Dari Thailand hingga Peru: Mengapa Alutsista Norinco Sering Mengalami Malfungsi di Medan Operasi?

Meski progresif dalam inovasi, industri pertahanan Cina kini tengah menghadapi sorotan tajam terkait kualitas dan keandalan produk-produknya. Sebuah penilaian dari Sam Cranny-Evans dari Calibre Defence mengungkapkan bahwa ekspor pertahanan Cina kian berada di bawah pengawasan ketat.

Baca juga: Laras Meriam MBT Thailand Norinco VT4 Meledak, Dugaan Karena Kualitas Material dan Tekanan Operasional

Hal itu terjadi seiring banyaknya operator internasional yang melaporkan kegagalan reliabilitas yang berulang serta dukungan purna jual yang lemah di berbagai lini sistem persenjataan, mulai dari platform darat, udara, hingga laut.

Analisis Cranny-Evans menggarisbawahi bahwa masalah ini bukanlah fenomena baru, melainkan catatan panjang yang telah berlangsung selama berdekade-dekade. Salah satu contoh sejarah yang paling mencolok adalah pengalaman pahit Angkatan Darat Thailand dengan Main Battle Tank (MBT) Type 69-II buatan Cina yang dikirim pada akhir 1980-an.

MBT produksi Norinco (China North Industries Group Corporation Limited) tersebut terbukti tidak dapat diandalkan dan suku cadangnya sangat sulit didapat, hingga akhirnya seluruh armada terpaksa dipensiunkan pada tahun 2004 dan dibuang ke laut sebagai terumbu karang buatan pada 2010.

Dilema MBT Thailand: Kritik Tajam Norinco VT4 Cina vs Ketangguhan T-84 Oplot-T Ukraina

Sayangnya, bayang-bayang kegagalan tersebut seolah berlanjut pada alutsista modern Cina lainnya. Di Thailand, MBT VT4 yang juga diproduksi oleh Norinco dilaporkan mengalami masalah pada integrasi sistem kontrol penembakan dan perangkat lunak yang sering mengalami gangguan (glitch), sampai kabar meledaknya laras belum lama ini.

Sementara itu, di Amerika Selatan, militer Peru menghadapi situasi yang jauh lebih pelik dengan sistem roket multi-laras MLRS Type 90B. Unit Type 90B yang dioperasikan Peru dilaporkan memiliki kinerja yang buruk, mulai dari ketidakakuratan sistem bidik hingga masalah pada komponen kendaraan pengangkutnya. Kondisi ini menjadi ironi karena Peru merupakan salah satu pelanggan setia alutsista Cina di kawasan tersebut.

Kinerja Buruk Self Propelled MLRS Norinco Type 90B ‘Bayangi’ Militer Peru, Jenis yang Sama Digunakan Korps Marinir

Masalah yang menimpa Type 90B di Peru mempertegas tiga pola kelemahan utama ekspor pertahanan Cina: dukungan logistik yang lamban, ketidaksiapan perangkat lunak dalam kondisi operasi intensif, dan terbatasnya keandalan mekanis di medan yang menantang. Kekecewaan Peru terhadap MLRS Type 90B juga memberikan catatan penting bagi negara lain yang menggunakan jenis yang sama, termasuk Indonesia di mana Korps Marinir TNI AL juga mengoperasikan sistem serupa.

Bagi banyak negara, memilih alutsista adalah keputusan strategis yang menentukan hidup dan mati. Analisis dari Calibre Defence dan laporan dari berbagai medan operasi menjadi peringatan keras bahwa dalam urusan pertahanan, reliabilitas teknis jauh lebih berharga daripada sekadar harga murah.

Kini, industri pertahanan Cina, khususnya raksasa seperti Norinco—dituntut untuk membuktikan bahwa produk mereka mampu beroperasi secara konsisten, atau mereka harus puas hanya menjadi pilihan alternatif bagi negara-negara yang benar-benar tidak memiliki pilihan lain di pasar global. (Gilang Perdana)

Instruktur Norinco Latih Awak Kanon Type 90/35mm dan Radar AF902 FCS Korps Marinir