Kapan Alutsista ‘Battle Proven’ Layak Dibeli? Menakar Relevansi Tempur untuk Geografi Indonesia

Dalam setiap pembicaraan mengenai pengadaan alat utama sistem senjata atau alutsista, kita sering mendengar satu kalimat yang terdengar sangat meyakinkan: “Senjata ini sudah battle proven.”

Baca juga: Mengenal Dassault Rafale B, Jet Latih Tempur dengan Predikat Battle Proven

Artinya, senjata tersebut telah digunakan dalam pertempuran dan terbukti mampu menjalankan tugasnya. Pesawatnya pernah menembak jatuh pesawat lawan. Rudalnya pernah menghancurkan sasaran. Kapalnya pernah menjalankan operasi tempur. Drone-nya terbukti mampu menyerang sasaran. Sistem pertahanan udaranya pernah mencegat serangan musuh.

Lalu muncul kesimpulan sederhana: karena sudah terbukti dalam perang, maka alutsista tersebut merupakan pilihan yang baik untuk Indonesia. Apakah logikanya sesederhana itu?

Kehebatan sebuah sistem persenjataan dalam suatu pertempuran memang merupakan informasi yang sangat berharga. Namun, keberhasilan tersebut tidak boleh secara otomatis dijadikan patokan utama dalam menentukan alutsista yang harus dimiliki Indonesia.

Sebab senjata tidak pernah berperang sendirian.

Efek “Battle Proven”: Pasca Perang Ukraina, Ekspor Senjata Rusia Diprediksi Tembus US$17 Miliar per Tahun

Yang Menang Bukan Senjatanya

Ketika suatu alutsista menunjukkan keberhasilan dalam perang, kita harus bertanya lebih jauh: apa sebenarnya yang membuatnya berhasil? Apakah semata-mata karena kecanggihan senjatanya? Ataukah karena senjata tersebut menjadi bagian dari suatu sistem tempur yang jauh lebih besar?

Sebuah pesawat tempur modern, misalnya, mungkin terlihat sangat hebat ketika berhasil menghancurkan sasaran dari jarak jauh. Tetapi pesawat tersebut mungkin bekerja dengan dukungan satelit, pesawat peringatan dini, tanker udara, peperangan elektronik, data-link, intelijen real-time, pangkalan udara yang aman, jaringan komunikasi yang kuat, serta sistem komando dan kendali yang terintegrasi.

Kalau pesawat yang sama dibeli, tetapi seluruh ekosistem pendukungnya tidak tersedia, apakah kemampuan tempurnya akan tetap sama? Belum tentu.

Demikian pula sebuah kapal perang. Sebuah kapal dapat terlihat sangat perkasa ketika beroperasi dalam suatu gugus tempur. Namun di sekelilingnya mungkin terdapat kapal perusak, frigat, kapal selam, pesawat patroli maritim, pesawat tempur, satelit, drone, serta sistem logistik yang terus menjamin keberlangsungan operasinya.

Artinya, keberhasilan yang kita lihat sebenarnya bukan hanya keberhasilan sebuah platform. Itu adalah keberhasilan sebuah sistem perang.

Israel Umumkan Sistem Hanud C-Dome (Naval Iron Dome) Telah Berpredikat “Combat Proven” di Laut Merah

Battle Proven Harus Dibaca dengan Hati-Hati

Istilah battle proven sebenarnya hanya menjawab satu pertanyaan: Apakah sistem persenjataan tersebut pernah berhasil digunakan dalam kondisi pertempuran tertentu?

Jawabannya mungkin: ya. Tetapi keputusan pengadaan alutsista Indonesia membutuhkan pertanyaan kedua yang jauh lebih penting: Apakah sistem itu akan efektif dalam kondisi perang Indonesia?

Dua pertanyaan tersebut tidak sama.

Alutsista yang sangat efektif di gurun belum tentu memberikan efektivitas yang sama di negara kepulauan. Alutsista yang dirancang untuk menghadapi perang di laut terbuka belum tentu menjadi pilihan paling efisien untuk peperangan di antara ribuan pulau dan selat sempit.

Alutsista yang efektif ketika dilindungi oleh jaringan satelit dan armada pendukung yang sangat besar belum tentu mempunyai efektivitas serupa ketika berdiri dalam struktur kekuatan yang berbeda.

Karena itu, pengalaman tempur negara lain harus diperlakukan sebagai data empiris, bukan sebagai resep yang harus ditiru.

Selain Indonesia, Negara-Negara Ini Juga Borong Ranpur Amfibi AAV-7A1 Eks USMC

Kita Harus Bertanya: Perang Siapa?

Setiap kali seseorang mengatakan suatu alutsista hebat karena telah memenangkan pertempuran, pertanyaan berikutnya seharusnya sederhana: Pertempuran siapa?

Di mana pertempuran itu berlangsung? Siapa lawannya? Bagaimana kekuatan lawannya? Siapa yang menguasai udara? Siapa yang menguasai informasi?

Bagaimana dukungan logistiknya? Bagaimana kondisi geografisnya? Apakah lawan mempunyai kemampuan peperangan elektronik? Apakah sistem tersebut tetap efektif ketika komunikasi satelit terganggu? Apakah ia tetap mampu bertempur ketika pangkalan utamanya diserang?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menentukan apakah pengalaman perang tersebut relevan bagi Indonesia.

Sebab kita tidak sedang mempersiapkan diri untuk mengulangi perang negara lain. Kita mempersiapkan diri menghadapi perang kita sendiri.

Awal Era Kapal Induk Indonesia: Implikasi Strategis ITS Giuseppe Garibaldi Bagi TNI AL

Geografi Indonesia Adalah Sistem Pertahanan Itu Sendiri

Indonesia bukan negara kontinental. Indonesia juga bukan negara dengan satu kawasan laut terbuka yang luas tanpa hambatan geografis.

Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas ribuan pulau, dengan selat, teluk, laut sempit, laut dalam, choke point, serta jalur pelayaran strategis yang tersebar.

Karakter geografis seperti ini seharusnya mempunyai pengaruh langsung terhadap doktrin pertahanan dan pemilihan alutsista.

Selat sempit dapat menjadi ruang tempur. Pulau dapat menjadi pangkalan. Pantai dapat menjadi lokasi sensor dan rudal. Laut dalam dapat menjadi ruang operasi kapal selam. Pulau-pulau kecil dapat menjadi bagian dari jaringan pengawasan. Drone dapat memperluas mata dan telinga kekuatan pertahanan. Kapal cepat dapat berpindah di antara pulau dan memanfaatkan kompleksitas geografis.

Dengan demikian, Indonesia sesungguhnya memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli dari negara mana pun: geografi.

Pertanyaannya adalah apakah kita membangun sistem pertahanan yang memanfaatkan geografi tersebut atau justru mengadopsi konsep perang negara lain.

KRI Sriwijaya (eks ITS Garibaldi): Kapal Tua, Otak Baru, Daya Gentar atau Sasaran Empuk?

Platform Besar Tidak Selalu Berarti Kekuatan Besar

Ada kecenderungan untuk menghubungkan ukuran dengan kekuatan. Kapal semakin besar dianggap semakin kuat. Pesawat semakin canggih dianggap semakin unggul. Rudal semakin jauh jangkauannya dianggap semakin baik.

Padahal dalam perang, ukuran sebenarnya adalah: seberapa besar kemampuan tempur yang dapat dipertahankan setelah musuh mulai menembak.

Satu platform besar mungkin membawa kemampuan tempur yang luar biasa. Tetapi platform besar juga berarti konsentrasi kemampuan. Ketika terlalu banyak kemampuan ditempatkan dalam satu platform, platform tersebut menjadi aset yang sekaligus sasaran yang sangat bernilai bagi lawan.

Di sinilah muncul persoalan antara concentration of force dan distribution of force. Kekuatan yang terkonsentrasi dapat menghasilkan daya tempur yang sangat besar. Tetapi kekuatan yang terdistribusi mempunyai keuntungan lain: sulit dihancurkan sekaligus.

Bayangkan dua pilihan. Pilihan pertama adalah satu platform yang sangat besar dan sangat mahal. Pilihan kedua adalah kemampuan yang sama-sama berbahaya tetapi disebarkan melalui berbagai kapal kecil, kapal selam, pesawat, drone, rudal berbasis darat, sensor pantai dan pulau-pulau.

Ketika satu unsur pada sistem kedua dihancurkan, sistem secara keseluruhan masih dapat bertempur. Inilah redundansi tempur.

Dalam perang modern, kemampuan untuk tetap bertempur setelah menerima serangan pertama bisa lebih penting daripada kemegahan sebuah platform.

Jangan Lupa Harga untuk Membuat Senjata Itu Bertempur

Harga pembelian hanyalah awal.

Setelah suatu alutsista dibeli, masih ada bahan bakar, amunisi, suku cadang, perawatan, overhaul, pelatihan awak, infrastruktur pangkalan, sistem sensor, jaringan komunikasi, dan sistem pendukung lainnya.

Karena itu pertanyaan yang tepat bukan hanya: “Berapa harga alutsista ini?”

Tetapi: “Berapa biaya agar alutsista ini dapat terus bertempur?”

Lebih penting lagi: “Berapa lama kita mampu mempertahankannya dalam perang?”

Sebab perang tidak dimenangkan dalam pameran alutsista. Perang dimenangkan oleh kekuatan yang masih mampu bertempur pada hari kedua, hari ketujuh, hari ketiga puluh, bahkan ketika rantai pasok mulai terganggu.

Strategi Baru Pertahanan Inggris: Korbankan Kapal Perusak dan Fregat demi Ambisi Armada Drone

Battle Proven Bukan Indonesia Proven

Kita harus membedakan dua istilah.

Battle proven berarti telah terbukti dalam suatu pertempuran. Tetapi Indonesia membutuhkan sesuatu yang dapat disebut: Indonesia proven.

Artinya, sistem tersebut harus dapat menjawab kondisi strategis Indonesia.

Apakah cocok dengan geografi kepulauan? Apakah dapat dipelihara oleh kemampuan nasional? Apakah dapat beroperasi dari pangkalan yang kita miliki? Apakah pasokan amunisinya dapat dijamin ketika perang berlangsung? Apakah industri pertahanan nasional dapat mengambil bagian dalam pemeliharaan dan produksinya? Apakah jumlahnya cukup untuk menjaga wilayah yang sangat luas? Apakah sistem itu tetap efektif apabila jaringan komunikasi terganggu? Apakah kehilangan satu unit akan langsung mengurangi kemampuan tempur secara drastis?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar bertanya apakah senjata itu pernah digunakan dalam perang.

Alutsista Harus Mengikuti Doktrin

Kesalahan terbesar dapat terjadi apabila proses berpikir dibalik.

Kita membeli suatu alutsista terlebih dahulu, kemudian mencari alasan strategis untuk membenarkan keberadaannya. Seharusnya tidak demikian.

Urutannya harus jelas:

Doktrin –> Konsep Operasi –> Ancaman –> Geografi –> Struktur Kekuatan –> Alutsista.

Jangan Membeli Kemenangan Orang Lain

Sejarah perang penuh dengan contoh bagaimana suatu senjata yang dianggap luar biasa pada suatu masa akhirnya kehilangan keunggulannya ketika teknologi, taktik, atau kondisi medan berubah.

Karena itu kita tidak boleh terpesona hanya oleh keberhasilan sebuah sistem senjata dalam perang yang dilakukan negara lain.

Kita boleh belajar dari mereka. Kita bahkan harus mempelajari mereka. Tetapi belajar tidak sama dengan meniru.

Pengalaman perang negara lain harus digunakan untuk memahami bagaimana teknologi bekerja, bagaimana taktik berkembang, bagaimana kelemahan muncul, dan bagaimana lawan melakukan adaptasi. Setelah itu semuanya harus diuji kembali terhadap kepentingan Indonesia.

Sebab pada akhirnya kita tidak membeli alutsista untuk memenangkan perang yang sudah terjadi. Kita membeli alutsista untuk menghadapi perang yang mungkin terjadi pada masa depan.

Dan perang itu akan berlangsung di geografi kita, dengan sumber daya kita, dengan kemampuan logistik kita, dengan doktrin kita, dan dengan kepentingan nasional kita sendiri.

“Jangan membeli kemenangan orang lain. Bangun kemampuan untuk memenangkan perang kita sendiri.”

Pada akhirnya, mungkin istilah battle proven pun perlu kita lihat dengan cara yang berbeda. Yang paling penting bukan sekadar apakah sebuah alutsista pernah terbukti dalam perang. Yang jauh lebih penting adalah apakah konsep perang kita sendiri telah diuji secara sungguh-sungguh terhadap ancaman, geografi, teknologi, logistik, dan kemampuan nasional.

Sebab yang harus battle proven bukan hanya alutsistanya, tetapi konsep perangnya. Alutsista mengikuti doktrin. Bukan doktrin yang dipaksa mengikuti alutsista. Oleh Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto (Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis/KABAIS TNI).

Ambisi Drone Kamikaze Korea Utara: Dari Jalur Produksi Massal Hingga Doktrin Perang Asimetris

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *