39 Tahun Penerbangan Perdana AW101: Dari Keunggulan Helikopter Tiga Mesin Hingga Jejak Kontroversial di Indonesia

Tepat pada hari ini, 9 Oktober, dunia kedirgantaraan mengenang momen bersejarah penerbangan perdana helikopter angkut multiguna EH101—yang kelak dikenal luas sebagai AgustaWestland AW101. Tepat 39 tahun lalu, pada 9 Oktober 1987, prototipe pertama (PP1) helikopter bermesin tiga ini sukses lepas landas untuk pertama kalinya dari fasilitas pabrikan Westland Helicopters di Yeovil, Inggris.
Baca juga: “Datang Tak Dijemput Pulang Tak Diantar,” Helikopter AW101 Telah Tiba di Indonesia
Penerbangan bersejarah selama kurang lebih 30 menit tersebut dipimpin oleh pilot uji utama (chief test pilot) Roy Moxam. Keberhasilan penerbangan perdana ini menandai lahirnya salah satu platform helikopter angkut sedang-berat paling canggih hasil kolaborasi industri pertahanan Eropa.
Pengembangan AW101 bermula dari proyek bersama antara Westland Helicopters dari Inggris dan Agusta dari Italia di bawah konsorsium EH Industries Ltd yang dibentuk pada tahun 1980. Program ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) dan Angkatan Laut Italia akan helikopter anti-kapal selam modern yang sanggup beroperasi dari atas kapal perang dalam berbagai kondisi cuaca ekstrem.
Kombinasi desain badan pesawat berbahan komposit, sistem rotor canggih, dan konfigurasi tiga mesin memberikan daya jelajah, kapasitas angkut, serta tingkat keselamatan yang belum pernah ada di kelasnya pada era tersebut.
AgustaWestland AW101 VVIP: Mengintip Calon Helikopter Kepresidenan RI Terbaru
Seiring berjalannya waktu dan penggabungan kedua perusahaan menjadi AgustaWestland (kini di bawah grup Leonardo), nama EH101 diubah menjadi AW101. Helikopter ini diproduksi dalam berbagai varian utama untuk memenuhi kebutuhan spektrum misi yang luas. Varian militer mencakup versi Anti-Submarine Warfare (ASW) dan Anti-Surface Warfare (ASuW) yang dilengkapi radar pencari dan sonar celup, varian Combat Search and Rescue (CSAR), serta varian Tactical Troop Transport (TTT) untuk pengangkut pasukan dan logistik.
Selain varian militer, AW101 juga diproduksi dalam konfigurasi sipil/komersial untuk operasional lepas pantai (offshore) serta varian VIP/VVIP untuk transportasi kepala negara.
Dari spesifikasi, AgustaWestland AW101 disokong oleh tiga mesin turboshaft—pilihan antara Rolls-Royce Turbomeca RTM322 atau General Electric CT7-8E—yang masing-masing menyuplai daya sekitar 2.100 hingga 2.500 horsepower. Penggunaan tiga mesin ini memberikan keunggulan redundansi keselamatan yang sangat tinggi, memungkinkan helikopter tetap terbang aman meskipun satu mesin mengalami kegagalan fungsi di udara.
Kontroversi Pengadaan di Indonesia
Pengadaan AW101 menjadi salah satu polemik alutsista paling disorot di Indonesia, yang bermula pada periode 2015–2017. Rencana awal pembelian varian VVIP untuk helikopter kepresidenan sempat ditolak oleh Presiden Joko Widodo demi efisiensi anggaran.
Namun, pengadaan tetap dilanjutkan oleh pihak TNI AU dengan mengubah skenario menjadi helikopter angkut berat. Dalam prosesnya, ditemukan indikasi rekayasa spesifikasi dan penggeledahan prosedur; helikopter yang didatangkan pada awal 2017 nyatanya merupakan unit bermodifikasi VVIP yang tidak memenuhi standar teknis helikopter angkut militer sebagaimana tercantum dalam kontrak. (Bayu Pamungkas)
Kunjungan Ke Akmil Magelang, Presiden Macron dan Prabowo Gunakan Helikopter Leonardo AW189 ‘P-7001’


