
Parade dan defile milter peringatan Hari Kemenangan (Victory Day) Perang melawan Jepang ke-80, pada 3 September 2025, tuntas digelar di Beijing. Turut dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto, parade militer yang disebut terbesar di dunia itu, menampilkan beragam persenjataan dan alutsista terbaru Cina. Di antara yang ditampilkan, sosok rudal balistik antarbenua DF-5C menjadi yang paling membetot perhatian. (more…)

Setelah mempercepat pengembangan rudal jelajah hipersonik dengan target operasional di tahun 2030, “Negeri James Bond” diwartakan bakal meluncurkan project “Nightfall” untuk rudal balistik taktis yang diluncurkan dari darat (ground launched). (more…)

Dengan dimensi dan bobot yang besar, kapal tender kapal selam (submarine tender) umumnya tidak membawa bekal rudal balistik, melainkan sebatas torpedo atau amunisi yang setara. Namun, berbeda dengan Angkatan Laut Rusia, guna menjamin kesiapan tempur armada kapal selam berpeluncur rudal balistik antarbenua (ICBM), maka submarine tender dengan kemampuan membawa rudal balistik sudah disiapkan, menjadikan kapal selam nuklir Rusia tak perlu kembali ke pangkalan untuk bekal ulang amunisi. (more…)

Kemunculan M142 HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) pada tahun 1993, dilanjutkan dengan dioperasikan Angkatan Darat AS (US Army) sejak Juni 2005, telah memicu perhatian Cina akan kemampuan sistem artileri roket MLRS yang modern, yang belakangan telah terbukti battle proven di palagan Irak dan Ukraina. Dan sebagai tandingan, Cina kemudian menghadirkan “Chinese HIMARS” PHL-16. (more…)

Debut rudal rudal balistik yang diluncurkan dari udara (Air-Launched Ballistic Missile/ALBM) belakangan naik daun, khususnya setelah Rusia dan Israel menggunakan ALBM Kh-47M2 Kinzhal dan Rampage dalam melancarkan serangan udara jarak jauh. Berangkat dari serangan yang dianggap efektif, Korea Selatan diwartakan kepincut untuk mengembangkan ALBM, khususnya sebagai senjata pemukul bagi jet tempur KF-21 Block II Boramae. (more…)

Meski tak ‘seangker’ postur militer negara-negara di Timur Tengah, namun, adopsi rudal balistik jarak pendek (Short Range Ballistic Missile/ SRBM) sudah dikenal secara terbatas di Asia Tenggara, seperti Vietnam yang mengoperasikan rudal Scud (Soviet era) dan varian Korea Utara seperti Hwasong-6, dengan jangkauan antara 300–500 km. Nah, belakangan Indonesia dan negara tetangga di selatan (Australia) ikut bergabung meramaikan pasar pengguna SRBM di kawasan ini. (more…)

Hanya berjarak 350 km dari pantai selatan Jawa, Angkatan Darat Australia dan Angkatan Darat AS, dalam operasi gabungan mengerahkan sistem artileri M142 HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) di Pulau Christmas, yang memiliki jarak cukup dekat dengan Indonesia. (more…)

Dari International Defence Industry Fair (IDEF) 2025 di Istanbul, 22 – 27 Juli 2025, Turki memantapkan predikat sebagai negara ketiga di NATO yang mampu membangun dan memproduksi rudal balistik berkecepatan hipersonik, setelah Amerika Serikat dan Perancis. Persisnya pada 22 Juli, Roketsan memperkenalkan secara resmi Tayfun Block-4, yang masuk kategori rudal balistik jarak pendek (Short-Range Ballistic Missile/SRBM). (more…)

Setelah kontrak pengadaannya ditandatangani pada pameran pertahanan Indo Defence 2022, belum ada ada kabar lanjutan terkait rudal balistik jarak dekat hipersonik “Khan” yang dipesan Kementerian Pertahanan RI. Sekalpun ada hanya kabar kunjungan delegasi perwira TNI AD yang menyaksikan live firing Khan di Turki pada bulan Juli 2024. (more…)

Dengan industri berteknologi tinggi serta obsesi menantang hegemoni AS dan Barat, maka bukan tak mungkin proyek-proyek militer ‘kelas dewa’ dapat diwujudkan oleh Cina. Seperti belum lama, sebuah studi yang dipublikasi South China Morning Post mengungkap para ilmuwan dari Chinese Academy of Sciences yang berafiliasi dengan PLA Rocket Force, menjelaskan kerangka teoritis peluncuran Hypersonic Glide Vehicle (HGV) dari orbit di luar angkasa (space based platform). (more…)