Ditembak Rudal Houthi di Yaman, Insiden Terbaru F-15SA Arab Saudi Tercoreng Lagi

Di balik reputasi globalnya sebagai salah satu jet tempur paling dominan di udara tanpa pernah kalah dalam duel udara (air-to-air), reputasi legendaris keluarga F-15 Eagle berulang kali mendapat ujian berat di tangan Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi (Royal Saudi Air Force/RSAF).
Keterlibatan aktif RSAF dalam memimpin koalisi militer di Yaman sejak 2015 memunculkan sederet insiden yang menodai citra ketangguhan jet tempur buatan Boeing tersebut. Kasus terbaru yang menyita perhatian publik internasional terjadi pada 15 September 2026, ketika kelompok milisi AnsarAllah (Houthi) merilis konfirmasi dan bukti video mengenai penembakan jatuh satu unit F-15 milik RSAF di atas wilayah Provinsi Marib, Yaman. Rekaman video beresolusi tinggi memperlihatkan detik-detik hantam rudal sistem pertahanan udara (hanud) hingga puing-puing bangkai pesawat yang hancur di darat.
Insiden terbaru ini menjadi sangat krusial karena puing ekor pesawat yang terekam dengan nomor seri 5529 mengonfirmasi bahwa unit yang jatuh merupakan varian F-15SA (Saudi Advanced). Jet tempur senilai lebih dari US$110 juta per unit ini merupakan varian F-15 paling canggih yang dioperasikan RSAF, hasil pengembangan mendalam berbasis F-15E Strike Eagle.
F-15SA dibekali arsitektur kendali fly-by-wire digital, sistem radar AESA APG-63(V)3, pod navigasi dan pembidikan generasi baru, hingga peningkatan kapasitas gantungan senjata (weapon hardpoints). Sebagai platform tempur bertempat duduk ganda (two-seater), insiden penembakan pada September 2026 ini langsung memicu spekulasi terkait nasib dua awak kapal (pilot dan perwira sistem senjata) yang hingga saat ini status keselamatan maupun keberadaannya belum dikonfirmasi secara pasti.
JUST-IN The Houthis have just released footage showing the wreckage and downing of the RSAF F-15SA fighter jet.
Interestingly, the air defense reticle is remarkably similar to the system used by IRGC-ASF forces against US aircraft. pic.twitter.com/fRVD7M8ryp
— Open Source Intel (@Osint613) September 16, 2026
Analisis visual pada rekaman pembidikan hanud Houthi juga menarik perhatian para pakar militer karena antarmuka (reticle) penjejaknya memiliki kemiripan signifikan dengan teknologi sistem pertahanan udara yang dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC-ASF).
Rekam jejak insiden yang menimpa armada F-15 Arab Saudi bukan kali ini saja terjadi. Sejak jet tempur varian F-15SA diserahterimakan dan memulai debut operasionalnya untuk memperkuat benteng pertahanan udara Riyadh, jajaran armada ini telah menorehkan beberapa catatan kelam akibat kecelakaan nonsimbolis maupun aksi tembakan musuh.
Important detail: The tail number is 5529, which means it’s an advanced F-15SA (≈ $110 million or more) and a two-seat Fighter Jet, so there are two prisoners/casualties. https://t.co/4ocRrFloVk pic.twitter.com/a6WQaWsJaf
— MenchOsint (@MenchOsint) September 16, 2026
Pada Maret 2015, di awal eskalasi konflik Yaman, sebuah F-15S RSAF jatuh di Laut Merah akibat masalah teknis saat menjalankan misi tempur, di mana kedua pilotnya berhasil melontarkan diri dan diselamatkan oleh helikopter penyelamat AS. Rekam jejak berlanjut pada Januari 2018 ketika Houthi mengklaim berhasil memicu kerusakan berat atau menjatuhkan F-15 di atas Saada menggunakan modifikasi rudal udara-ke-udara R-27/R-73 yang diadaptasi menjadi sistem hanud darat.
Selain insiden berbasis konflik, armada F-15SA RSAF juga mengalami beberapa musibah murni saat sesi latihan domestik, seperti jatuhnya F-15SA di Pangkalan Udara Raja Khalid pada Juli 2023 dan insiden serupa di Pangkalan Udara Raja Abdulaziz pada Desember 2023 yang merenggut nyawa seluruh awaknya.
Kerentanan yang berulang kali menerpa jet tempur sekelas F-15SA menyingkap tantangan kompleks yang dihadapi RSAF dalam mengoperasikan alutsista kelas atas di medan perang asimetris. Meskipun F-15SA dilengkapi dengan perangkat proteksi mandiri siber dan sistem peperangan elektronik (electronic warfare) terkini, ancaman dari doktrin pertahanan udara berbasis modifikasi rudal kreatif serta pendorongan jaringan intelijen Houthi terus memburu celah operasional RSAF.
Sederet insiden jatuhnya F-15SA di Yaman ini tidak hanya berdampak pada kerugian materiil dan moril Negeri Raja Salman, namun juga menjadi bahan evaluasi kritis bagi perancang taktik tempur Barat mengenai efektivitas perlindungan jet tempur generasi 4.5 terhadap sistem ancaman darat-ke-udara yang terus berevolusi. (Gilang Perdana)
Kerap Jatuh, Reputasi Jet Tempur F-15 Jadi ‘Memble’ di Tangan Arab Saudi



Duluuu kita pernah dapat DSCA untuk F-15EX sebanyak 36 biji lengkap sensor tapi tidak disertai rudal. DSCA 36 unit F-15EX tersebut senilai Usd 13.9 miliar.
Daripada dibelikan F-15EX mending dana segitu dibelikan pesawat sesama produk Boeing juga. Usd 13.9 miliar itu bisa dapat 12 unit P-8 ASW Poseidon, 4 unit E-7 Wedgetail, 24 unit CH-47 Chinook, 20 unit AH-64 Apache. Semua lengkap suku cadang, sensor dan senjata.
Atau kalau tidak hanya dibelikan produk Boeing saja tapi LM juga dapat bagian maka usd 13.9 miliar itu bisa dapat : 6 unit P-8 ASW Poseidon, 3 unit E-7 Wedgetail, 12 unit CH-47 Chinook, 24 unit AH-64 Apache, 16 unit MH-60R ASW, 7 unit C130J-30 Super Hercules. Semua lengkap sensor, suku cadang dan senjata. Jadi AU, AL dan AD semua dapat bagian. AU dapat bagian Wedgetail dan Super Herky. AL dapat bagian Poseidon dan Romeo. AD dapat bagian Chinook dan Apache.