Kerja sama antara Airbus Defence and Space dan Saab telah menandai langkah maju yang signifikan dalam modernisasi kemampuan pertahanan udara Eropa. Keputusan Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) untuk memilih sistem Arexis Electronic Warfare (EW) dari Saab untuk melengkapi Eurofighter Typhoon mereka bertujuan untuk menciptakan varian khusus: Eurofighter EK (Elektronischer Kampf / Electronic Combat). Proyek ambisius ini dirancang untuk memastikan Eurofighter tetap relevan di medan pertempuran modern dan, yang paling penting, mengisi kekosongan kapabilitas kritis yang akan ditinggalkan oleh pensiunnya armada Tornado ECR mulai tahun 2030.
Kecepatan Mach 2.83—hampir tiga kali kecepatan suara—merupakan ambang batas yang sangat jarang dicapai dalam dunia penerbangan tempur. Batas ini melampaui kemampuan sebagian besar jet tempur modern yang kecepatan maksimumnya umumnya berhenti di kisaran Mach 2.2.
Dengan segudang poin plus yang dimiliki, The Black Widow II atau Northrop YF-23 digadang-gadang akan menjadi suksesor potensial untuk menggantikan F-15 Eagle milik Angkatan Udara Amerika Serikat yang sudah beroperasi sejak tahun 1970-an. Namun di tengah perjalanannya, pesawat tempur kursi tunggal ini mesti bertekuk lutut kepada kompetitornya pada program US Air Force’s Advanced Tactical Fighter (ATF), Lockheed Martin F-22 Raptor. (more…)
Ibarat pepatah, “Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak,” pada Minggu, 15 Maret 2015, untuk kesekian kali, TNI AU mengalami total lost pada dua unit pesawat latih. Musibah ini terjadi saat latihan akrobat tim aerobatik Jupiter dalam rangka persiapan acara LIMA (Langkawi International Maritime & Aerospace) Exhibition. Kedua pesawat kehilangan kendali setelah saling menyerempet saat latihan pada pukul 14.00 waktu setempat. (more…)
Aksi KC-130B Hercules TNI AU saat akan “menyusui” Sukhoi
Daya jelajah pada pesawat tempur menjadi faktor penting dalam suatu operasi militer, terutama bila berbicara pada tahapan penyerbuan ke target sasaran yang jaraknya cukup jauh. Didasari beberapa pertimbangan, seperti kerahasiaan dan meningkatkan unsur pendadakan, banyak negara memilih cara air refuelling (pengisian bahan bakar di udara) untuk meningkatkan endurance serta daya jelajah pesawat tempurnya.
Pasca pecah kongsi antara Indonesia dan Uni Soviet di tahun 1966, membawa implikasi pelik bagi konfigurasi alutsista di Tanah Air. Khususnya di lingkungan TNI AU, hampir semua alutsista asal Uni Soviet dan Eropa Timur harus di grounded lantaran ketiadaan pasokan suku cadang. Kalaupun ada yang masih bertahan hingga tahun 70-an, seperti jet tempur MiG-21 dan pembom Tu-16, tak lain hanya mengandalkan pola kanibalisasi suku cadang. (more…)
Senjata yang satu ini belum termasuk produk dengan teknologi tinggi, terutama untuk kelas alutsista (alat utama sistem senjata). Justru yang menjadikannya populer karena senjata berjenis bom ini diadopsi sebagai andalan untuk misi serang darat jet tempur Sukhoi Su-27/Su-30 TNI AU. (more…)
Bila dicermati, sebelum tahun 1994, kekuatan armada kapal perang TNI AL mempunyai titik rawan dalam segmen senjata penangkis serangan udara. Pasalnya, sebagian besar elemen sista (sistem senjata) yang digunakan masih dioperasikan secara manual, meski pun dalam operasinya awak diberi panduan tembakan lewat radar. Memang pada faktanya mulai tahun 80-an ada fregat kelas Van Speijk yang dilengkapi meriam reaksi cepat OTO Melara kaliber 76mm yang dioperasikan secara remote. (more…)