Ada yang datang dan ada yang pergi, bila di tahun 2023 TNI AU dijadwalkan akan menerima unit perdana pesawat angkut C-130J Super Hercules, maka menjelang akhir tahun ini, TNI AU juga resmi melepas atau memensiunkan salah satu armada Hercules seri lama, yakni C-130B Hercules – short body – yang selama ini dioperasikan Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. (more…)
Setelah insiden yang terjadi pada pertengahan tahun 2019, Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) kembali melakukan grounded massal pada ratusan unit armada pesawat angkut C-130 Hercules. Meski masalah crack (keretakan) yang dihadapi tidak sama dengan kasus di 2019, namun grounded 100-an unit Hercules telah berdampak pada kesiapan operasional Air Mobility Command (AMC) Angkatan Udara AS. (more…)
Di bawah kontrak senilai US$150 juta, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Unity Accipiter Corporation memulai kerja sama terkait (Maintenance Repair and Overhaul/MRO) armada pesawat angkut berat C-130 Hercules TNI AU. Kerja sama tersebut dimulai setelah general operation agreement (GOA) eksklusif ditandatangani. (more…)
Northrop Grumman cukup sukses dalam memasarkan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) AN/APG-83 Scalable Agile Beam Radar (SABR), pasalnya radar tersebut menjadi paket standar dalam produksi jet tempur F-16 Viper yang digarap Lockheed Martin. Namun, belakangan ada keinginan dari Northrop Grumman untuk memasang radar SABR selain di jet tempur. (more…)
Kemampan mobilitas dan deployment alutsista artileri medan (armed) lewat jalur udara kini menjadi perhatian bagi TNI. Setelah sebelumnya melakukan uji loading/unloading pada self propelled howitzer (SPH) CAESAR 155 mm ke ruang kargo C-130 Hercules. Kini lini kesenjataan armmed TNI AD melakukan uji loading/unloading howitzer KH-178 kaliber 105 mm berikut truk KIA KM250 sebagai kendaraan penariknya. (more…)
Dari desainnya, satu unit ranpur self propelled howitzer TRF-1 CAESAR (Camion Equipe’ d’un Syste’me d’ ARtillerie) 155 mm, memang dapat dimasukkan ke dalam ruang kargo pesawat angkut C-130 Hercules. Meski dalam kondisi sangat ngepas, toh CAESAR 155 mm dapat dimuat sukses ke ruang kargo C-130 Hercules. (more…)
Sejatinya tak ada yang baru dari dua alat utama TNI AU di foto ini, yang satu adalah pesawat angkut C-130 Hercules dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, sedangkan satunya lagi, yang akan dimasukkan ke dalam ruang kargo C-130 adalah MATC 8100 Tower, yakni menara ATC mobile. Keduanya sudah lama dioperasikan TNI AU, tapi yang menarik adalah unggahan foto yang terbilang jarang. (more…)
Salah satu peran dari pesawat angkut C-130 Hercules TNI AU adalah mendukung mobilitas helikopter ke pangkalan aju. Dan kegiatan tersebut sudah dibuktikan beberapa kali lewat pengiriman helikopter jenis NBO-105 dan Bell-412 Puspenerbad. Namun, kedua helikopter TNI AD itu merupakan jenis helikopter dengan landing skit. Sementara jarang terlihat helikopter dengan landing wheel (roda) di angkut menggunakan C-130 TNI AU. (more…)
Melihat kondisi geografis di Tanah Air, maka menuntut kolaborasi antara helikopter Puspenerbad dengan pesawat angkut C-130 Hercules TNI AU. Dengan ketersediaan helikopter TNI yang terbatas di medan operasi, maka dalam waktu singkat diperlukan kekuatan BKO (Bawah Kendali Operasi) tambahan. (more…)
Dalam operasi militer dengan intensitas tinggi, bukan perkara mudah untuk mendapatkan, memulihkan atau mengambil (recovery) sebuah drone. Mengingat relatif mudah dijatuhkan sampai di-jamming oleh lawan, maka drone intai rawan untuk dieliminasi oleh pihak lawan. (more…)