Setelah Indonesia yang menjadi satu-satunya negara pengguna ekspor rudal hanud MANPADS VSHORAD (Very Short Range Air Defence) Chiron, maka ada kabar bahwa Rumania akan segera menjadi pengguna ekspor Chiron setelah Indonesia. Dari sumber media lokal, disebut bahwa Rumania akan mengakuisisi 54 unit sistem hanud Chiron. (more…)
Cina belum lama ini meluncurkan kapal survei Oseanografi, Shi Yan 6, yang diawaki 60 awak untuk misi selama tiga bulan ke Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka, tepat di depan muka India. Seperti sebelum-sebelumnya, Cina mengklaim kehadiran kapal survei tersebut murni untuk misi penelitian oseanografi, geologi kelautan, dan ekologi kelautan sehingga aman dan tidak mengancam kedaulatan negara manapun, sebuah klaim yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh India yang secara geografis sangat berkepentingan di Samudera Hindia.
Indonesia rupanya kembali membuat Korea Selatan cemas dalam kelanjutan program pengembangan jet tempur KF-21 Boramae, pasalnya Indonesia diwartakan melewatkan tenggat waktu jadwal pembayaran terbaru pada proyek yang dahulunya disebut KFX/IFX. (more…)
Di artikel kami bulan lalu, disebutkan bahwa Indonesia telah melakukan pembayaran uang muka untuk pengadaan 18 unit jet tempur Rafale, yang artinya merupakan pembayaran untuk batch (gelombang) kedua dari total 42 pesawat yang telah disepakati pengadaannya berdasarkan kontrak pembelian (MoU) yang ditandatangani di Jakarta pada 10 Februari 2022. (more…)
Kilas balik ke pertengahan tahun 2020, kala itu trending topic alutsista di Indonesia diwarnai dengan kabar minta dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk membeli 15 unit jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Austria. Saking seriusnya, Menhan Prabowo pun di tahun itu sampai terbang ke Austria untuk melobi mitranya, Menhan Austria Klaudia Tanner. (more…)
Meski Angkatan Udara Perancis memiliki armada pesawat angkut dari berbagai jenis, mulai dari Airbus A400M Atlas, C-130H sampai C-130J Super Hercules, namun Angkatan Udara Perancis tak meninggalkan peran pesawat angkut ringan, yang notabene merupakan rancangan Indonesia – Spanyol, CN-235. Mengoperasikan 27 unit CN-235 200/300, pesawat turboprop multirole tersebut masih menjadi andalan militer Perancis, termasuk sebagai jembatan udara di wilayah koloninya. (more…)
Bagi Anda pemerhati bidang kemiliteran, pastinya telah mengenal identitas Whiskey class, ya ini lah jenis kapal selam yang memperkuat arsenal kekuatan Korps Hiu Kencana TNI AL di dasawarsa tahun 60-an. Seperti diketahui, ada 12 kapal selam kelas Whiskey yang sempat dimiliki Indonesia, dan kehadirannya saat itu dimaksudkan sebagai salah satu elemen penggetar dalam operasi Trikora, merebut Irian Jaya dari tangan Belanda.
Seperti banyak ditulis dalam berbagai literatur, keberadaan kapal selam bagi sebuah negara merupakan komponen yang strategis. Beragam fungsi bisa diemban dari adanya kapal selam, mulai dari patroli, intai maritim, penyusupan, hingga perang bawah/atas permukaan laut. Untuk yang terakhir disebut, perang bawah/atas permukaan laut, tentunya bisa berjalan bila kapal selam ditunjang dengan persenjataan yang memadai. Bicara soal senjata kapal selam, jelas yang utama dan tak tergantikan adalah torpedo, setelah itu baru bisa disebut ranjau laut, rudal anti kapal, dan sebagainya.
Sosok torpedo SAET-50 di museum AL RusiaTampilan baling-baling pada SAET-50
Nah, guna menapaki sejarah kejayaan militer Indonesia di masa lalu, TNI AL kala itu juga sudah memiliki jenis torpedo yang terbilang canggih pada masanya. Jenis torpedo tersebut adalah SAET (Samonavodiashaiasia Akustisticheskaia Elektricheskaia Torpeda)-50, sebuah torpedo jenis homing akustik yang ditenagai dengan teknologi elektrik. Kecanggihan SAET-50 yakni saat diluncurkan dapat langsung mencari sasaran sendiri (fire and forget) berdasarkan suara baling-baling atau material magnetik yang dipancarkan oleh badan kapal target. Yang cukup menakutkan bagi armada kapal perang Belanda, hulu ledaknya mencapai berat 375 Kg, dan teknologi homing akustik pasif torpedo ini dapat mengendus sasaran mulai dari jarak 600-800 meter.
Selain negara-negara anggota Pakta Warsawa, Indonesia menjadi pengguna pertama, dan yang pasti di Asia baru Indonesia lah yang memiliki torpedo maut ini. Tentu ada udang dibalik batu atas kedatangan torpedo ini, Uni Soviet tentu berharap kinerja SAET-50 dapat dijajal dalam operasi tempur yang sesungguhnya. Operasi Trikora bisa menjadi kampanye keunggulan militer Uni Soviet melawan kubu Blok Barat yang diwakili oleh Belanda.
Jenis torpedo Whiskey Class di Museum Satria MandalaSosok torpedo di kompartemen Monkasel KRI Pasopati, Surabaya
Sayangnya, kesaktian SAET-50 tidak pernah dibuktikan untuk menghantam armada kapal Belanda. Karena beragam kepentingan, versi torpedo ini kemudian juga diadaptasi oleh Cina secara lisensi. Dan jadilah torpedo berdiameter 533mm ini dengan versi buatan Cina yang diberi kode Yu-3/Yu-4A dan Yu-4B. Ada beberapa pengembangan yang dilakukan oleh Cina, dimana versi torpedo ini dibuat bukan hanya dalam versi akustik pasif, tapi juga akustik aktif, yakni memancarkan gelombang untuk mencari pantulan dari logam di kapal target. Cina sendiri terus memproduksi torpedo yang berasal dari platform SAET-50 hingga 1987.
SAET-50 versi Cina (Yu-4)Tabung peluncur torpedo di buritan KRI Pasopati
Tidak ada informasi, berapa unit torpedo SAET-50 yang sempat dimiliki TNI-AL. Secara umum SAET-50 produksi Uni Soviet terbagi dalam dua versi, yakni SAET-50 (digunakan mulai tahun 1950) dan SAET-50M (digunakan mulai tahun 1955). Tidak diketahui jenis mana yang dipunyai oleh TNI AL. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah spesifikasi torpedo SAET-50. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Torpedo SAET-50
Diameter : 533 mm
Berat : 1.650 Kg
Panjang : 7,45 m
Berat Hulu Ledak : 375 Kg
Jangkauan : SAET-50 – 4 Km/SAET-50M – 6 Km
Kecepatan : SAET-50 – 23 knots/ SAET-50M – 29 knots
Sumber Tenaga : Lead Acic Battery