Su-27 Flanker : Jagoan Dogfight dari Makassar

Su-27 dan Su-30 Flanker

Su-27 dan Su-30 Flanker

Sekitar sepuluh tahun silam, satu delegasi Indonesia yang dipimpin Menko Ekuin Ginanjar Kartasasmita mendarat di Moscow, ibukota Rusia. Tujuan mereka cuma satu, menyambangi pusat produksi jet tempur milik Rusia, khususnya pabrik Mikoyan-Gurevich yang memproduksi jet-jet tempur MiG dan Sukhoi OKB, yang melahirkan pesawat-pesawat perang berinisial Su.

Ginanjar yang pensiunan jenderal bintang tiga (Marsekal Madya) TNI-AU, mengemban tugas dari Presiden Soeharto, memilih jet tempur terbaik untuk memperkuat jajaran angkatan udara Indonesia. Maklum, pesawat tempur TNI-AU yang ada sudah banyak yang usang, seperti A4-SkyHawk, OV-10 Bronco. Sementara pesawat yang relatif modern semacam F-16 Fighting Falcon dan F-5E Tiger sebagian besar harus ngendon di darat gara-gara embargo senjata yang diberlakukan Amerika.

Ketika itu pemerintah AS memang memberlakukan embargo senjata kepada Indonesia, yang dianggap kurang memperhatikan HAM dan proses demokrasi. Makanya, rencana awal membeli sejumlah F-16 terpaksa batal, karena senat AS tak memberi ijin. Jangankan membeli pesawat baru, pasokan suku cadang pun dihentikan. Itu yang membuat jet-jet buatan Amerika itu tak bisa terbang.

Kokpit Flanker

Kokpit Flanker

Karena desakan kebutuhan, maka Indonesia mencari alternatif lain. Salah satunya adalah Rusia. Negeri yang dahulu bernama Uni Soviet ini juga punya banyak stok pesawat tempur mutakhir, tak kalah dengan produk blok barat. Karena memang diciptakan untuk menandingi peralatan perang NATO, dalam konteks lomba senjata di era perang dingin.

Setelah timbang sana timbang sini, pilihan dijatuhkan pada Su-27, pesawat tempur multi guna mutakhir yang menjadi andalan angkatan udara Rusia. Sebenarnya ada alternatif lain, seperti Mirage 2000 buatan Perancis, atau JAS Grippen buatan Swedia. Tapi pesawat buatan Eropa ini harganya mahal, lagipula agak sulit membelinya di tengah tekanan AS, yang merupakan sekutu Perancis dan Swedia ini. Sementara Sukhoi lebih murah. Bahkan setelah nego, pesawat-pesawat canggih itu bisa dibayar sebagian besar dengan sembako (barter).

Dari Rusia sendiri pilihan sebenarnya ada dua, MiG-29 Fulcrum dan Su-27 Sukhoi. Dua pabrikan itulah yang dikunjungi Ginanjar dan tim. Seorang rekan wartawan yang menyertai rombongan Ginanjar menggambarkan, pusat produksi MiG sepintas lalu tak beda dengan bengkel mobil. Sulit membayangkan bahwa di sanalah jet-jet tempur mutakhir dilahirkan. Sementara pabrik Sukhoi, kata dia, mendinganlah.

Su-30 Flanker skadron udara 11

Su-30 Flanker skadron udara 11

Tapi jelas bukan soal kondisi pabrik yang jadi pertimbangan, kenapa akhirnya Indonesia memilih Sukhoi. Yang jelas pula, pesanan pertama sebanyak 12 unit Su-27SK dan Su-27MK lengkap dengan persenjataannya itu, tak terealisasi gara-gara Soeharto keburu lengser. Jet-jet tempur berparuh bengkok ini baru hadir pada tahun 2008, dua Su-27SK dan dua Su-27MK, seiring pemesanan ulang. Dilanjutkan dengan pemesanan tiga Su-27MK2 dan tiga Su-27SKM, untuk melengkapi kekuatan satu skadron Flanker, yang berbasis di Makassar.

Frontline Fighter
Sejarah Su-27 diawali pada tahun 1969. Ketika itu, Uni Soviet yang terlibat perang dingin dengan AS, mengendus bahwa rivalnya itu tengah mengembangkan jet tempur mutakhir. Proyek yang dinamakan Fighter Experimental Design itu digarap oleh pabrikan McDonnel Douglas. Misinya adalah melahirkan jet tempur serba bisa, sadis pada duel udara, ganas sebagai pencegat, dan trengginas untuk mendukung serangan darat. Dari proyek itulah kelak muncul jet tempur jempolan angkatan udara AS, F-15 Eagle.

Mengantisipasi hal itu, Soviet segera membentuk program PFI (perspektivnyi frontovoy istrebitel, Advanced Frontline Fighter), program pengembangan pesawat untuk menandingi jet tempur baru Amerika. Dalam perjalanannya, proyek ini dipecah dua, dengan pertimbangan efisiensi biaya. Yang satu menjadi LPFI (Lyogkyi PFI, atau Lightweight PFI), yang di kemudian hari melahirkan jet tempur taktis jarak pendek MiG-29 Fulcrum. Satunya lagi adalah TPFI (Tyazholyi PFI/Heavy PFI). Untuk kategori frontline fighter kelas berat itu, dipercayakan kepada Sukhoi OKB (Biro Desain Sukhoi), yang kelak berhasil melahirkan Su-27 berikut varian-variannya.

Prototipe jet ini pertama terbang pada Mei 1977. Tentu saja kemunculannya sangat dirahasiakan. Namun, tetap saja tak luput dari pengintaian satelit mata-mata AS, ketika terbang di Zhukovsky Flight Test Center, yang berada di dekat kota Ramenskoe. Pihak AS yang memberi kode RAM-K (diambil dari Ramenskoe) untuk pesawat prototipe ini, menggambarkan bahwa jet tempur tersebut memiliki sayap delta yang lebar, bermesin dua, sirip tegak ganda. Sepintas mirip dengan F-14 Tomcat milik AS. Belakangan, prototipe dengan kode T-10 ini dijuluki “Flanker-A”.

Su-30 AU Rusia

Su-30 AU Rusia

Prosesnya menuju produksi massal agak kurang mulus. Satu T-10 hancur gara-gara kecelakaan pada saat uji terbang, pada Mei 78. Sukhoi OKB lantas mendesain ulang, memperbaiki kelemahan yang ada, dan meluncurkan T-10S, prototipe berikutnya. Itupun masih kurang sempurna, menyusul kecelakaan pada uji terbang di bulan Desember 1981, beberapa bulan setelah penerbangan perdananya.

Baru setelah mengalami sejumlah penyempurnaan, SU-27 mulai masuk produksi massal pada 1982 dan resmi masuk jajaran angkatan udara Soviet pada tahun 1984. Su-27 generasi pertama, yang dijuluki “Flanker-B” oleh NATO ini, disalurkan ke departemen pertahanan udara (PVO), sebagai skadron pencegat (interceptor), menggantikan jet-jet lawas semacam Sukhoi Su-15 dan Tupolev TU-28. Sebagian lagi dimasukkan dalam jajaran angkatan udara Soviet (VVS). Meski dirancang sebagai pesawat serba guna, angkatan udara memilih memfungsikan jet tempur mutakhir ini untuk tugas membunuh armada tanker udara dan AWACS blok barat. Petinggi angkatan udara Soviet ketika itu melihat, AWACS dan pesawat tanker adalah aset vital bagi kesuksesan operasi udara blok barat. Dengan mematikan dua aset maha penting itu, dijamin skadron penempur barat tak bakal banyak berkutik.

Penempur Revolusioner
Boleh dibilang Flanker adalah salah satu masterpiece industri pesawat tempur Rusia. Dirancang sebagai pesawat serba bisa, ganas sebagai pencegat (interceptor), trengginas untuk duel udara (fighter), dan mumpuni untuk mendukung serangan darat (air support/attacker). Mampu terbang di segala cuaca, bahkan menembus badai sekalipun. Tetap garang meski diterbangkan di udara kutub yang beku, dan tetap handal saat dioperasikan di suhu lembab dan panas wilayah tropis.

Tak seperti jet-jet tempur Soviet sebelumnya yang umumnya tampak kuno dan kaku, Flanker sudah memiliki bentuk futuristik dan modern. Sudah pula menerapkan teknologi fly by wire dengan kokpit digital. Bodinya sungguh streamline, meski berukuran besar untuk sebuah fighter. Menggunakan sirip tegak ganda, dan sayap luas mirip sayap delta –namun bukan sayap delta. Body Flanker terbuat dari titanium dan aluminium alloy berkekuatan tinggi, sehingga menghasilkan pesawat yang seringan kaleng namun sekokoh baja.

Mesinnya sendiri menggunakan dua Lyulka Saturn AL-31-F Turbofan, yang masing-masing memiliki tenaga dorong 12.550 kg. Mesin ini didesain dan dibuat oleh Lyulka Engine Design Bureau (NPO Saturn). Lubang air intake yang berada di bagian bawah, memiliki jarak lumayan lebar antara satu dengan yang lainnya. Tujuannya, selain alasan faktor safety, juga menambah luas permukaan untuk daya angkat pesawat. Selain, ruang antara dua mesin itu bisa dipakai untuk menggendong persenjataan.

Lubang air intake dilindungi semacam kisi-kisi, untuk mencegah debu dan partikel lain masuk ke mesin. Terutama saat take off dan landing. Sementara lubang sembur jetnya, menggunakan konsep thrust vectoring. Teknologi revolusioner ini memungkinkan arah semburan jet bisa diatur, sesuai dengan pergerakan pesawat. Itu yang membuat Flanker punya kemampuan hebat dalam manuver. Konsep ini kemudian pernah dicoba ditiru Amerika, namun tak sesukses pesaingnya dari Rusia itu.

Karena itulah, Flanker mampu menggendong arsenal dengan total berat 6000 kg. Termasuk di antaranya, 10 misil udara ke udara (AA), yang terdiri dari misil jarak menengah dengan semi active radar homing jenis R-27R1 (NATO menyebutnya AA-10A Alamo-A), misil AA jenis R-27-T1 (AA-10B Alamo-B) yang punya jangkauan 500 m hingga 60 km dan dipandu dengan infrared, serta R-73E (AA-11 Archer) yang berguna untuk pertempuran jarak dekat berpanduan infrared, dan mampu menerkam musuh dari jarak 300 m hingga 20 km.

su-30mk-asia-users

Alat gebuk lainnya adalah rudal udara ke darat, serta aneka bom freefall seberat 100kg, 250 kg, dan 500 kg, bom cluster (25 kg – 500 kg) dan roket C-8, C-13, dan C-25. Plus, canon 30 mm jenis Gsh-301 yang mampu memuntahkan peluru 150 butir per putaran serta jarak jangkau sejauh jangkauan misil jarak pendek.

Sistem pembidian dan penguncian target terintegrasi dengan helm penerbang. Kaca helm mampu menampilkan display layar bidik, dengan sistem look down shot down. Jadi, pilot cukup menoleh ke sasaran, dan sistem radarnya akan mengunci sasaran. Tinggal tekan pelatuk, maka misil Alamo atau Archernya akan melesat mengejar sasaran. Hebatnya lagi, Flanker mampu mengunci sepuluh sasaran sekaligus.

Itu bisa dilakukan karena Flanker didukung dengan sistem radar Phazotron N001 Zhuk coherent pulse doppler radar. Jangkauan radarnya luar biasa, mampu mencium dan melacak target seluas 3 meter persegi yang berada 100 km di depan pesawat, dan 40 km di belakang pesawat. Su-27 menggunakan sistem pembidik infrared search and track (IRST), yang ditempatkan di bagian depan kokpit. Sistem ini terintegrasi dengan sistem laser range finder. Sistem ini bisa digabungkan dengan sistem radar, dan bisa pula bekerja terpisah, apabila pilot hendak melakukan serangan diam-diam (stealth attack).

Sementara untuk menghindari dari bokongan lawan, Su-27 punya perlengkapan countermeasure elektronik, yang mampu memberi peringatan kepada pilot, baik secara individual maupun untuk gugus terbang. Sistem peringatan ini terdiri dari radar peringatan, chaff dan infrared decoy –keduanya perangkat pengalih kejaran misil, dan multi-mode jammer aktif, yang ditempatkan di wingtip.

Sebagai pesawat serba guna, Flanker bisa melejit dengan kecepatan 2.500 km per jam (mach 2,35) pada ketinggian jelajah. Kemampuan menanjaknya 325 meter per detik, atau 64 ribu kaki per menit. Flanker sudah mampu mencapai ketinggian terbang maksimal (18,5 km) dalam waktu kurang dari semenit.

Patukan Cobra
Tapi bukan itu saja yang membuat blok barat ngeri terhadap kemunculan Flanker. Keunggulan utamanya adalah kemampuan manuver yang sangat tinggi, paling tinggi dibanding jet-jet tempur yang pernah ada. Bahkan disebut-sebut sebagai pesawat tempur tak tertandingi untuk urusan tarung udara (dog fight).

Manuver Cobra Pugachev

Manuver Cobra Pugachev

Bagaimana tidak, Flanker mampu membuat belokan tajam dengan radius sangat kecil. Dengan mudah melakukan loop (gerakan lingkaran ke atas) dengan radius yang nyaris nol. Pilot bisa dengan enaknya mengendalikan dan meliuk-liukkan pesawat meski dalam kecepatan rendah dan dalam ketinggian rendah. Manuver akrobat semacam Immelman dan split-S dilakukan nyaris tanpa radius putar.

Dan yang paling spektakuler adalah manuver pagutan cobra, atau Cobra Pugachev. Manuver ini kira-kira bisa dijelaskan begini: Pesawat melaju datar, lalu dengan tetap bergerak datar, moncong bengkoknya mulai mendongak, dan terus mendongak hingga sudut 120 derajat (seperti menengadah). Setelah beberapa saat, moncongnya kembali ke posisi awal. Mirip dengan gerakan ular kobra yang siap mematuk. Manuver luar biasa yang diperkenalkan oleh Viktor Pugachev, pilot uji Sukhoi OKB, memberikan sudut serang (angle of attack) sangat besar, yang membuat pesawat lawan hanya punya kemungkinan selamat 1% saja.

Di tangan pilot trampil, Flanker juga bisa digenjot mendaki tegak lurus, lantas pada puncaknya, pesawat seakan-akan berhenti dan mengambang di angkasa. Detik berikutnya, pesawat seperti jatuh (stall), padahal dengan satu gerakan ringan, pesawat sudah kembali ke posisi normal. Kemampuan hebat itu, didapat dari rancangan lubang sembur jet yang dinamakan thrust vectoring. Lubang sembur Flanker bisa bergerak-gerak, mengikuti arah gerakan pesawat. Ditambah dengan rancang aerodinamika yang kompak, membuat Flanker mampu menari-nari di angkasa dengan enteng.

Combat Proven?
Kemampuan manuver yang super hebat itu, di satu sisi memang mengundang decak kagum dan membuat miris kompetitornya. Meskipun di lain pihak, terutama dari kalangan pilot Amerika, menyebut kemampuan manuver seperti itu tak banyak guna di era perang udara modern, yang lebih mengandalkan serangan jarak jauh lewat rudal yang makin akurat mengejar target. Sederhananya: “Silahkan saja Anda meliuk-liuk, toh kami masih bisa mengunci dan menembak Anda dari jauh.”

Pada kasus itu memang membuktikan perbedaan filosofi tarung udara antara blok barat dan Rusia. Pihak Barat, yang lebih mementingkan keamanan dan keselamatan pilot, cenderung mengembangkan pesawat-pesawat yang punya kemampuan mendeteksi, mengunci dan menembak sasaran dari jarak sangat jauh (long range), plus perangkat pengacau elektronik (jamming). Ini untuk mendukung taktik hit and run, atau istilahnya “Fire and Forget”, lepaskan rudal dan biarkan rudal yang mencari sasaran, sementara pilot langsung cikar kanan untuk menghindari dogfight. Sementara Rusia, justru mengembangkan jet-jet yang mampu bertempur jarak dekat. Flanker dan turunannya adalah contoh bagus bagi filosofi ini.

Su-30 AU India dengan beragam rudal udara ke udara

Su-30 AU India dengan beragam rudal udara ke udara

Meski diklaim sebagai petarung udara terbaik saat ini, pada kenyataanya Flanker belum pernah teruji pada medan pertempuran sesungguhnya. Beda dengan kompetitornya, F-15, yang sudah merasai sejumlah kancah tempur. Dan belum pernah kejadian juga Flanker terlibat adu jago sesungguhnya dengan jet-jet saingan dari blok barat.
Duel udara antara Flanker dengan jet-jet NATO semacam F-15 Eagle baru sebatas dilangsungkan di simulator. Pada beberapa simulasi dogfight yang melibatkan Flanker, jet andalan Rusia itu bisa dengan mudah mengungguli lawan-lawannya.

Namun begitu, tercatat Flanker pernah terjun pula di peperangan, meski dalam skala kecil. Pada Februari 1999, skadron Su-27 milik Ethiopia dilaporkan terlibat bentrok dengan kelompok MiG-29 milik Eritrea. Pada insiden itu, lima MiG-29 berhasil dirontokkan Flanker. Pada November 2000, sebuah Flanker milik angkatan udara Angola, ditembak jatuh oleh misil SA-14 darat ke udara yang ditembakkan pasukan UNITA. Yang teranyar adalah keterlibatan Flanker dari angatan udara Rusia dalam perang di Ossetia Selatan pada 2008. Flanker diterjunkan untuk misi menguasai wilayah udara Tskhinvalli, ibukota Ossetia Selatan. Yang jelas, dalam aksi-aksi tempur tersebut, Flanker memang tak berhadapan dengan lawan sepadan.

e8e3db0809aa3e4d2de9bb27fcf3ee8e

Pilihan Tepat

Buat Indonesia, Flanker adalah pilihan tepat. Secara teknis, Flanker paling pas untuk melakukan misi patroli udara untuk mengcover wilayah Indonesia yang terbentang mencapai 5000 km ini. Jet canggih ini mampu menempuh jarak tempur 3.000 km, tanpa perlu pengisian bahan bakar di udara. Juga cocok untuk digunakan mencegat penyusupan pesawat musuh (interceptor), dengan kemampuan lepas landas dan climbing rate yang fantastis.

Faktor rendahnya biaya operasi serta harganya yang relatif murah dibanding F-16 sekalipun, makin membuat Flanker pilihan ideal untuk memperkuat skadron udara Indonesia.Apalagi, pemerintah Rusia tak keberatan bila jet canggih ini dibayar sebagiannya dengan sembako. Dan tak ada embel-embel embargo pula. Saat ini Indonesia suah memiliki tujuh dari rencana sepuluh unit Flanker, yang terdiri dari dua varian. Yakni, Su-27SK berkursi tunggal dan Su-30MK yang berkursi ganda (bisa digunakan sebagai pesawat latih). (Aulia Hs)

24 responses to “Su-27 Flanker : Jagoan Dogfight dari Makassar

  1. keren……..

    king

    Suka

  2. Bravo flanker, Fuck F 16

    Suka

  3. keren abis,apalagi klo fullset.semestinya jgn 10 tp 100 unit.

    Suka

    • Dalam perang modern, keunggulan teknologi udara banyak mempengaruhi jalannya perperangan. Sukhoi sangat ideal untuk indonesia, karena jarak jelajahnya, sayangnya kemampuan Sukhoi 27 SK & 30 MK Indonesia sepertinya dibawah kemampuan Sukhoi 30 MKMs Malaysia.
      notes: versi tercanggih Sukhoi dan diproduksi massal sampai saat ini ada SU 30 MKI milik India.

      Suka

  4. ” sayang utk menjaga wilayah yg begitu luas cuman 10 su padahal di indonesia banyak yg mampu beli mobil harga milyaran… kan keamanan wilayah merupakan kunci utama kesetabilan nasional negara kita. kalo negara kita aman ,” bukan kah lebih menguntungkan pengusaha dan konglomerat karena banyak investasi dari luar di negeri Indonesia ini..!

    Suka

    • Setuju!! Daripada ngongkosin anggota dewan terhormat dgn mobil2 mewah, serta petinggi2 dgn mobil mewah, lebih baik dananya dipake buat ngongkosin alutsista yang lebih layak..

      Suka

      • saya juga setuju dengan Pak Fiqar… Dephan ngakunya anggaran serba terbatas untuk beli alutsista, tapi kenapa mobil para petinggi TNI saban tahun harus selalu gonta ganti dengan model terbaru yang pastinya mahal.. aneh

        Suka

      • I Love Indonesia

        setuju!! ngapain kasih mobil mewah utk anggota dewan?kasih aja motor bebek!!selain cepat,bisa nyelinap waktu macet,murah,irit lagi!!trus dananya utk beli sukhoi lagi….biar nyaingin jumlah yang dimiliki negeri jiran..biarin aja mobil anggota dewan mereka lebih bagus dari kita,tapi kalo soal alutsista,kita menang jauh dari mereka!!!

        Suka

  5. Bener banget brow, patut di pertanyakan akhlak & moral serta nasionalisme para petinggi TNI serta pejabat tinggi negara yg lain….

    Suka

  6. Saya Saya mah mau, kita itu punya SU-34, SU-35, SU-37, MiG-34 dan MiG-35 Masing2 Pesawat Tempur kita kira2 3 Sukradon tiap tipe Pesawat Tempur Sukrdon jumlahnya 12 jadi jumlahnya kita punya 12 x 15 Sukradon= 180 Buah Pesawat Tempur. AMMMIIINNN…..

    Suka

  7. katanya sih tiap anggota dewan akan ada tambahan gaji 200 juta ih malu2in tuh anggota dewan rapat ngga ada, kalao datang sih cuma 5 D Datang, Duduk, Dengkur dan Duit. Cobah aja 200 juta x 1500 ini di ambil kecilnya aja. 200 juta x 1500 orang = 30.00000000000 coba Kalao kita belikan Pesawat Heli Ke-IPTN terus beli Tank Panser dari PT.PINDAD, dan beli Tang Ampibi dari Rusia. Berapa yunit tuh. Militer kita meminta belaikasihan negara lain, Kasihan tapi TNI kita tetap bersemangat dalam menjalankan tugasnya. tapi anggota Dewan yang terhormat berkemulut dengan kemewahan tak tahu malu.

    Suka

    • I Love Indonesia

      yaudah,mobil mewah mereka dikasih buat yang rajin,yang males dan bermasalah dirusuh langganan ojek aja tiap ke senayan.yang tidur tampolin aja,yang bolos keluarin aja……
      masa kedisipilnan mereka yang gajinya gede kalah ama prajurit yang gajinya pas pasan?seharusnya yang gajinya lumayan adalah prajurit TNI,POLRI,dan PNS.coba gue nanya,mereka ada apel pagi gak kayak 3 yang gue sebutin tadi???

      Suka

  8. TNI AU MESTINYA PUNYA RENCANA STRATEGIS MASA DATANG MISAL 5,10,ATO SAMPE 25 TAHUN PESAWAT APA SAJA YG BS DIMILIKI DG MELIHAT SITUASI NEGARA SEKITAR. PROYEKSI TSB SANGAT PENTING MUNGKIN BIN BS DILIBATKAN JUGA JD PESAWAT CANGGIH TSB SBG EKSEKUTOR SAJA SDGKAN YG BEKERJA SETIAP SAAT ADALAH INTELIJEN

    Suka

    • soekarnoismLEFT

      lha tempo hari menhan kan udah bilang akan ada penyediaan 180 pesawat tempur (sukhoi doang apa ada merk laen yah? trus lengkap kagak yak persenjataannya ?) secara bertahap trus ada angin surga mo upgrade f-16 jadi blok 50/51/52(manthaapp dah kalo bener kejadian) hawk rencana juga mo diupgrade,trus ada kerja sama riset KFX PT DI dengan kroya,yang paling baru tiongkok mo kerja sama militer (jf-17 or j-10 ?),kapal selam rusia dan kroya paling getol nawarin..

      Suka

  9. soekarnoismLEFT

    harus ada public pressure yang terus menerus kepada pemerintah dan anggota HEWAN agar alutsista AURI (ALRI juga !) di perbanyak dan dipermodern sebagai perbandingan kita lihat arsenal jet tempur, dari info WIKIpedia negeri jiran MALONsia aja punya 71 pesawat tempur: SU-30 MKM,F/A-18,MIG-29 N,F-5E,HAWK mk 208 ! bandingkan dengan kita: F-16 blok 15 OCU cuman 10 ekor,SU-27/30 10 (total 16),F-5E 16 ekor,HAWK 209 29 total 65 EKOR ! coba lihat variasi jet tempur MALON disitu ada F/A-18 dan MIG-29 N !…suka tidak suka MALON adalah ancaman bagi kita begitupun dengan MALON mereka masih menganggap KITA sebagai ancaman oleh karena itu sedia payung sebelum hujan, kedepannya konflik indo dan malon akan semakin meruncing khususnya perebutan sumber daya alam (blok ambalat dkk) mengapa ? kekayaan alam MALON sudah hampir habis tereksploitasi dan kondisi ekonomi mereka terus menurun,parawisata mereka juga prospeknya semakin suram dimana dunia internasional mengetahui bahwa mereka MEMBAJAK budaya kita dan diklaim milik mereka…

    Suka

  10. KAMI KELUARGA PAN PONDOK KARYA PONDOK AREN TANGSEL,MENDUKUNG AGAR FRAKSI PAN – MENHAN-TNI.AU MENAMBAH JENIS SU.27 DAN SU.30 MENJADI 5 SKADRON TEMPUR,JUGA BISA MENAMBAH MIG.29 DAN F.18 ATAU F.15 MENJADI 5 SKADRON TEMPUR

    Suka

    • I Love Indonesia

      mending kalo kita beli,dari Blok Timur,Turki,Iran,Korsel,Cina karena politik merekapun tidak licik seperti Amerika.selicik-liciknya politik luar negeri suatu negara,itulah politik luar negeri AS.

      Suka

  11. dear Pk EKO DPRT PAN
    Usulan Bapak bagus.
    tetapi jangan beli dari barat lah Pak, ntar kena embargo lagi. mending kita dukung rencana Pak Menhan akan beli 180 sukhoi. Gelondorkan anggaran yang banyak buat TNI. Kesejahteraan rakyat sangat penting, tetapi memperkuat benteng untuk menjaga harga diri bangsa jauh lebih penting.

    Suka

  12. DPRT PAN PONDOK KARYA PONDOK AREN TANGSEL MENGUSULKAN AGAR RENSTRA 2012 ANGGARAN GAJI KESEJAHTERAAN PRAJURIT TAMTAMA BINTARA PURNAWIRAWAN LEGIUN VETERAN PEJUANG KEMERDEKAAN WARA KAURINYA DITAMBAHKAN 25%-30%,KAMI RAKYAT INDONESIA PROTES KENAPA PNS SAJA DITINGKATKAN KESEJAHTERAANNYA?,… PADAHAL KINERJANYA BURUK DAN SANGAT CACAT DIMATA RAKYAT INDONESIA.APALAGI PEJABAT NEGARA…SAUDARAKU,… PERHATIKAN RUMAH PRAJURIT TNI AGAR SEJAHTERA.SETUJU PRAJURIT?…EKO BUDI WIBOWO KADER PAN.

    Suka

  13. TNI Jaya maka Indonesia Jaya

    Suka

  14. Memang Su-27 jago buat “DOG-Fight”… Manuver cobra-nya luar biasa.. Konon harganya ga sampe 3 Trilyun untuk 6 biji(CMIIW).. Mestinya bisa beli lebih banyak lagi untuk pertahanan, mengingat kondisi negara kita kepulauan, dan sangat “open” untuk diserang..

    Suka

  15. Memang Su-27 jago buat “DOG-Fight”… Manuver cobra-nya luar biasa.. Konon harganya ga sampe 3 Trilyun untuk 6 biji(CMIIW).. Mestinya bisa beli lebih banyak lagi untuk pertahanan, mengingat kondisi negara kita kepulauan, dan sangat “open” untuk diserang negara “TETANGGA”

    Suka

  16. yang terpenting lagi adalah untuk membenahi sistem radar kita…akan terasa percuma punya senjata canggih tapi sistem radarnya mash jauh dari harapan, radar kita bisa dimatikan dari jauh olh negara lain. pd saat kita kedatangan presiden AS, radar kita dimatikan mereka tnpa izin, kurang lbih 30 mnit, bayangkan apa yang akan terjadi, jika 15 menit sj radar gk berpungsi, negara ini akan hancur berkeping2…

    Suka

  17. utk manusia manusia yg tdk bertanggung jawab terhadap kedaulatan negara . keamanan bangsa . dan kemajuan teknology ..
    coba apakah kalian2 itu punya rasa malu sebagai garong yg dilegimitasi …?
    berhenti merampok negara ini . mari dukung TNI tingkatkan persenjataan dan petsonel nya yg saat ini memerlukan beragam petalatan utk menyeimbang kan keadaan dg negara luar
    apakah ketika ada serangan rudal musuh yg msk ke wilayah NKRI mau di tangkis dg CUAP2 (krn banyak manusia2 yg mempunyai kedudukan strategis bisanya hanya ngomobg&ngonong
    mari bangkitkan TNI dg persenjataan dan pasilitasnya
    spy rakyat indonesia TENANG TENTRAM

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s