Korea Selatan Pilih Bombardier Global 6500 Jadi Pesawat Perang Elektronik Pelumpuh Radar

Langkah Korea Selatan dalam memodernisasi kemampuan peperangan asimetrisnya memasuki babak baru yang kian progresif. Maskapai nasional sekaligus raksasa dirgantara domestik, Korean Air, baru-baru ini meresmikan pembelian dua unit pesawat bisnis (business jet) Bombardier Global 6500.
Pengadaan ini ditujukan khusus untuk menyokong program Pesawat Perang Elektronik (Electronic Warfare – EW) terbaru milik Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF). Keputusan ini sekaligus mempertegas status dan keandalan Bombardier Global 6500 di kancah militer global, menyusul tren adopsi oleh pabrikan dunia seperti Saab (Swedia) yang kini mengintegrasikan sistem radar terbang GlobalEye AEW&C teranyar mereka ke atas platform yang sama.
Dalam proyek prestisius bertajuk Block-I Electronic Warfare System Development Project senilai 1,31 miliardolar AS ini, Korean Air bersinergi erat dengan LIG Defense & Aerospace (LIG D&A)—perusahaan pertahanan yang sebelumnya dikenal sebagai LIG Nex1. Kemitraan strategis ini memadukan keahlian mendalam Korean Air dalam modifikasi struktural pesawat (aircraft modification) dengan penguasaan teknologi perang elektronik mutakhir milik LIG D&A.
Dalam pembagian perannya, LIG D&A bertindak sebagai kontraktor utama sekaligus integrator sistem yang bertanggung jawab mengembangkan muatan misi (mission payload) EW. Sementara itu, Korean Air akan mengeksekusi perombakan fisik dan integrasi sistem pada badan pesawat (airframe) Global 6500 agar siap mengemban misi militer tingkat tinggi.
🇨🇦|#DefenseIndustry#Bombardier Defense will provide two Bombardier #Global6500 aircraft for South Korea’s Electronic Warfare (#EW) program, in addition to four Global 6500 aircraft for Airborne Early Warning & Control (#AEW&C) announced in October 2025. pic.twitter.com/N0kBWWksUV
— NORDFLANK (@Nordflank) July 17, 2026
Secara taktis, armada baru ini akan difungsikan untuk menjalankan peran peperangan elektronik yang sangat spesifik, yakni sebagai platform Stand Off Jammer (SOJ). Kemampuan SOJ memungkinkannya memancarkan sinyal gangguan (jamming) berkekuatan tinggi guna mengacaukan serta melumpuhkan sistem radar dan jaringan komunikasi elektromagnetik musuh dari jarak aman, tanpa harus masuk ke dalam jangkauan payung pertahanan udara lawan.
Sesuai dengan linimasa proyek, dua unit pesawat Block I ini ditargetkan sudah dapat dikirim dan memperkuat jajaran ROKAF pada tahun 2034, disusul rencana pengadaan dua unit pesawat tambahan dengan kemampuan yang ditingkatkan pada fase Block II kelak.
South Korea will further boost its airborne EW capabilities, buying another two platforms based on the Bombardier Global 6500 bizjet. These will eventually complement the 4 Global 6500-based airborne early warning & control (AEW&C) aircraft that Seoul has already ordered pic.twitter.com/vRQVlmhAxD
— Valhalla (@ELMObrokenWings) July 14, 2026
Pilihan terhadap Global 6500 ini mencerminkan dinamika rantai pasok global di mana lini jet bisnis Bombardier telah mengalami evolusi. Sebelumnya, proyek-proyek modifikasi militer sejenis—termasuk sistem GlobalEye generasi awal milik Uni Emirat Arab (UAE) dan program pesawat jamming HAVA SOJ milik Turki—mengandalkan platform Bombardier Global 6000. Namun, seiring keputusan pabrikan asal Kanada tersebut untuk menyetop produksi seri Global 6000 demi beralih sepenuhnya ke varian yang lebih modern, industri pertahanan pun bertransformasi mengadopsi Global 6500.
Langkah itu justru membawa berkah tersendiri, sebab Global 6500 menawarkan efisiensi mesin Rolls-Royce Pearl 15 yang lebih hemat bahan bakar, desain sayap baru yang aerodinamis, serta daya jelajah yang lebih jauh untuk misi patroli berkepanjangan.
Menariknya, dominasi Bombardier Global 6500 di negeri ginseng tidak berhenti pada misi jamming saja. Pesawat komersial bermesin ganda ini juga telah dipilih sebagai platform utama untuk program Pesawat Peringatan Dini dan Kontrol Udara (Airborne Early Warning & Control – AEW&C) tahap kedua milik Korea Selatan yang bernilai fantastis mencapai US$2,26 miliar.
Untuk program AEW&C tersebut, raksasa pertahanan AS L3Harris akan memimpin konsorsium internasional yang menggandeng Bombardier, ELTA Systems (anak perusahaan Israel Aerospace Industries – IAI), serta Korean Air. Rentetan adopsi ini membuktikan bahwa tren global kini kian mantap bergeser ke arah penggunaan pesawat jet bisnis berdaya jelajah tinggi sebagai platform spesialis militer berkat efisiensi biaya operasional dan ruang kabin yang ideal untuk sistem avionik mutakhir. (Bayu Pamungkas)
Pesawat Spesialis Pengacak Radar HAVA SOJ Turki Unjuk Gigi, Duet Mematikan Pendamping E-7 Wedgetail
Related Posts
-
Uji Tambatan Tuntas, Kapal Induk Type 003 Fujian Siap Memulai Pelayaran Perdana
No Comments | Jan 4, 2024 -
Kim Jong Un Kendarai MBT Generasi Terbaru Korea Utara, Kombinasi Desain M1A2 Abrams dan T-14 Armata
No Comments | Mar 14, 2024 -
Airbus SirTAP: Drone Intai MALE Spanyol-Kolombia yang Masih Menanti Kontrak
1 Comment | May 25, 2023 -
Mengapa Indent Rudal Patriot Sangat Lama? Mengupas Kerumitan dan Waktu Produksi Varian PAC-3 MSE
No Comments | Jul 17, 2026


