Arquus Perancis Luncurkan Fenris 6×6: Ranpur Pengganti Alami AMX-10RC dengan Meriam 105mm

Produsen kendaraan militer asal Perancis, Arquus, bersama induk perusahaannya dari Belgia, John Cockerill Group, pada pameran pertahanan Eurosatory 2026 meluncurkan sebuah kendaraan tempur (ranpur) lapis baja 6×6 baru yang diberi nama Fenris.
Ranpur rodan ban seberat 26 ton ini dikembangkan dalam waktu yang tergolong sangat singkat, hanya sekitar satu tahun sejak Juli 2025, yakni guna memenuhi kebutuhan mendesak akan platform dukungan tembakan langsung (direct fire support) di garis depan. Joan Gibert, Direktur Strategi Produk dan Layanan Arquus, menegaskan bahwa Fenris diproyeksikan sebagai pengganti alami bagi AMX-10RC, ranpur pengintai lapis baja roda ban (armored reconnaissance vehicle) 6×6 buatan Nexter (kini KNDS) yang sudah berusia lebih dari 40 tahun dan sempat dikirim untuk memperkuat militer Ukraina.
Langkah Arquus menghadirkan Fenris dengan persenjataan berat ini terbilang sangat menarik jika melihat peta kekuatan kavaleri Perancis saat ini. Ketika Perancis memutuskan untuk mengganti ranpur AMX-10 RC mereka dengan ranpur baru bernama Jaguar, Paris memilih untuk menurunkan kaliber senjata utamanya menjadi meriam otomatis 40 mm saja.
Nah, Fenris hadir untuk mengisi kembali celah tersebut dengan tetap mempertahankan meriam kaliber 105 mm yang dipasang pada kubah canggih Cockerill 3105. Meriam ini memiliki kompabilitas penuh dengan seluruh jenis munisi standar NATO dan diklaim memiliki tingkat akurasi tembakan pertama (first hit probability) mencapai 95 persen pada jarak sekitar 2.000 meter.
AMX-10RC/RCR 6×6: Ranpur Roda Ban yang Menantang Duel MBT Rusia
Selain itu, meriam pada Fenris mampu menembak hingga sudut elevasi 40 derajat, yang secara drastis dapat mendongkrak jangkauan tembakannya dari jarak efektif konvensional 2 kilometer menjadi sekitar 11 kilometer. Keunggulan taktis lainnya adalah kemampuan sistem penstabil yang memungkinkan kru untuk menembakkan meriam 105 mm ini secara akurat sembari kendaraan bergerak lincah.
Selain daya pukul yang masif, desain Fenris benar-benar disesuaikan untuk menghadapi ancaman kontemporer, terutama sebaran drone intai dan drone penyerang (FPV drone) yang merajalela di Ukraina. Untuk itu, kubah Cockerill 3105 pada Fenris sudah dilengkapi dengan sistem proteksi bawaan (natively integrated protection) anti-drone, serta tingkat perlindungan lambung yang memenuhi standar NATO STANAG Level 4.
John Cockerill (Belgium) and its subsidiary Arquus (France) have unveiled their first joint armored vehicle, the Fenris.
Previously, Cockerill mainly supplied its turrets for installation on wheeled and tracked chassis developed by other manufacturers. The company is now… pic.twitter.com/oRprG2hbns— Andrei_bt (@AndreiBtvt) June 16, 2026
#Eurosatory Le Fenris, nouveau blindé des sociétés John Cockerill et Arquus, a été présenté durant le salon mondial de la défense pic.twitter.com/wXOlqiQNXA
— mibosredon (@mibosredon) June 22, 2026
Dari sektor dapur pacu, Arquus mengembangkan sasis khusus 6×6 yang ditenagai oleh mesin bertenaga 500 tenaga kuda (Hp) yang kuat namun memiliki tingkat kebisingan yang sangat rendah. Keunggulan mobilitas ini kian disempurnakan lewat adopsi sistem suspensi aktif (active suspension) yang memungkinkan pengemudi mengubah ketinggian kendaraan dari tanah (ground clearance) sekaligus mengatur tingkat kemiringan (pitch) sasis.
Fitur suspensi pintar tersebut tidak hanya membantu Fenris melompati rintangan medan berat dengan mudah, tetapi juga meningkatkan kemampuan bertahan hidup karena siluet kendaraan dapat diceperkan hingga sekecil mungkin agar menyatu dengan posisi pengamatan atau persembunyian saat menembak.
Cockeril 3105 adalah turret berdiameter 105 mm, yg telah diintegrasikan ke dalam kendaraan militer berikut:
> Harimau (Kaplan) MT: Indonesia – Turki
> Leopard 1: paket upgrade utk Ukraina
> Kendaraan tempur Fenris 6×6 dari Arquus
> K21-105: prototipe tank ringan Korea Selatan pic.twitter.com/l5mIkBclau— Military Channel (@AntoniusWibow10) June 17, 2026
Terlepas dari spesifikasinya yang gahar, aspek paling mengejutkan dari Fenris ini adalah fleksibilitas logistik strategis dan kecepatan produksinya. Frank Jansens, Direktur Jenderal Cockerill Weapon Systems, mengungkapkan bahwa Fenris saat ini menjadi satu-satunya ranpur pengusung meriam 105 mm yang dirancang agar dapat diangkut lewat udara (airlifted) menggunakan pesawat angkut militer sekelas Airbus A400M Atlas.
Meski masih harus menjalani beberapa rangkaian uji coba lanjutan, pihak John Cockerill Group menyatakan kesiapan mereka untuk memproduksi ranpur ini secara massal dalam waktu cepat. Jika ada negara sekutu yang mengajukan pesanan darurat atau kebutuhan operasional yang mendesak (urgent operational requirement), satu unit penuh Fenris 6×6 siap dikirim dalam kurun waktu 12 bulan saja, sementara untuk masa tunggu pemesanan jalur reguler berkisar di angka 16 bulan. (Bayu Pamungkas)
Badak 6×6: Generasi Armoured Fire Support Vehicle Terbaru PT Pindad


