang helikopter.
Baca juga: KRI Ratulangi: Induk Semang Kapal Selam TNI AL
Pembangunan media simulasi di darat ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata kepada para penerbang mengenai karakteristik dan prosedur pendaratan di atas kapal perang. Mengingat KRI Gajah Mada memiliki profil geladak yang berbeda dengan kapal perusak atau fregat biasa, simulasi ini dibuat secara presisi menyerupai area pendaratan asli kapal induk tersebut. Hal ini krusial untuk melatih ketepatan, koordinasi, serta standar keselamatan penerbangan sebelum para penerbang benar-benar melakukan pendaratan langsung di tengah laut.
Model latihan yang dikenal dengan istilah Deck Landing Practice (DLP) atau Field Carrier Landing Practice (FCLP) ini merupakan langkah vital dalam dunia penerbangan maritim. Melalui media simulasi ini, para penerbang Skuadron Udara 100 dapat mengasah insting mereka dalam menghadapi batasan ruang pendaratan yang terbatas, yang nantinya akan menjadi tulang punggung operasional udara maritim di atas KRI Gajah Mada.

Latihan ini menjadi kian mendesak mengingat spesifikasi KRI Gajah Mada yang memiliki flight deck sepanjang 174 meter dengan kapasitas angkut total hingga 18 unit helikopter. Dengan 6 landing spots di geladak atas dan hangar bawah yang luas, para penerbang harus memiliki presisi tinggi dalam bermanuver di area pendaratan yang jauh lebih kompleks dibandingkan deck kapal perang kelas fregat atau perusak yang selama ini dioperasikan.
Sebagai kapal induk ringan (Light Aircraft Carrier), Garibaldi memiliki manajemen ruang yang sangat efisien untuk membawa unsur udara dalam jumlah signifikan. Geladak atas (Flight Deck), bergantung pada konfigurasi misi, geladak atas dapat menampung sekitar 6 hingga 8 unit helikopter (seperti AW101 atau SH-3D Sea King) dalam kondisi siap operasional atau terparkir tanpa mengganggu jalur take-off.
View this post on Instagram
Sementara geladak Bawah (hangar), kapal ini memiliki fasilitas hangar tertutup di bawah geladak terbang dengan dimensi panjang sekitar 110 meter dan lebar 15 meter. Hangar ini mampu menampung hingga 12 unit helikopter kelas sedang atau kombinasi antara pesawat tempur AV-8B Harrier II dan helikopter.
Komandan Skuadron Udara 100 menegaskan bahwa keberadaan fasilitas simulasi ini diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme dan kepercayaan diri personel. “Latihan simulasi ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesiapan serta keselamatan penerbang dalam menghadapi operasi pendaratan di kapal perang,” ujarnya.
Dengan persiapan yang matang melalui fasilitas darat ini, diharapkan seluruh unsur udara TNI AL siap memberikan performa optimal saat KRI Gajah Mada resmi memperkuat kedaulatan maritim Indonesia. (Gilang Perdana)



Nama kapalnya kayaknya bukan KRI Gajah Mada karena tradisi TNI AL kapal induk akan diberi nama sesuai kerajaan yang ada di Indonesia di masa silam seperti Majapahit, Sriwijaya, Samudera Pasai, Mataram, Demak dan lainnya.
CARACAL ber- EXCOCET hrs masuk geladak.
Akhirnya sesuai dengan ekspektasi saya, KRI Gadjah Mada akan siap menjadi pengusung angka 100/101/111 sebagai flagship sekaligus Carrier Ship bagi armada utama AL Indonesia. Jika Indonesia punya 3 armada maka seharusnya Indonesia punya 3 hingga 9 kapal induk sejenis KRI Gadjah Mada yg artinya Indonesia wajib membangun 2-8 unit lagi.