Gantikan PRM-1 Falcon, AL AS Kembangkan NGSRS: Sistem Penyelamat Kapal Selam Modular Respons 72 Jam

Naval Sea Systems Command (NAVSEA) melalui Undersea Special Mission Systems Program Office (PMS390), resmi memulai pengembangan sistem penyelamatan kapal selam generasi terbaru yang diberi label NextGen Submarine Rescue System (NGSRS).
Program ini dirancang untuk menggantikan sistem lama Submarine Rescue Diving and Recompression System (SRDRS) yang mengandalkan kapal selam mini nirawak PRM-1 Falcon. Fokus utama dari proyek NGSRS ini adalah memangkas secara drastis bobot dan dimensi perangkat penyelamat, sehingga sanggup ditempatkan di pangkalan penerbangan serta kapal komersial mana pun di seluruh dunia guna merespons kondisi darurat kapal selam tenggelam (DISSUB) dalam waktu kurang dari 72 jam.
Poin krusial dari modernisasi ini berpusat pada indikator operasional Time to First Rescue (TTFR). Pada sistem SRDRS saat ini yang mengandalkan kapal selam mini PRM-1 Falcon, proses evakuasi global membutuhkan waktu hingga 96 jam. Keterlambatan ini umumnya dipicu oleh kerumitan logistik: sistem PRM-1 Falcon membutuhkan hingga puluhan penerbangan kargo strategis, truk pengangkut khusus, serta instalasi derek raksasa di kapal permukaan.
Melalui program NGSRS, AL AS menargetkan pemangkasan jumlah sortie pesawat kargo strategis (seperti C-17 Globemaster III atau pesawat kargo komersial) dan merancang modul penyelamat yang kompatibel diangkut oleh kran standar milik kapal dagang sipil (vessel of opportunity).
Images;
NATO Submarine Rescue System submersible is air deployable by C-17, or similar aircraft pic.twitter.com/mv9AXN6S0E
— Think Defence (@thinkdefence) July 10, 2026
Dari segi kapabilitas teknis pertempuran bawah laut, kapal selam penyelamat pada sistem ini dirancang tetap mampu menyelam hingga kedalaman 2.000 kaki (610 meter) dan menempel pada palka penyelamat (rescue seat) kapal selam target yang miring hingga sudut 45 derajat.
Yang membedakan, NGSRS mengintegrasikan sistem dekompresi tekanan tinggi langsung di dalam kendaraan penyelamat (integrated decompression). Hal ini penting karena saat kapal selam mengalami kebocoran atau kerusakan kompartemen, tekanan udara internal bisa melonjak hingga 5 Atmosfer Absolut (5 ATA). Kendaraan NGSRS dirancang sanggup menampung awak kapal selam yang terpapar tekanan ekstrem tersebut dan langsung mengawali proses dekompresi bertahap di dalam kapal mini penyelamat hingga tiba di pelabuhan.
PT BTI Indo Tekno Tandatangani Dua MoU Terkait Proyek Submarine Rescue Vehicle System (SRVS)
Efisiensi ruang dan fleksibilitas menjadi alasan utama AL AS tidak lagi fokus menambah kedalaman penyelaman, melainkan pada pemangkasan beban logistik. Berdasarkan catatan operasional sejak tahun 2000, dari sembilan insiden kecelakaan atau insiden darurat kapal selam AS, delapan di antaranya terjadi di luar perairan teritorial AS.
Fakta bahwa armada kapal selam armada beroperasi di samudra global membuat sistem penyelamat yang terlalu berat menjadi lambat dikerahkan. Dengan desain modular berstandar NATO dan sertifikasi International Association of Classification Societies, NGSRS tidak hanya mudah dimuat ke pesawat kargo sipil, tetapi juga meningkatkan interoperabilitas dengan sekutu AUKUS (Inggris dan Australia) serta mitra International Submarine Escape and Rescue Liaison Office (ISMERLO).
SRV-F Mk.3: Kapal Selam Penyelamat yang Dinanti Korps Hiu Kencana Telah Resmi Diorder
Pengembangan NGSRS ditargetkan mencapai kontrak desain penuh dalam rentang lima tahun ke depan. Sementara itu, kapabilitas operasional awal (Initial Operational Capability/IOC) dari ekosistem penyelamatan bawah laut modern AS ini diproyeksikan baru akan tercapai pada tahun 2032, dan mencapai kapabilitas operasional penuh (Full Operational Capability/FOC) pada tahun 2040.
Langkah ini menegaskan komitmen AL AS dalam menjamin keselamatan para awak kapal selamnya di tengah meningkatnya tensi operasi bawah laut di berbagai kawasan strategis dunia. (Bayu Pamungkas)


