Pamerkan Bangkai Drone Israel dan AS, Iran Unjuk Gigi Teknologi Pertahanan Udara di Pameran Bawah Tanah

Gaya memamerkan alutsista musuh yang berhasil ditangkap atau dilumpuhkan dalam pertempuran kini tidak hanya menjadi ciri khas Rusia saat memajang tank dan kendaraan tempur Ukraina di ruang publik. Pihak Iran melancarkan strategi komparabel, namun dengan pendekatan yang jauh lebih tertutup.

Baca juga: Rusia Gelar “War Trophies” di Moskow, Pajang Beragam Alutsista dari Negara-negara ‘Donatur’ Ukraina

Media pemerintah Iran bersama Pasukan Dirgantara Garda Revolusi Islam (IRGC) baru-baru ini menggelar pameran kedirgantaraan privat di sebuah fasilitas bawah tanah untuk memperlihatkan deretan bangkai unmanned aerial vehicle (UAV) milik Israel dan komponen alutsista Amerika Serikat yang berhasil mereka jatuhkan.

Dalam eksibisi rahasia tersebut, salah satu ‘barang’ tangkapan utama yang disorot adalah drone intai-tempur Hermes 900 buatan Israel, lengkap dengan nomor seri 923 yang masih terlihat jelas pada bodi pesawat. Selain itu, pameran ini juga menampilkan puing-puing komponen drone tempur (UCAV) MQ-9 Reaper milik AS yang rusak, hingga potongan bangkai pesawat angkut militer C-130 Hercules. IRGC mengklaim bahwa deretan alutsista Barat tersebut berhasil dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara (air defense system) generasi terbaru buatan dalam negeri Iran di tengah memanasnya konfrontasi kawasan pada tahun 2026.

Di balik fungsi propaganda dan unjuk kekuatan pameran ini, terdapat misi teknis yang jauh lebih strategis. Para insinyur dan pakar militer IRGC memanfaatkan aset-aset yang berhasil ditangkap ini untuk dipelajari secara mendalam melalui proses rekayasa balik (reverse engineering). Langkah ini ditujukan untuk memperkuat serta memodernisasi program pengembangan drone dan sistem avionik mandiri milik Iran.

Meskipun sebagian detail mengenai klaim penembakan jatuh ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak luar, gelaran di fasilitas bawah tanah ini semakin mempertegas fokus utama Teheran dalam memperkuat benteng pertahanan udaranya guna menghadapi tekanan konfrontasi langsung dari Amerika Serikat dan Israel.

Peluang keberhasilan Iran dalam melakukan rekayasa balik kali ini bisa dikatakan sangat tinggi jika melihat rekam jejak historis industri pertahanan domestiknya. Dunia internasional tentu masih mengingat peristiwa fenomenal pada tahun 2011, ketika Iran berhasil melumpuhkan dan mendaratkan secara utuh drone intai siluman canggih milik AS, RQ-170 Sentinel, melalui teknik cyber-hijacking dan GPS spoofing.

‘Tertangkapnya’ RQ-170 Sentinel, Jadi Momen Kebangkitan Teknologi Drone Tempur Iran

Hanya dalam beberapa tahun pasca insiden tersebut, kompleks industri militer Teheran terbukti mampu memproduksi kloningan lokal seperti Shahed 171 Simorgh dan Saegheh. Pengalaman sukses meretas sensor optronik, material penyerap radar (RAM), serta sistem kendali penerbangan pada platform siluman AS menjadi modal berharga bagi pakar IRGC dalam membedah komponen MQ-9 Reaper maupun Hermes 900 yang baru disita ini.

Melalui akses langsung terhadap komponen utuh maupun puing-puing sistem avionik modern tersebut, Iran berpotensi mempercepat lompatan teknologi pada generasi drone tempur (UAV/UCAV) terbarunya. Eksplorasi terhadap radar synthetic aperture (SAR), kubah optronik infra-merah, hingga enkripsi jalur komunikasi data (data-link) milik Israel dan AS akan memberi petunjuk vital bagi insinyur Iran untuk merancang sistem pemandu yang tahan terhadap jamming musuh.

Lebih dari sekadar meniru desain fisik, penguasaan atas teknologi musuh ini diprediksi akan memperkuat doktrin perang asimetris Iran sekaligus meningkatkan kapabilitas sistem peperangan elektronik (electronic warfare) mereka di masa depan. (Bayu Pamungkas)

Saegheh-2: Drone Kombatan Berdesain Stealth yang Dilengkapi “Bomb Bay”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *