Spesifikasi MH-60S Knighthawk: Helikopter dari Kapal Induk USS George H.W. Bush yang Jatuh di Laut Arab

Militer Amerika Serikat kembali menghadapi hantaman keras di kawasan Timur Tengah setelah sebuah helikopter multi-misi MH-60S Knighthawk dilaporkan jatuh dan melakukan pendaratan darurat di perairan Laut Arab. Insiden fatal yang terjadi pada 1 Juli 2026 sekitar pukul 03.30 waktu setempat ini menimpa helikopter yang tengah beroperasi di bawah komando kapal induk USS George H.W. Bush (CVN 77).

Baca juga: Pertama Kali di Palagan Iran: Helikopter Serang AH-64 Apache US Army Jatuh di Selat Hormuz

Armada Kelima Angkatan Laut AS (US Navy 5th Fleet) mengonfirmasi bahwa dari total empat awak pesawat, tiga di antaranya berhasil diselamatkan dalam kondisi stabil dan langsung dievakuasi ke atas kapal induk. Sayangnya, hingga saat ini satu kru udara lainnya masih dinyatakan hilang, memicu operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) besar-besaran yang melibatkan aset-aset tempur AS di kawasan tersebut. Pihak berwenang menyatakan bahwa penyelidikan atas penyebab insiden tengah berjalan, seraya menegaskan tidak ada indikasi awal bahwa kecelakaan dipicu oleh aksi musuh.

Peristiwa ini menjadi pukulan telak yang kian memperumit posisi militer AS di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya. Masalahnya, insiden ini terjadi di tengah atmosfer geopolitik yang sangat sensitif, tepat saat Washington dan Teheran sedang terlibat dalam negosiasi intensif untuk mengakhiri konflik di kawasan.

Terlebih lagi, jatuhnya MH-60S ini melengkapi rapor merah operasional udara AS dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, pada 9 Juni, sebuah helikopter serang AH-64 Apache Angkatan Darat AS juga dilaporkan jatuh di perairan Selat Hormuz (Teluk Oman), di mana kru pesawat berhasil dievakuasi oleh kapal drone Corsair. Rentetan kecelakaan berturut-turut ini jelas mencoreng reputasi kesiapan tempur AS, terlebih setelah Presiden Donald Trump sempat menyatakan bahwa jatuhnya Apache sebelumnya disebabkan oleh tindakan pasukan Iran.

Melihat rekam jejaknya, MH-60S yang mengalami musibah ini bukanlah helikopter angkut biasa, melainkan varian khusus dalam keluarga Seahawk yang sering dijuluki sebagai “Knighthawk”. Secara teknis, MH-60S dirancang untuk menggantikan peran helikopter CH-46 Sea Knight yang legendaris, menjadikannya platform hibrida yang unik.

Berbeda dari varian anti-kapal selam seperti MH-60R yang menggunakan basis struktur udara Seahawk murni, MH-60S mengombinasikan desain lambung angkut taktis UH-60 Blackhawk Angkatan Darat (US Army) dengan mesin, rotor, dan komponen maritim canggih khas Seahawk Angkatan Laut. Keunggulan arsitektur ini memberikan MH-60S ruang kabin yang jauh lebih luas serta pintu geser ganda di kedua sisi, sebuah fitur krusial yang tidak dimiliki oleh varian Seahawk berburu kapal selam lainnya.

Kombinasi desain tersebut membuat MH-60S Knighthawk memiliki fleksibilitas operasional yang luar biasa tinggi bagi armada Angkatan Laut AS. Ditenagai oleh dua mesin turboshaft General Electric T700-GE-401C yang tangguh, helikopter ini memiliki keunggulan dalam misi logistik vertikal (VERTREP), evakuasi medis (MEDEVAC), serta pencarian dan penyelamatan tempur (CSAR).

Perbedaan paling mencolok dari varian Seahawk lainnya adalah peran MH-60S yang sangat diandalkan dalam misi penanggulangan ranjau (AMCM) serta dukungan operasi bagi pasukan khusus Angkatan Laut (Navy SEALs). Dilengkapi dengan kokpit digital berbasis kaca (glass cockpit) terintegrasi serta kemampuan menggotong sistem persenjataan eksternal seperti rudal Hellfire dan roket berpemandu, Knighthawk sejatinya merupakan tulang punggung logistik dan pertahanan jarak dekat bagi gugus tempur kapal induk AS yang kini keandalannya tengah diuji pasca-insiden di Laut Arab. (Gilang Perdana)

Mengenal MH-60M DAP: Helikopter Serbu Canggih 160th SOAR dalam Operasi Penangkapan Nicolas Maduro

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *