Mengenal Sistem Elevator ITS Garibaldi: Jantung Operasional Penerbangan di KRI Gajah Mada

(Seaforce.org)

Kehadiran kapal induk eks-Angkatan Laut Italia, ITS Garibaldi (C 551)—yang kini direncanakan memperkuat TNI Angkatan Laut sebagai KRI Gajah Mada—mencatatkan sejarah baru bagi doktrin maritim Indonesia. Meski tidak dibekali fasilitas kompartemen genang (well deck) layaknya kapal pendarat amfibi LHD (Landing Helicopter Dock), kapal induk ringan ini memiliki nilai strategis berkat keberadaan dua unit sistem pengangkat wahana udara (aircraft elevator/lift) yang tertanam di geladak utamanya.

Baca juga: ITS Garibaldi Bawa Peluncur Mk29, Mengapa Rudal Aspide Tak Lagi Relevan untuk KRI Gajah Mada?

Kehadiran fasilitas elevator mekanis ini secara langsung menjadikan KRI Gajah Mada sebagai kapal perang pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang memiliki kemampuan transfer alutsista udara secara vertikal dari dalam hanggar menuju geladak penerbangan (flight deck).

Dari sisi desain dan arsitektur teknis, kedua elevator pada ITS Garibaldi mengusung konfigurasi deck-edge/deck-internal system yang dirancang secara oktagonal (segi delapan) melintang. Berbeda dengan kapal induk besar AS yang menempatkan elevator sepenuhnya menggantung di luar badan kapal (deck-edge), elevator Garibaldi ditempatkan sedikit masuk ke dalam garis geladak penerbangan, yakni satu unit di area depan island (struktur pulau) dan satu unit lagi di area belakang island.

Penempatan internal-offset ini dipilih oleh perancang Fincantieri guna menjaga stabilitas aerodinamika serta melindungi mekanisme elevator dari erosi air laut dan cuaca buruk di laut lepas. Masing-masing platform elevator memiliki dimensi panjang sekitar 18 meter dan lebar 10 meter, yang secara khusus disesuaikan dengan profil hangar kapal berukuran panjang 110 meter dan lebar 15 meter.

(Seaforce.org)

Dari spesifikasi teknis dan kemampuan angkut beban (payload capacity), sistem elevator hidrolik pada ITS Garibaldi dirancang untuk mengangkat beban kerja aman (safe working load) hingga 15 hingga 18 ton per siklus angkut. Kapasitas berat dan dimensi platform 18×10 meter ini dihitung secara presisi untuk menampung pesawat tempur V/STOL (Vertical/Short Take-Off and Landing) seperti AV-8B Harrier II+/TAV-8B (dengan posisi sayap terlipat) yang memiliki berat lepas landas maksimum sekitar 14 ton.

(Seaforce.org)

Selain pesawat tempur sayap putar, elevator ini sanggup membawa helikopter anti-kapal selam dan angkut berat sekelas AgustaWestland AW101 (EH101) yang memiliki bobot maksimal sekitar 14,6 ton, maupun helikopter sedang sekelas SH-3D Sea King atau NH90 NFH.

Pola operasi elevator pada Garibaldi sangat krusial dalam menjaga sortie rate atau intensitas peluncuran wahana udara. Dalam doktrin operasinya, elevator bergerak naik-turun menggunakan mekanisme rantai dan piston hidrolik berkecepatan tinggi yang sanggup memindahkan pesawat dari ruang hanggar bawah tanah ke geladak penerbangan hanya dalam waktu sekitar 15 hingga 20 detik.

Sistem ini dilengkapi dengan pintu penutup tahan api dan tekanan (deck hatch covers) yang akan menutup rapat geladak penerbangan saat elevator berada di posisi hangar bawah, sehingga area geladak di atasnya tetap aman untuk dilintasi atau dijadikan area pendaratan darurat.

Bagi TNI AL, keberadaan dua elevator di KRI Gajah Mada tidak hanya mempermudah mobilitas helikopter angkut medium-berat seperti NAS332 Super Puma, AS565 MBe Panther, maupun helikopter serang/transport masa depan, tetapi juga membuka fleksibilitas operasional untuk mengangkut drone/UAV tempur berukuran besar (MALE/HALE class) ke dalam hanggar terlindung.

Mekanisme elevator ini menjamin alutsista udara terlindung dari korosi garam dan cuaca ekstrem, sekaligus menegaskan lompatan kualitatif kapasitas operasional penerbangan TNI AL di kawasan regional. (Gilang Perdana)

Jelang Kedatangan KRI Gajah Mada, Skuadron Udara 100 Bangun Simulasi Geladak untuk Latihan ‘Deck Landing Practice’

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *