Segera Diteken, Filipina Bersiap Pinang Kapal Cepat ‘Beroket MLRS 130mm’ PKMR Chamsuri-II Korsel

Media bisnis dan keuangan Korea Selatan melaporkan bahwa galangan kapal HJ Shipbuilding and Construction (yang sebelumnya dikenal sebagai Hanjin Heavy Industries and Construction) bersiap mengamankan kontrak pesanan dari Filipina menjelang akhir tahun ini.
Kapal yang akan diakuisisi diyakini merupakan kapal patroli cepat Patrol Killer Medium with Rocket (PKMR) class atau yang juga dikenal sebagai kapal cepat bersenjata roket Chamsuri 211 class.
PKMR class berfungsi sebagai penerus dari kapal patroli Chamsuri class orisinal (PKM) yang sebelumnya dioperasikan oleh Angkatan Laut Korea Selatan. Di masa lalu, varian Chamsuri generasi awal sempat memperkuat Angkatan Laut Filipina sebagai kapal Tomas Batilo class yang dioperasikan oleh Littoral Combat Force dari tahun 1996 hingga 2021.
Dari spesifikasi, kapal patroli cepat kelas Chamsuri-II (PKMR) dirancang dengan ukuran yang jauh lebih besar dan tangguh dibandingkan pendahulunya. Kapal ini memiliki panjang keseluruhan sekitar 44 hingga 45 meter, lebar (beam) mencapai 7 meter, serta bobot penuh (full displacement) berkisar antara 230 hingga 250 ton.
🇰🇷🇵🇭 | The Philippines is eyeing the introduction of 130mm Biryong-II guided rockets, as the @Philippine_Navy expects to acquire the Chamsuri-II PKMR fast attack craft, to be signed next month. The land-based Biryong-II MLRS is also being offered to the Philippine Marine Corps. https://t.co/U6xDNPyR0j
— Para Bellum (@ReHorizon3) October 13, 2026
Untuk menggerakkan bodi kompak tersebut, PKMR dibekali sistem propulsi canggih berkonfigurasi Combined Diesel and Gas (CODAG) yang memadukan mesin diesel bertenaga tinggi dan turbin gas, memungkinkannya melaju dengan kecepatan puncak hingga 40 knot serta memiliki daya jelajah operasional yang memadai untuk misi patroli taktis jarak menengah di wilayah pesisir.
Jika kesepakatan ini resmi diteken, kehadiran kapal PKMR class akan memberikan kemampuan meriam kaliber besar yang tidak biasa untuk ukuran kapal patroli sejenis, berkat adopsi meriam angkatan laut Hyundai WIA 76 mm pada bagian haluan—fitur yang biasanya hanya ditemukan pada fregat, korvet, atau kapal patroli lepas pantai (OPV) berukuran lebih besar.
🇰🇷🇵🇭 | The upcoming acquisition of PKX-B Chamsuri II PKMR high-speed patrol boats of the @Philippine_Navy this November 2026, is seen as a shift from Israeli-made FAIC-M, to Korean-made fast missile boats. They are equipped with 76mm main gun, 12.7mm gun and 130mm guided rockets. https://t.co/PTTynkDXyD
— Para Bellum (@ReHorizon3) September 18, 2026
Selain itu, kapal ini dipersenjatai dengan dua pucuk senapan mesin berat S&T Dynamics K6 kaliber 12.7 mm serta peluncur roket MLRS (Multiple Launch Rocket System) Hanwha-LIG Nex1 Biryong 12 sel berkaliber 130 mm untuk roket berpemandu. Meskipun tidak dilengkapi rudal anti-kapal konvensional, roket berpemandu tersebut memiliki jangkauan maksimum hingga 20 kilometer serta memanfaatkan kombinasi GPS, Inertial Navigation System (INS), dan data link waktu nyata agar tetap berada pada lintasannya.
Menanggapi laporan tersebut, analis pertahanan regional menilai bahwa informasi dari pers finansial Korea Selatan ini memiliki kredibilitas yang kuat, mengingat akhir tahun 2026 menjadi momentum krusial di mana berbagai perusahaan pertahanan Korea Selatan—seperti Korea Aerospace Industries (KAI), Hanwha Ocean, dan HD Hyundai Heavy Industries—tengah menantikan finalisasi kontrak pengadaan alutsista bernilai tinggi dengan pihak Filipina, mulai dari jet tempur KF-21 Boramae hingga fregat Miguel Malvar class.
Strategi Agresif Seoul Goda Filipina: Tawarkan Pinjaman 70% demi Loloskan Penjualan KF-21 Boramae
Dari sudut pandang internal militer Filipina, program modernisasi Re-Horizon 3 mencakup rencana pengadaan tambahan Fast Attack Interdiction Craft (FAIC) guna memperkuat armada kapal cepat Acero class (Shaldag Mk. V) yang sudah ada di Littoral Combat Force.
Kendati demikian, opsi penambahan unit Shaldag Mk. V buatan Israel Shipyards tampaknya sudah dikesampingkan menyusul sinyal kebijakan pertahanan yang tidak lagi menambah kontrak baru untuk sistem pertahanan asal Israel di luar pemeliharaan yang sedang berjalan.
Sementara itu, tawaran kapal misil baru dari galangan Perancis OCEA dengan desain FPB-110 yang dipersenjatai rudal anti-kapal MBDA dinilai terlalu mahal oleh Angkatan Laut Filipina. Hal ini semakin membuka lebar peluang bagi industri pertahanan Korea Selatan yang dikenal menawarkan waktu pengiriman yang cepat, rantai pasok yang kuat, serta harga yang lebih kompetitif dibandingkan alternatif asal Amerika Serikat maupun Eropa.

Meskipun secara unit harga per kapal PKMR lebih mahal daripada kapal patroli Shaldag Mk. V (Acero class), ukuran fisik PKMR yang jauh lebih besar, dukungan sensor yang lebih canggih, serta sistem persenjataan yang jauh lebih berat dinilai sebanding dengan nilai investasi yang dikeluarkan.
Paket pengadaan empat unit kapal PKMR—khususnya jika dikoordinasikan bersamaan dengan rencana pesanan dua unit serupa untuk Angkatan Laut Korea Selatan—dinilai masih berada dalam batasan anggaran pengadaan FAIC tambahan di bawah kerangka Re-Horizon 3. Oleh karena itu, langkah Angkatan Laut Filipina untuk segera meminang empat kapal cepat PKMR ini dipastikan akan segera menjadi kenyataan dalam waktu dekat. (Bayu Pamungkas)


