Gotong Rudal Anti Kapal Hipersonik Massal Blackbeard, F/A-18 Super Hornet Uji Terbang Perdana

Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) secara resmi memperlihatkan untuk pertama kalinya uji terbang rudal anti-kapal hipersonik berbiaya murah (low-cost hypersonic anti-ship missile) Blackbeard yang terpasang di bawah pylon sayap jet tempur F/A-18F Super Hornet.

Baca juga: Rudal Hipersonik dari Kedalaman: Jepang Garap Kapal Selam Baru Berpeluncur VLS

Melalui dokumentasi video dari Office of the Portfolio Acquisition Executive for Aviation (PAE-A), penampakan Super Hornet yang gotong senjata anyar ini mengonfirmasi bahwa integrasi persenjataan tersebut telah melangkah jauh dari sekadar uji muat di darat.

US Navy menargetkan rudal murah berkecepatan di atas Mach 5 yang dirancang untuk diproduksi dalam skala besar (massal) ini dapat mencapai batas operasional terbatas paling lambat pada tahun 2028 guna memberi daya pukul jarak jauh (standoff) yang cepat dan mematikan bagi armada kapal induk.

Pengembangan Blackbeard dipercayakan kepada perusahaan start-up pertahanan AS, Castelion, yang tahun ini memborong sejumlah kontrak bernilai puluhan juta dolar dari Pentagon. Salah satu kesepakatan terbaru bernilai US$43,65 juta ditujukan khusus untuk manufaktur, perakitan, dan pengiriman lot produksi pertama sebanyak 444 unit All-Up Rounds (AURs).

Arsitektur fisik Blackbeard memadukan roket pendorong (booster) ala rudal balistik pada tahap pertama untuk mengejar ketinggian dan kecepatan tinggi, sebelum melepaskan tahapan atas berupa wahana peluncur hipersonik (Hypersonic Glide Vehicle/HGV) tak bermesin atau berpendorong sekunder yang mampu meluncur menghantam sasaran hingga jarak mendekati 800 kilometer.

Dari pengamatan visual pada hidung rudal yang berbentuk baji, terdapat bukaan (aperture) miring ke bawah yang mengindikasikan penggunaan sistem pemandu Imaging Infrared (IIR). Penggunaan sensor pasif IIR memberikan keunggulan taktis yang sangat krusial karena kebal terhadap gangguan perang elektronik atau jamming frekuensi radio, serta tidak memancarkan sinyal radar yang bisa memberi peringatan dini kepada kapal musuh.

Selain itu, bodi Blackbeard yang dilengkapi sirip silang (cruciform fins) dan garis chine mempertegas aerodinamika rudal saat melaju pada kecepatan ekstrem di lapisan atmosfer.

Rudal ini dikembangkan di bawah program Multi-mission Affordable Capacity Effector (MACE) milik US Navy, yang menekankan pada dimensi fisik yang ringkas serta biaya produksi yang relatif murah.

Ukurannya yang kompak dirancang agar kelak tidak hanya bisa digotong di pylon luar Super Hornet, tetapi juga muat hingga empat unit di dalam ruang senjata internal (internal weapon bay) jet tempur siluman F-35C maupun F-35A. Fleksibilitas penyimpaan internal ini memungkinkan jet generasi kelima tetap mempertahankan profil siluman (stealth) maksimal saat melancarkan serangan kejutan berkecepatan tinggi.

Langkah pengembangan masif rudal Blackbeard juga dipicu oleh kekhawatiran Pentagon atas terkurasnya stok munisi presisi AS pasca-eskalasi konflik di Timur Tengah.

Untuk memastikan kedalaman persediaan (depth of magazine), Pentagon bahkan telah menandatangani kerangka kesepakatan untuk membeli hingga 12.000 unit Blackbeard dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Mengingat US Navy menyematkan tag wilayah tugas Central Command (CENTCOM) dan Indo-Pacific Command (INDOPACOM) pada rilis resminya, rudal hipersonik massal ini diproyeksikan menjadi kartu truf baru AS untuk mengimbangi keunggulan armada laut musuh di kawasan Pasifik. (Bayu Pamungkas)

Perdalam Kerja Sama Pertahanan, Jepang Bakal Uji Coba Rudal Hipersonik di Wilayah Australia

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *