Bukan Sekadar Beli: Mengapa Indonesia Menuntut Jet Tempur KAAN Bebas Komponen AS?

Rencana Indonesia untuk memperkuat barisan pertahanan udara melalui jet tempur generasi kelima asal Turki, KAAN, kini memasuki babak baru yang penuh dengan pertimbangan strategis. Meski nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani, Jakarta dilaporkan menetapkan persyaratan yang sangat tegas bagi pemerintah Turki.
Berdasarkan laporan dari Militarnyi dan media kedirgantaraan Cavok, Indonesia hanya akan melanjutkan pembelian pesawat tempur stealth ini jika seluruh sistemnya benar-benar bebas dari komponen buatan Amerika Serikat. Langkah ini dipandang oleh para analis sebagai strategi defensif Jakarta untuk menjamin kedaulatan alutsista nasional di masa depan agar tidak tersandera oleh kebijakan luar negeri negara lain.
Penghalang terbesar yang ingin dihindari oleh Indonesia adalah regulasi ketat Amerika Serikat yang dikenal sebagai International Traffic in Arms Regulations atau ITAR. Regulasi ini memberikan hak kepada Washington untuk mengontrol, membatasi, bahkan memveto penjualan kembali teknologi pertahanan mereka yang digunakan oleh negara mitra.
Sebagaimana diulas dalam analisis kebijakan ekspor pertahanan, jika sebuah pesawat tempur masih mengandung komponen sensitif yang terdaftar dalam ITAR, maka operasional dan dukungan logistiknya akan selalu bergantung pada izin politik dari Gedung Putih. Pengalaman pahit masa lalu terkait embargo suku cadang menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk memastikan bahwa aset strategis ini tidak bisa “dikunci” secara sepihak oleh otoritas asing.
https://www.indomiliter.com/kesepakatan-naik-level-indonesia-resmi-teken-kontrak-pembelian-jet-tempur-stealth-kaan/
Fokus utama dari upaya melepaskan diri dari pengaruh ITAR ini terletak pada sektor penggerak utama, yakni mesin pesawat. Saat ini, prototipe jet tempur KAAN masih sangat bergantung pada mesin turbofan General Electric F110 buatan AS. Mesin ini memang telah terbukti keandalannya di berbagai medan tempur melalui pesawat F-16, namun statusnya sebagai produk yang tunduk pada aturan ITAR menjadikannya titik lemah bagi ambisi ekspor Turki maupun kemandirian Indonesia.
Tanpa penggantian mesin, setiap pergerakan strategis yang melibatkan KAAN akan selalu berada di bawah bayang-bayang persetujuan Washington.
Demi Jet Tempur Stealth KAAN, Turki Mohon ke AS untuk Bisa Memproduksi Mesin GE F110
Menanggapi tantangan tersebut, industri pertahanan Turki melalui TEI (Tusaş Engine Industries) saat ini tengah memacu pengembangan mesin turbofan lokal yang dirancang khusus untuk menggantikan dominasi General Electric. Menurut data teknis yang dihimpun dari proyek mesin TF6000/TF10000, mesin lokal Turki ini diproyeksikan memiliki daya dorong yang setara dengan kemampuan mesin F110, namun dengan keunggulan tambahan berupa desain yang lebih sulit dideteksi radar serta integrasi material tahan panas yang sepenuhnya dikembangkan di dalam negeri.
Mesin masa depan ini adalah kunci bagi Turki untuk menawarkan varian KAAN yang murni berdaulat. Bagi Indonesia, menunggu kematangan mesin lokal Turki tersebut merupakan pilihan yang jauh lebih rasional meskipun memakan waktu lebih lama.
https://www.indomiliter.com/gawat-kongres-as-blokir-mesin-ge-f110-kaan-pesanan-jet-tempur-stealth-indonesia-terancam-molor/
Dengan menggunakan varian yang sepenuhnya bebas komponen Amerika Serikat, Indonesia dapat memastikan bahwa penguasaan teknologi dan pemeliharaan pesawat tempur tercanggihnya berada sepenuhnya dalam kendali nasional.
Kesepakatan ini pada akhirnya menjadi ujian bagi industri pertahanan Turki untuk membuktikan kemampuan mereka menciptakan ekosistem militer yang mandiri, sekaligus menjadi tonggak sejarah bagi Indonesia dalam mewujudkan visi pertahanan yang benar-benar bebas dan aktif. (Gilang Perdana)
https://www.indomiliter.com/spanyol-lirik-kaan-lagi-lagi-terganjal-isu-mesin-buatan-as/



@iwan pansir : om Wowo sepertinya atut CAATSA dari orang pea world disney
sebenarnya dari awal pecah kongsi SU-57 antara om Putin dengan pemimpin Prindavan, desas desusnya RI sempat ditawarin
dari pada pusing lebih baik borong J-10 atau J-20S atau jika perlu J-35 series
Punya 4 – 5 skuad J-10 atau mix 2 – 3 skuad J-10 dan 1 – 2 skuad J-20 / J-35 asalkan tidak kosongan saya rasa Singapura dan Ausie akan berfikir memasuki ruang udara RI
Asalkan + BVR, AWACS dan satelit militer otonom, maka secara kuantitas dan kualitas pespur kita memiliki efek rinso untuk negara tetangga ataupun negara agresor besar seperti Amerika
Meskipun diatas kertas Amerika memiliki armada tempur di udara lebih banyak dan dengan arsenal yang beragam, minimalnya dengan kuantitas dan kualitas dari armada tempur udara RI dapat menghambat pergerakan lawan
Minimalnya menghadapi negara tetangga yang memiliki F-35 , TNI AU lebih percaya diri, karena hingga saat ini belum ada laporan resmi untuk F-35 sukses mendapatkan gelar kemenangan utuk peperangan diudara dengan pespur lain
Pada kenyataannya kesuksesan F-35 adalah menghancurkan musuh di darat pada wilayah musuh dan F-35 selalu didampingi oleh pespur lain seperti F-15 atau pespur lainnya & juga tentunya AWACS dalam setiap misinya
Bahkan sekelas F-22 saja yang konon sebagai pespur bangsa siluman dan raja di angkasa hanya menembak balon udara 😂
Ditawarin SU57 yg stroonkbingiiits kok malah milih yg ghoib kata om P sambil nyengir😁
@Tukang Ngitung Depohar di Papua belum siap untuk memelihara Shukoi, pemeliharaan pespurnya kompleks, kalau perlu spare part perlu nunggu dari Jakarta, lebih cepat kalau posisi di Makassar, ya semoga aja nanti masalah logistik Papua bisa diatasi kedepan
@Tungang Ngitung : Berdasarkan beberapa kejadian dan juga berdasarkan topografi, wilayah Sulawesi lebih baik untuk penempatan Sukhoi dubandingkan Papua
Dengan topografi pegudungan tinggi dan perbukitan tinggi di wilayah Papua, maka resiko akan lebih tinggi untuk Sukhoi TNI AU
Lalu penempatan Sukhoi di Sulawesi selain mengcover wilayah Timur RI, juga kedepannya sebagai partner Rafale untuk menjaga wilayah Utara RI
Karena jika 3 skuad Rafale sudah terbentuk, penempatannya adalah 2 di Sumatra dan satu di Kalimantan
hhmmm…
Untuk J-10 dengan ukuran 4 – 5 suad asalkan + PL-15 dan AWACS memang kemungkinan besar seharusnya mendapatkan ToT bahkan lisensi atau lainnya untuk benefit dunia militer RI
Ya minimalnya kita mendapatkan ToT rudal dengan range diatas 300km sudah menjadi loncatan yang ok banget
Terlebih lagi pembelian dan juga kerja sama dengan sesama anggota BRICS tanpa sangsi CAATSA seharusnya memiliki keuntungan lebih banyak untuk RI dalam dunia Militer
@Tukang Ngitung : Saya setuju
Hanya saja 60 unit mungkin terlalu wah, mungkin 48 unit F4 dengan Rudal Meteor & SCLAP EG / Storm Shadow yang lebih dari cukup dapat lebih jauh banyak manfaatnya dari pada akusisi 48 unit KAAN
Hampir dapat dipastikan RI akan mendapatkan ToT atau lisensi arau lainnya yang dapat menjembatani untuk next lavel dunia militer RI
Tetapi dalam hal ini RI juga harus memaksimalkan dukungan dengan membeli AWACS dan juga memiliki beberpa satelit militer secara mandiri
Akan lebih baik jika RI juga melakukan akusisi Electronic Warfare (EW) berbasis pesawat
Meskipun sulit mecari EW dengan basis pesawat diluar made in Amerka
Mungkin dapat dialihkan dengan EW berbasis darat yang memiliki variasi lebih beragam secara fungsional dan juga lebih banyak negara produsennya selain Amerika
Perang elektronik terdiri dari tiga subdivisi utama, yaitu serangan elektronik (EA), perlindungan elektronik (EP), dan dukungan perang elektronik (ES)
Terlebih lagi perang zaman now selain menggunakan drone dan rudal dan roket range jauh, kebutuhan EW yang mumpuni juga sangat urgent
Pada konflik Rusia – Ukraina, EW berperan penting mengurangi efektivitas serangan drone, roket HIMARS, bom JDAM, meskipun kurang efektif untuk rudal Storm Shadow / SCALP-EG
Türkiye is set to receive its first Eurofighter Typhoons from Qatar by late February, part of 12 second-hand jets bought from the country.
https://theaviationist.com/2026/01/22/turkiye-first-eurofighter-typhoon-qatar-delivery/
Dengan biaya usd 15 miliar, daripada KAAN yang belum teruji dan belum ada mesinnya, saya lebih milih beli tambahan 60 unit Rafale F4 lagi berikut rudalnya, sehingga totalnya bisa 120 Rafale yang bisa jadi 5 skuadron besar masing-masing 24 unit.
Atau usd 15 miliar bisa beli 132 unit J-10CE sekaligus berikut rudalnya. Langsung jadi 11 skuadron. Pasti dikasih TOT, lha banyak gitu.
Kalo mau yang cepat bebas ITAR, pakai yang dari lawan Amrik. J-10C sudah ada yang versi ekspor. Beli jangan hanya 1 skuadron saja, sekalian langsung 5 skuadron berikut rudalnya. Sekalian AWACS nya.
Tapi ngomong-ngomong kenapa ya si Sukhoi Tigalima dan Jiten ditaruh di Sulawesi? Kenapa nggak langsung di Papua gitu ?
Opsi mesin buatan prancis adalah langkah logis yg harus dicoba di integrasikan ke dlm jet KAAN.. Sambil menunggu mesin buatan turkiye siap di gunakan.
biarlah sejarah yang menjawabnya, persenjataan Amerika tidak mungkin digunakan melawan Amerika sendiri, Amerika bukan ingin perdamaian tapi hanya ingin senjatanya dibeli, contoh nyata ada di Venezuela, f-16 tidak berguna sama sekali dan yang paling aneh adalah bagi negara yang rentan konflik tidak ada satupun CAP yang dilakukan oleh Venezuela, alutsistanya sepenuhnya tidak digunakan karena petinggi militernya sudah disuap Amerika lebih dulu, jika ingin kebebasan jangan beli produk Amerika, karena hanya ingin uang dan SDA mu bukan perdamaianmu, mari membuka mata pada situasi yang ada terutama terkait dengan Greenland yang merupakan wilayah Denmark secara berdaulat yang justru sangat ingin direbut Amerika, jas merah, jangan lupa pada sejarah bagaimana indonesia punya c-130, itu awalnya darimana, mereka tidak membiarkan Indonesia damai tapi hanya ingin punya posisi dan pengaruh kuat di Indonesia serta memonopoli sda yang kita punya, buka mata buka mata, bravo pak menhan karena menuntut kaan bebas dari komponen asal AS 🔥🔥
Pengalaman bersama Korsel saat membangun KF-21 Boremae adalah pukulan telak bagi Indonesia menyangkut tidak hanya 4 komponen teknologi kunci yg seharusnya dibagikan oleh Korsel kepada Indonesia tetapi juga sisa 21 teknologi lainnya yg cenderung ingin disimpan oleh Seoul sendiri padahal Indonesia selain menyumbang anggaran juga menyumbang tenaga ahli.
Akan lebih baik bagi Indonesia melihat potensi kerjasama pertahanan dengan Turki kedepan.
“Dengan menggunakan varian yang sepenuhnya bebas komponen Amerika Serikat, Indonesia dapat memastikan bahwa penguasaan teknologi dan pemeliharaan pesawat tempur tercanggihnya berada sepenuhnya dalam kendali nasional.”
Pertanyaannya, apakah ada? Jika melihat KF-21 saja walau sepenuhnya Korsel yang buat (hasil keringat mereka sendiri) tapi masih ada beberapa komponen berasal dari AS, dengan KAAN apakah tidak demikian? 🤔 kalo memang soal anggaran lagi dan lagi anggaran tak usah gengsi untuk mengakuinya