
Jagad dirgantara dan dunia alutsista Indonesia kembali berduka, setelah helikopter Mil Mi-17-V5 Puspenerbad dengan nomer registrasi HA-5141 jatuh di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah pada Sabtu pukul 15.xx WIB. Dari informasi yang dihimpun, korban meninggal 3 orang dan korban luka berat ada 5 orang. Musibah di Kendal, menjadikan Mi-17 ketiga milik TNI AD yang mengalami total lost (keseluruhan ada 12 unit Mi-17-V5), setelah sebelumnya musibah yang terjadi pada Mi-17 HA-5166 dan HA-5138 di Kalimantan dan Papua. (more…)

Engine failure atau kegagalan mesin pastinya jadi momok menakutkan dalam dunia penerbangan, terlebih bila engine failure dialami helikopter. Jika menggunakan pesawat fixed wing, peluang lepas dari maut lebih besar, pasalnya pesawat masih bisa melayang di udara tanpa tenaga dari mesin. Lantas bagaimana dengan helikopter? Apakah akan jatuh ke bumi seperti batu? Di lingkup TNI, insiden engine failure pada helikopter juga telah terjadi beberapa kali. (more…)

Selain telah mendapatkan kontrak pengadaan delapan unit helikopter tempur AH-64E Apache, Boeing disebut-sebut bakal segera memasok tiga unit helikopter angkut berat CH-47 Chinook untuk kebutuhan Puspenerbad TNI AD. (more…)

Jawara helikopter angkut taktis multi peran di kavaleri udara TNI AD kini disandang heli jenis Mil Mi-17-V5. Dengan ukurannya yang bongsor, Mi-17-V5 menjadi andalan Puspenerbad, dalam sekali terbang bisa membawa kapasitas angkut di kabin hingga 4,07 ton dan kapasitas angkut di luar kabin mencapai 5 ton. Namun, karena populasi Mi-17-V5 Skadron 31 yang hanya 12 unit, membuat heli ini belum bisa menjadi tulang punggung aktivitas kavaleri udara, khususnya dalam operasi mobil udara. (more…)

Di MEF (Minimum Essential Force) Tahap I, pengadaan alutsista di lini helikopter tempur punya perhatian tersendiri, dibuktikan dengan langkah TNI untuk ‘out of the box’ dengan membeli helikopter berkualifikasi full kombatan Mi-35P Hind dan berlanjut ke order pengadaan AH-64E Apache Guardian. Seperti diketahui, porsi kekuatan helikopter pemukul Puspenerbad sejak lama hanya bertempu pada heli transpor multirole yang dipersenjatai secara terbatas, seperti NBO-105, Bell 205 A1, NBell 412, dan Mil Mi-17 V5. (more…)

Bila di darat dikenal jenis ranpur IFV (Infantry Fighting Vehicle), yakni wahana transport personel yang dipersenjatai dengan kanon kaliber menengah, sehingga cukup efektif untuk menyerang sasaran secara langsung, di lingkup TNI AD bisa dicontohkan dengan hadirnya Marder 1A3. Nah, dalam wujud yang lain, kavaleri udara TNI AD juga punya The “Flying IFV.” Punya kehandalan dan kegarangan setara Marder, tapi IFV yang satu ini wujudnya adalah helikopter. (more…)

Dilihat dari desainnya, helikopter ini terlihat culun dibandingkan desain heli modern saat ini. Bila dilihat sekilas, bentuk heli ini bahkan mirip dengan helicak (heli becak), kendaraan umum warga DKI Jakarta pada era 70-an. Tapi jangan salah, heli yang menyandang nama Alouette III SA-316 ini punya andil sejarah yang cukup besar dalam dunia dirgantara di Tanah Air, khususnya melengkapi armada Puspenerbad TNI AD sejak tahun 1969. (more…)

Sejenak kita flash back ke pertengahan tahun 70-an, terutama saat pergolakan operasi Seroja di Timor Timur, TNI begitu membutuhkan unsur mobilitas udara dalam menunjang gelar misi tempur. Konsep gelaran berupa UH (utility helicopter) dipandang yang paling ideal kala itu, beragam peran dapat dijalankan pada jenis UH. Heli UH sendiri sering disebut multipurpose utility helicopter dalam pengertian sipil, meski letak perbedaan sebenarnya tak beda jauh, UH lebih ditekankan pada kelengkapan senjata yang dirancang portable. (more…)

Setelah cukup lama berpisah dari kedigdayaan alutsista asal Rusia, kini Puspenerbad (Pusat Penerbangan Angkatan Darat) kembali bisa membusungkan dada dengan dimilikinya heli Mi-17-V5. Sebuah heli angkut sedang yang punya kapasitas angkut jauh lebih besar dibanding arsenal helikopter Penerbad selama ini yang didominasi buatan AS. (more…)