Cina Tampilkan UCAV Stealth GJ-21: Berdaya Jelajah 2.000 Km, Siap Diluncurkan dari Katapult EMALS LHD Type 076

Pergeseran peta kekuatan militer maritim global makin nyata seiring langkah progresif Angkatan Laut Cina (PLAN) dalam menerapkan doktrin penerbangan kapal induk masa depan. Cina mulai mengenalkan kemampuan jelajah drone serang (UCAV) siluman berbasis kapal induk teranyarnya, Attack-21 (GJ-21), yang dirancang untuk beroperasi dalam doktrin penerbangan kelompok maupun formasi rapat (swarming warfare).

Baca juga: Cina Pamer Formasi Terbang MUM-T: J-20, J-16D dan UCAV Stealth (Loyal Wingman) GJ-11 Sharp Sword

Mengusung desain flying-wing tanpa ekor, drone tempur ini dibuat khusus untuk beroperasi dari geladak kapal induk generasi baru seperti Fujian (Type 003) serta kapal serbu amfibi raksasa – Landing Helicopter Dock (LHD) Type 076 Sichuan. Pengerahan drone dalam kelompok rapat di udara ini dirancang untuk memimpin gelombang serangan pertama—mulai dari pengintaian awal, penindakan target darat, hingga penetrasi wilayah lawan—tanpa harus menempatkan risiko nyawa pilot pada jajaran jet tempur berawak di gelombang awal pertempuran.

Dari spesifikasi teknis dan desain, GJ-21 dibekali serangkaian fitur pendukung operasi dari dek (shipboard integration). Guna menghemat ruang simpan di dalam hanggar kapal induk, sayap GJ-21 dapat dilipat (folding wings), dilengkapi batangan katapult (catapult bar) pada roda depan untuk sistem peluncuran elektromagnetik (EMALS), serta pancing penahan (tailhook) untuk pendaratan di geladak.

Untuk menjaga penampang radar (Radar Cross-Section/RCS) tetap amat rendah, seluruh amunisi disimpan di dalam kompartemen internal (internal weapon bay) berkapasitas muat hingga 2 ton. Dipadukan dengan teknologi fluidic thrust vectoring untuk kendali pendaratan otonom, drone ini diperkirakan memiliki radius tempur hingga 2.000 kilometer serta daya tahan terbang (endurance) melebihi 12 jam. Kombinasi ini menjadikannya pendamping ideal (loyal wingman) bagi jet tempur stealth J-35 buatan Shenyang.

Kemampuan pengerahan kawanan drone stealth GJ-21 dari kapal serbu amfibi Type 076 langsung mengancam doktrin Lightning Carrier milik US Navy yang mengandalkan jet tempur STOVL F-35B Lightning II dari kapal amfibi America atau Wasp class. Doktrin Amerika Serikat tersebut dibatasi oleh kapasitas muatan persenjataan dan jarak tempur F-35B yang berkurang akibat mekanisme lepas landas vertikal, ditambah tingginya risiko kehilangan nyawa pilot serta biaya operasional jet berawak.

Sebaliknya, Cina memilih melengkapi Type 076 dengan katapult elektromagnetik untuk meluncurkan hingga 30 unit drone stealth GJ-21 secara cepat. Dalam pengerahannya kelak, US Navy hanya mengandalkan drone tanker MQ-25 Stingray untuk perpanjangan jangkauan dan program pemburu loyal wingman CCA (Collaborative Combat Aircraft) yang masih terus dikembangkan, sementara Cina sudah melangkah lebih awal dalam menggelar drone serang stealth berkapasitas tempur masif dari atas geladak amfibi.

Drone Tanker Boeing MQ-25A Stingray Sukses Rampungkan Uji Roda Pendaratan di Udara

Doktrin pengerahan masif GJ-21 ini merevolusi konsep operasi amfibi klasik dari yang semula berupa pendaratan pantai yang berdarah (bloody beach assault) menjadi operasi penindakan jarak jauh berskala industri (non-contact, industrial-scale suppression).

Sebelum pasukan darat menyentuh garis pantai musuh, gelombang swarm drone GJ-21 berpemantul radar rendah dapat menembus sistem pertahanan udara lawan (SEAD/DEAD), menghancurkan instalasi pangkalan udara, serta melumpuhkan situs rudal anti-kapal musuh secara presisi. Kehadiran Type 076 dan GJ-21 membuktikan bahwa penerbangan kapal induk masa kini tidak lagi didominasi secara eksklusif oleh jet tempur berawak, melainkan oleh kombinasi mesin nirawak siluman yang siap mendominasi ruang udara pertempuran maritim. (Gilang Perdana)

Uji Coba LHD Type 076 Sichuan: Kapal Serbu Amfibi Cina Pertama dengan Katapult Elektromagnetik dan Drone Sayap Tetap

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *