Hingga kini, korvet SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) masih menjadi flagship bagi armada kapal perang TNI AL. Selain datang dengan kondisi beli baru, 4 korvet SIGMA yang terdiri dari KRI Diponegoro 365, KRI Sultan Hasanuddin 366, KRI Sultan Iskandar Muda 367 dan KRI Frans Kaisiepo 368, memang punya bekas sistem senjata dan seabreg perangkat elektronik yang paling maju diantara kapal perang TNI AL lainnya. (more…)
Meski tergolong alutsista tua, tapi keberadaan frigat Fatahillah Class punya arti tersendiri bagi TNI AL. Selain dibekali persenjataan yang cukup padat dengan kaliber besar, seperti meriam Bofors 120 mm dan rudal anti kapal MM-38 Exocet, Fatahillah Class yang terdiri dari KRI Fatahillah 361, KRI Malahayati 362 dan KRI Nala 363, adalah produk gress yang dibeli baru. Setelah sekian lama sebelumnya lebih banyak membeli alutsista bekas. (more…)
Ujicoba penembakan rudal Yakhot dari KRI Oswald Siahaan 354
Masuk dalam keluarga artileri kapal perang, rudal anti kapal (anti ship missile) berperan untuk menghancurkan kapal yang ada di permukaan. Etalase rudal anti kapal milik TNI AL terbilang beragam. (more…)
Personel TNI AL saat membidik target udara dengan rudal Mistral SHORAD dari atas frigat Van Speijk
Unggulnya aspek rudal anti kapal nyatanya tidak sejalan dengan elemen rudal anti serangan udara (SAM/surface to air missile) pada kapal perang permukaan TNI AL. Alasannya masih sangat sedikit kapal perang atas air TNI AL yang dibekali SAM, dan itu pun tidak semua SAM melengkapi armada kapal perang, sebagai contoh KCR kelas Clurit dan FPB-57 yang tak dibekali SAM. Kualitas SAM di kapal perang TNI AL juga masih terbatas dalam terminologi SHORAD (Short Range Air Defence), dalam hal ini di dominasi keluarga rudal Mistral. Versi paling maju yang ditempatkan pada frigat kelas SIGMA, dimana Mistral dipasang dengan peluncur terpadu berpengendali otomatis Tetral. Sedangkan model yang dioperasikan secara manual, Simbad diadopsi untuk menggantikan Sea Cat pada frigat kelas Van Speijk. (more…)
Meski kebanyakan kegiatan operasi Seroja berlangsung di wilayah daratan, tapi tidak bisa dipungkiri dukungan operasi lintas laut dan udara juga memegang peranan yang vital. Dari serangkain babak operasi Seroja, awal pendaratan pasukan TNI menjadi momen yang krusial, disinilah peran dari unsur armada kapal perang sebagai elemen pelindung dan kapal pendarat/LST (landing ship tank) mengambil porsi yang menentukan. Disadur dari buku Perjuangan Integrasi Timor Timur, karya Hendro Subroto, berikut disarikan beberapa kejadian yang melibatkan peran artileri kapal perang. (more…)
Diantara ratusan kapal perang yang dimiliki TNI AL, banyak yang terbilang unik dan punya nilai sejarah tinggi. Kalau bicara KRI Irian atau KRI Ratulangi tentu itu sudah biasa, dan kedua kapal yang fenomenal itu pun sudah jadi cerita masa lalu bagi TNI AL. Bila bicara tentang kekinian pun banyak yang menarik disimak, boleh jadi publik telah akrab dengan nama frigat kelas Van Speijk, frigat kelas Fatahillah, dan korvet kelas SIGMA besutan Belanda. Tapi lain dari itu, rasanya masih begitu banyak jenis-jenis kapal perang TNI AL yang belum dikenal luas, atau mungkin saya yang belum mengenalnya. (more…)
Oerlikon 30mm di KDB Pejuang, kini menjadi KRI Badau 643
Bulan April 2011 lalu, Satuan Kapal Patroli (Satrol) TNI AL mendapat penambahan armada kapal baru, yakni 2 unit kapal dari AL Kerajaan Brunei yang langsung dihibahkan ke TNI AL. Dua kapal tersebut adalah KRI Salawaku 642 (eks KDB Waspada) dan KRI Badau 643 (eks KDB Pejuang). Penambahan 2 kapal perang ini seolah menjadi ‘angin’ segar bagi armada patroli TNI AL Armada Timur. Maklum saja, KRI Badau kodratnya adalah Guide Missile Patrol Craft, atau di lingkungan TNI AL disebut sebagai KCR (Kapal Cepat Rudal). (more…)
Selain RBU-6000 yang merupakan sista (sistem senjata) peluncur roket anti kapal selam buatan Rusia, TNI AL dalam gelar operasinya juga mengdalkan sista Bofors 375mm, peluncur roket anti kapal selam buatan Bofors (kini Saab Underwater Systems) dari Swedia. Adopsi Bofors 375mm oleh TNI AL bahkan sudah lebih dulu ketimbangRBU-6000. Pasalnya Bofors 375mm menjadi alutsista yang melekat pada frigat kelas Fatahillah, yang terdiri dari KRI Faatahillah (361), KRI Malahayati (362) dan KRI Nala (363). (more…)
KRI Harimau 607 – salah satu MTB kelas Jaguar yang dilengkapi Bofors 40mm L/70
Dilihat dari kalibernya, jelas meriam ini tak memiliki daya getar yang diperhitungkan oleh lawan. Tapi lain halnya dalam bentuk pengabdian, Bofors 40mm punya andil yang cukup besar dalam kancah perjuangan, khususnya pada elemen armada kapal perang TNI AL dan korps artileri pertahanan udara (arhanud) TNI AD. Meriam ini pun sudah sangat kondang, kiprahnya sudah dimulai sejak perang dunia kedua sebagai sistem senjata anti serangan udara yang diandalkan pasukan sekutu. Dan, hingga kini Bofors 40mm telah diciptakan dalam banyak varian tempur. (more…)
Di lingkungan armada TNI AL, sosok kapal patroli cepat ini memang punya ciri khas tersendiri , selain karena desain yang tampil beda, FPB (fast patrol boat)-57 juga sangat kondang karena sebagian besar jenis kapal perang ini dibangun oleh PT. PAL, atas dasar kerjasama dan lisensi dari Friedrich Luersen Weft (FLW), perusahaan kapal asal Jerman. (more…)