Tiga Dekade Riset Lokal, Angkatan Udara Thailand Resmikan Drone Kamikaze Buatan Dalam Negeri KB-5E

Angkatan Udara Thailand (Royal Thai Air Force/RTAF) resmi menggelar upacara penyerahan drone amunisi bersirkulasi (loitering munition) hasil kembangan dalam negeri, KB-5E, pada 30 Oktober 2026. Sistem senjata udara berjenis drone kamikaze ini dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan RTAF serta diproduksi oleh industri kedirgantaraan lokal, Thai Aviation Industries (TAI).
Secara desain dan aerodinamis, KB-5E mengusung konfigurasi sayap delta (delta-wing) yang sepintas mirip dengan drone kamikaze populer asal Iran, Shahed-136. Mengandalkan pendorong motor listrik berdaya senyap, drone ini memiliki bentang sayap 1,7 meter dengan bobot total sekitar 25 kg. KB-5E dibekali hulu ledak (warhead) seberat 5 kg serta mengusung kombinasi sistem navigasi berbasis GPS dan Inertial Navigation System (INS) untuk memandu serangan presisi hingga jarak jangkau jelajah 150 km.
Selain varian KB-5E, Thailand juga menyiapkan varian yang lebih besar, yakni KB-10G. Berbeda dengan adiknya yang ditenagai motor listrik, KB-10G mengandalkan mesin berbahan bakar bensin (gasoline engine) yang memungkinkannya mengangkut hulu ledak lebih berat berbobot 10 kg dengan jangkauan jelajah taktis yang melompat jauh hingga 500 km.
Keunggulan utama dari keluarga drone KB-Series ini terletak pada kemandirian teknologi serta efisiensi biaya pembuatannya. Pemanfaatan penggerak listrik pada KB-5E memberikan keuntungan berupa jejak akustik (suara) dan pancaran termal yang sangat rendah, sehingga amat sulit dideteksi oleh sensor pertahanan udara lawan saat mendekati sasaran. Selain itu, kombinasi pemandu GPS/INS memastikan drone tetap presisi menghantam target bernilai tinggi meski berada dalam situasi gangguan sinyal.
The Royal Thai Air Force (RTAF) held a handover ceremony for its domestically developed KB-5E loitering munition on October 30, 2026. The system was developed by the RTAF’s Research and Development Center and is produced by Thai Aviation Industries (TAI).
The KB-5E features a delta-wing design similar to the Iranian Shahed-136, with an electric motor, a wingspan of 1.7 m (5.6 ft) and a 5 kg (11 lb) warhead. It uses a combined GPS and inertial navigation system (INS) for guidance. Earlier reports list its total weight at 25 kg (55 lb) and range at approximately 150 km (93 miles).
The larger KB-10G variant is powered by a gasoline engine and carries a 10 kg (22 lb) warhead. It reportedly has a range of up to 500 km (311 miles).
According to the RTAF, the KB-5E received on October 30 will be used for training, educational purposes, capability development and demonstrations. The ceremony therefore does not necessarily indicate its entry into operational service.
— Drone Wars (@Drone_Wars_) November 7, 2026
Pihak RTAF menegaskan bahwa unit KB-5E yang diterima pada penyerahan perdana ini akan difungsikan untuk keperluan pelatihan, program edukasi doktrin tempur nirawak, pengembangan kapasitas personel, serta demonstrasi taktis. Penyerahan ini menjadi batu pijakan penting bagi kemandirian industri pertahanan Thailand sebelum nantinya sistem ini secara resmi dimasukkan ke dalam layanan operasional penuh (operational service).
Pengembangan keluarga drone kamikaze ini menegaskan strategi Thailand dalam mengadopsi taktik perang nirawak (unmanned warfare) berbiaya murah yang terbukti krusial dalam berbagai konflik modern. Dengan menggandeng TAI sebagai manufaktur lokal, RTAF tidak hanya memotong ketergantungan pada alutsista impor yang mahal, tetapi juga membuka ruang bagi integrasi sistem kendali otonom dan penguji-cobaan doktrin swarming drone di masa depan. (Bayu Pamungkas)
Thailand Jajaki Kerja Sama Drone Kamikaze LUCAS dengan AS, Bidik Produksi Lokal dan Alih Teknologi


