Pensiun Sebagai Monster Bawah Laut, Kapal Selam Kilo Class Cina Disulap Jadi Museum di Zhanjiang

Modernisasi Angkatan Laut Cina (PLAN) bergerak cepat seiring dengan pensiunnya armada kapal selam diesel-elektrik (SSK) legendaris buatan Rusia, Kilo class. Posisi armada legendaris ini secara bertahap digantikan oleh kapal selam serang konvensional buatan dalam negeri generasi baru.

Baca juga: Fakta Menarik ORP Orzel (291): Kapal Selam Satu-satunya Polandia, Kilo Class Tertua!

Menariknya, alih-alih seluruhnya dihancurkan menjadi besi tua, Cina memilih untuk melestarikan jejak sejarah modernisasi kekuatan tempur bawah airnya dengan memugar kapal-kapal selam Kilo class menjadi kapal museum (museum ship) yang dapat diakses oleh publik secara luas.

Proses konversi menjadi sarana edukasi ini diawali oleh varian paling senior, yaitu Kilo class Project 877EKM. Salah satu unit generasi awal tersebut kini telah resmi menjadi bagian dari pameran di Taman Eksplorasi Budaya Militer Zhanjiang (Zhanjiang Military Culture Expo Park) yang terletak di Kota Zhanjiang, Provinsi Guangdong. Di pangkalan museum maritim ini, interior kapal dibuka untuk umum sehingga pengunjung dapat melihat secara langsung kerumitan, kompartemen peluncuran torpedo, hingga ruang komando kapal selam yang dahulu sangat dirahasiakan.

Kini, tren pelestarian alutsista tersebut dikonfirmasi berlanjut pada varian yang lebih modern, yakni Project 636 (Improved Kilo), yang juga dipugar menjadi kapal museum untuk melengkapi koleksi monumen sejarah kekuatan maritim Cina.

Rekam jejak akuisisi Kilo class oleh Beijing berakar pada dekade 1990-an pasca-Runtuhnya Uni Soviet. Saat itu, PLAN membutuhkan armada kapal selam yang sangat senyap untuk menggantikan kapal selam uzur kelas Ming (Type 035) dan melengkapi keterbatasan kapal selam konvensional buatan lokal.

Total Cina mengimpor 12 unit kapal selam Kilo class dari Rusia yang didatangkan dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama dimulai pada tahun 1994 hingga 1995 dengan pengiriman 2 unit Project 877EKM (Yuanzheng 64 dan 65). Keberhasilan operasional varian ini mendorong Beijing menyepakati pembelian 2 unit Project 636 pada kurun 1997–1998, sebelum akhirnya mengamankan kontrak besar bernilai miliaran dolar pada tahun 2002 untuk mendatangkan 8 unit Project 636M (Improved Kilo) tambahan yang seluruhnya tuntas dikirimkan antara tahun 2004 hingga 2006.

Punya Enam “Black Hole,” Vietnam Jadi Kekuatan Kapal Selam Kedua Terbesar di Asia Tenggara

Kehadiran 12 unit Kilo class—yang julukan NATO-nya dijuluki sebagai “Black Hole” karena tingkat kebisingannya yang sangat rendah di perairan dangkal—menjadi pilar vital pertahanan laut Cina selama lebih dari dua dekade, khususnya di Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan.

Namun, memasuki era 2020-an, armada ini mulai dipensiunkan secara bertahap. Dua unit Project 877EKM pertama resmi di-dekomisi pada kurun 2021, sementara varian Project 636 awal menyulul dipensiunkan seiring dengan masifnya produksi kapal selam buatan dalam negeri seperti Type 039A/B Yuan class yang telah dilengkapi teknologi propulsi independen udara (AIP).

Keputusan merenovasi dan merombak unit Project 636 menjadi kapal museum menyajikan daya tarik edukasi maritim yang sangat tinggi. Bagi publik dan kalangan pemerhati militer, terbukanya kompartemen dalam kapal selam yang dahulu sangat dirahasiakan ini memberikan gambaran berharga mengenai lompatan teknologi bawah air Cina—dari bergantung penuh pada pasokan armada berteknologi silent buatan Rusia hingga akhirnya mampu memproduksi sendiri kapal selam siluman konvensional berkinerja tinggi. (Bayu Pamungkas)

Mengenal SAS Assegaai: Museum Kapal Selam Satu-satunya di Afrika

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *