MIG-17 TNI-AU di pintu masuk Lanud Iswahyudi, Madiun
Tengah hari bolong, 9 Maret 1960, sebuah MiG-17F Fresco dari skadron udara 11 AURI, menukik ke arah Istana Merdeka. Sejurus kemudian rentetan tembakan terdengar memecah udara siang yang panas itu. Berondongan peluru menghunjam ke beberapa bagian Istana. Asalnya dari moncong kanon 23 mm Fresco bernomor 1112 yang diterbangkan Letnan II Penerbang Daniel Maukar. Untungnya Presiden Soekarno sedang tak berada di Istana ketika itu. (more…)
Sekitar sepuluh tahun silam, satu delegasi Indonesia yang dipimpin Menko Ekuin Ginanjar Kartasasmita mendarat di Moscow, ibukota Rusia. Tujuan mereka cuma satu, menyambangi pusat produksi jet tempur milik Rusia, khususnya pabrik Mikoyan-Gurevich yang memproduksi jet-jet tempur MiG dan Sukhoi OKB, yang melahirkan pesawat-pesawat perang berinisial Su.
Ginanjar yang pensiunan jenderal bintang tiga (Marsekal Madya) TNI-AU, mengemban tugas dari Presiden Soeharto, memilih jet tempur terbaik untuk memperkuat jajaran angkatan udara Indonesia. Maklum, pesawat tempur TNI-AU yang ada sudah banyak yang usang, seperti A4-SkyHawk, OV-10 Bronco. Sementara pesawat yang relatif modern semacam F-16 Fighting Falcon dan F-5E Tiger sebagian besar harus ngendon di darat gara-gara embargo senjata yang diberlakukan Amerika.
Ketika itu pemerintah AS memang memberlakukan embargo senjata kepada Indonesia, yang dianggap kurang memperhatikan HAM dan proses demokrasi. Makanya, rencana awal membeli sejumlah F-16 terpaksa batal, karena senat AS tak memberi ijin. Jangankan membeli pesawat baru, pasokan suku cadang pun dihentikan. Itu yang membuat jet-jet buatan Amerika itu tak bisa terbang.
Kokpit Flanker
Karena desakan kebutuhan, maka Indonesia mencari alternatif lain. Salah satunya adalah Rusia. Negeri yang dahulu bernama Uni Soviet ini juga punya banyak stok pesawat tempur mutakhir, tak kalah dengan produk blok barat. Karena memang diciptakan untuk menandingi peralatan perang NATO, dalam konteks lomba senjata di era perang dingin.
Setelah timbang sana timbang sini, pilihan dijatuhkan pada Su-27, pesawat tempur multi guna mutakhir yang menjadi andalan angkatan udara Rusia. Sebenarnya ada alternatif lain, seperti Mirage 2000 buatan Perancis, atau JAS Grippen buatan Swedia. Tapi pesawat buatan Eropa ini harganya mahal, lagipula agak sulit membelinya di tengah tekanan AS, yang merupakan sekutu Perancis dan Swedia ini. Sementara Sukhoi lebih murah. Bahkan setelah nego, pesawat-pesawat canggih itu bisa dibayar sebagian besar dengan sembako (barter).
Dari Rusia sendiri pilihan sebenarnya ada dua, MiG-29 Fulcrum dan Su-27 Sukhoi. Dua pabrikan itulah yang dikunjungi Ginanjar dan tim. Seorang rekan wartawan yang menyertai rombongan Ginanjar menggambarkan, pusat produksi MiG sepintas lalu tak beda dengan bengkel mobil. Sulit membayangkan bahwa di sanalah jet-jet tempur mutakhir dilahirkan. Sementara pabrik Sukhoi, kata dia, mendinganlah.
Su-30 Flanker skadron udara 11
Tapi jelas bukan soal kondisi pabrik yang jadi pertimbangan, kenapa akhirnya Indonesia memilih Sukhoi. Yang jelas pula, pesanan pertama sebanyak 12 unit Su-27SK dan Su-27MK lengkap dengan persenjataannya itu, tak terealisasi gara-gara Soeharto keburu lengser. Jet-jet tempur berparuh bengkok ini baru hadir pada tahun 2008, dua Su-27SK dan dua Su-27MK, seiring pemesanan ulang. Dilanjutkan dengan pemesanan tiga Su-27MK2 dan tiga Su-27SKM, untuk melengkapi kekuatan satu skadron Flanker, yang berbasis di Makassar.
Frontline Fighter
Sejarah Su-27 diawali pada tahun 1969. Ketika itu, Uni Soviet yang terlibat perang dingin dengan AS, mengendus bahwa rivalnya itu tengah mengembangkan jet tempur mutakhir. Proyek yang dinamakan Fighter Experimental Design itu digarap oleh pabrikan McDonnel Douglas. Misinya adalah melahirkan jet tempur serba bisa, sadis pada duel udara, ganas sebagai pencegat, dan trengginas untuk mendukung serangan darat. Dari proyek itulah kelak muncul jet tempur jempolan angkatan udara AS, F-15 Eagle.
Mengantisipasi hal itu, Soviet segera membentuk program PFI (perspektivnyi frontovoy istrebitel, Advanced Frontline Fighter), program pengembangan pesawat untuk menandingi jet tempur baru Amerika. Dalam perjalanannya, proyek ini dipecah dua, dengan pertimbangan efisiensi biaya. Yang satu menjadi LPFI (Lyogkyi PFI, atau Lightweight PFI), yang di kemudian hari melahirkan jet tempur taktis jarak pendek MiG-29 Fulcrum. Satunya lagi adalah TPFI (Tyazholyi PFI/Heavy PFI). Untuk kategori frontline fighter kelas berat itu, dipercayakan kepada Sukhoi OKB (Biro Desain Sukhoi), yang kelak berhasil melahirkan Su-27 berikut varian-variannya.
Prototipe jet ini pertama terbang pada Mei 1977. Tentu saja kemunculannya sangat dirahasiakan. Namun, tetap saja tak luput dari pengintaian satelit mata-mata AS, ketika terbang di Zhukovsky Flight Test Center, yang berada di dekat kota Ramenskoe. Pihak AS yang memberi kode RAM-K (diambil dari Ramenskoe) untuk pesawat prototipe ini, menggambarkan bahwa jet tempur tersebut memiliki sayap delta yang lebar, bermesin dua, sirip tegak ganda. Sepintas mirip dengan F-14 Tomcat milik AS. Belakangan, prototipe dengan kode T-10 ini dijuluki “Flanker-A”.
Su-30 AU Rusia
Prosesnya menuju produksi massal agak kurang mulus. Satu T-10 hancur gara-gara kecelakaan pada saat uji terbang, pada Mei 78. Sukhoi OKB lantas mendesain ulang, memperbaiki kelemahan yang ada, dan meluncurkan T-10S, prototipe berikutnya. Itupun masih kurang sempurna, menyusul kecelakaan pada uji terbang di bulan Desember 1981, beberapa bulan setelah penerbangan perdananya.
Baru setelah mengalami sejumlah penyempurnaan, SU-27 mulai masuk produksi massal pada 1982 dan resmi masuk jajaran angkatan udara Soviet pada tahun 1984. Su-27 generasi pertama, yang dijuluki “Flanker-B” oleh NATO ini, disalurkan ke departemen pertahanan udara (PVO), sebagai skadron pencegat (interceptor), menggantikan jet-jet lawas semacam Sukhoi Su-15 dan Tupolev TU-28. Sebagian lagi dimasukkan dalam jajaran angkatan udara Soviet (VVS). Meski dirancang sebagai pesawat serba guna, angkatan udara memilih memfungsikan jet tempur mutakhir ini untuk tugas membunuh armada tanker udara dan AWACS blok barat. Petinggi angkatan udara Soviet ketika itu melihat, AWACS dan pesawat tanker adalah aset vital bagi kesuksesan operasi udara blok barat. Dengan mematikan dua aset maha penting itu, dijamin skadron penempur barat tak bakal banyak berkutik.
Penempur Revolusioner
Boleh dibilang Flanker adalah salah satu masterpiece industri pesawat tempur Rusia. Dirancang sebagai pesawat serba bisa, ganas sebagai pencegat (interceptor), trengginas untuk duel udara (fighter), dan mumpuni untuk mendukung serangan darat (air support/attacker). Mampu terbang di segala cuaca, bahkan menembus badai sekalipun. Tetap garang meski diterbangkan di udara kutub yang beku, dan tetap handal saat dioperasikan di suhu lembab dan panas wilayah tropis.
Tak seperti jet-jet tempur Soviet sebelumnya yang umumnya tampak kuno dan kaku, Flanker sudah memiliki bentuk futuristik dan modern. Sudah pula menerapkan teknologi fly by wire dengan kokpit digital. Bodinya sungguh streamline, meski berukuran besar untuk sebuah fighter. Menggunakan sirip tegak ganda, dan sayap luas mirip sayap delta –namun bukan sayap delta. Body Flanker terbuat dari titanium dan aluminium alloy berkekuatan tinggi, sehingga menghasilkan pesawat yang seringan kaleng namun sekokoh baja.
Mesinnya sendiri menggunakan dua Lyulka Saturn AL-31-F Turbofan, yang masing-masing memiliki tenaga dorong 12.550 kg. Mesin ini didesain dan dibuat oleh Lyulka Engine Design Bureau (NPO Saturn). Lubang air intake yang berada di bagian bawah, memiliki jarak lumayan lebar antara satu dengan yang lainnya. Tujuannya, selain alasan faktor safety, juga menambah luas permukaan untuk daya angkat pesawat. Selain, ruang antara dua mesin itu bisa dipakai untuk menggendong persenjataan.
Lubang air intake dilindungi semacam kisi-kisi, untuk mencegah debu dan partikel lain masuk ke mesin. Terutama saat take off dan landing. Sementara lubang sembur jetnya, menggunakan konsep thrust vectoring. Teknologi revolusioner ini memungkinkan arah semburan jet bisa diatur, sesuai dengan pergerakan pesawat. Itu yang membuat Flanker punya kemampuan hebat dalam manuver. Konsep ini kemudian pernah dicoba ditiru Amerika, namun tak sesukses pesaingnya dari Rusia itu.
Karena itulah, Flanker mampu menggendong arsenal dengan total berat 6000 kg. Termasuk di antaranya, 10 misil udara ke udara (AA), yang terdiri dari misil jarak menengah dengan semi active radar homing jenis R-27R1 (NATO menyebutnya AA-10A Alamo-A), misil AA jenis R-27-T1 (AA-10B Alamo-B) yang punya jangkauan 500 m hingga 60 km dan dipandu dengan infrared, serta R-73E (AA-11 Archer) yang berguna untuk pertempuran jarak dekat berpanduan infrared, dan mampu menerkam musuh dari jarak 300 m hingga 20 km.
Alat gebuk lainnya adalah rudal udara ke darat, serta aneka bom freefall seberat 100kg, 250 kg, dan 500 kg, bom cluster (25 kg – 500 kg) dan roket C-8, C-13, dan C-25. Plus, canon 30 mm jenis Gsh-301 yang mampu memuntahkan peluru 150 butir per putaran serta jarak jangkau sejauh jangkauan misil jarak pendek.
Sistem pembidian dan penguncian target terintegrasi dengan helm penerbang. Kaca helm mampu menampilkan display layar bidik, dengan sistem look down shot down. Jadi, pilot cukup menoleh ke sasaran, dan sistem radarnya akan mengunci sasaran. Tinggal tekan pelatuk, maka misil Alamo atau Archernya akan melesat mengejar sasaran. Hebatnya lagi, Flanker mampu mengunci sepuluh sasaran sekaligus.
Itu bisa dilakukan karena Flanker didukung dengan sistem radar Phazotron N001 Zhuk coherent pulse doppler radar. Jangkauan radarnya luar biasa, mampu mencium dan melacak target seluas 3 meter persegi yang berada 100 km di depan pesawat, dan 40 km di belakang pesawat. Su-27 menggunakan sistem pembidik infrared search and track (IRST), yang ditempatkan di bagian depan kokpit. Sistem ini terintegrasi dengan sistem laser range finder. Sistem ini bisa digabungkan dengan sistem radar, dan bisa pula bekerja terpisah, apabila pilot hendak melakukan serangan diam-diam (stealth attack).
Sementara untuk menghindari dari bokongan lawan, Su-27 punya perlengkapan countermeasure elektronik, yang mampu memberi peringatan kepada pilot, baik secara individual maupun untuk gugus terbang. Sistem peringatan ini terdiri dari radar peringatan, chaff dan infrared decoy –keduanya perangkat pengalih kejaran misil, dan multi-mode jammer aktif, yang ditempatkan di wingtip.
Sebagai pesawat serba guna, Flanker bisa melejit dengan kecepatan 2.500 km per jam (mach 2,35) pada ketinggian jelajah. Kemampuan menanjaknya 325 meter per detik, atau 64 ribu kaki per menit. Flanker sudah mampu mencapai ketinggian terbang maksimal (18,5 km) dalam waktu kurang dari semenit.
Patukan Cobra
Tapi bukan itu saja yang membuat blok barat ngeri terhadap kemunculan Flanker. Keunggulan utamanya adalah kemampuan manuver yang sangat tinggi, paling tinggi dibanding jet-jet tempur yang pernah ada. Bahkan disebut-sebut sebagai pesawat tempur tak tertandingi untuk urusan tarung udara (dog fight).
Manuver Cobra Pugachev
Bagaimana tidak, Flanker mampu membuat belokan tajam dengan radius sangat kecil. Dengan mudah melakukan loop (gerakan lingkaran ke atas) dengan radius yang nyaris nol. Pilot bisa dengan enaknya mengendalikan dan meliuk-liukkan pesawat meski dalam kecepatan rendah dan dalam ketinggian rendah. Manuver akrobat semacam Immelman dan split-S dilakukan nyaris tanpa radius putar.
Dan yang paling spektakuler adalah manuver pagutan cobra, atau Cobra Pugachev. Manuver ini kira-kira bisa dijelaskan begini: Pesawat melaju datar, lalu dengan tetap bergerak datar, moncong bengkoknya mulai mendongak, dan terus mendongak hingga sudut 120 derajat (seperti menengadah). Setelah beberapa saat, moncongnya kembali ke posisi awal. Mirip dengan gerakan ular kobra yang siap mematuk. Manuver luar biasa yang diperkenalkan oleh Viktor Pugachev, pilot uji Sukhoi OKB, memberikan sudut serang (angle of attack) sangat besar, yang membuat pesawat lawan hanya punya kemungkinan selamat 1% saja.
Di tangan pilot trampil, Flanker juga bisa digenjot mendaki tegak lurus, lantas pada puncaknya, pesawat seakan-akan berhenti dan mengambang di angkasa. Detik berikutnya, pesawat seperti jatuh (stall), padahal dengan satu gerakan ringan, pesawat sudah kembali ke posisi normal. Kemampuan hebat itu, didapat dari rancangan lubang sembur jet yang dinamakan thrust vectoring. Lubang sembur Flanker bisa bergerak-gerak, mengikuti arah gerakan pesawat. Ditambah dengan rancang aerodinamika yang kompak, membuat Flanker mampu menari-nari di angkasa dengan enteng.
Combat Proven?
Kemampuan manuver yang super hebat itu, di satu sisi memang mengundang decak kagum dan membuat miris kompetitornya. Meskipun di lain pihak, terutama dari kalangan pilot Amerika, menyebut kemampuan manuver seperti itu tak banyak guna di era perang udara modern, yang lebih mengandalkan serangan jarak jauh lewat rudal yang makin akurat mengejar target. Sederhananya: “Silahkan saja Anda meliuk-liuk, toh kami masih bisa mengunci dan menembak Anda dari jauh.”
Pada kasus itu memang membuktikan perbedaan filosofi tarung udara antara blok barat dan Rusia. Pihak Barat, yang lebih mementingkan keamanan dan keselamatan pilot, cenderung mengembangkan pesawat-pesawat yang punya kemampuan mendeteksi, mengunci dan menembak sasaran dari jarak sangat jauh (long range), plus perangkat pengacau elektronik (jamming). Ini untuk mendukung taktik hit and run, atau istilahnya “Fire and Forget”, lepaskan rudal dan biarkan rudal yang mencari sasaran, sementara pilot langsung cikar kanan untuk menghindari dogfight. Sementara Rusia, justru mengembangkan jet-jet yang mampu bertempur jarak dekat. Flanker dan turunannya adalah contoh bagus bagi filosofi ini.
Su-30 AU India dengan beragam rudal udara ke udara
Meski diklaim sebagai petarung udara terbaik saat ini, pada kenyataanya Flanker belum pernah teruji pada medan pertempuran sesungguhnya. Beda dengan kompetitornya, F-15, yang sudah merasai sejumlah kancah tempur. Dan belum pernah kejadian juga Flanker terlibat adu jago sesungguhnya dengan jet-jet saingan dari blok barat.
Duel udara antara Flanker dengan jet-jet NATO semacam F-15 Eagle baru sebatas dilangsungkan di simulator. Pada beberapa simulasi dogfight yang melibatkan Flanker, jet andalan Rusia itu bisa dengan mudah mengungguli lawan-lawannya.
Namun begitu, tercatat Flanker pernah terjun pula di peperangan, meski dalam skala kecil. Pada Februari 1999, skadron Su-27 milik Ethiopia dilaporkan terlibat bentrok dengan kelompok MiG-29 milik Eritrea. Pada insiden itu, lima MiG-29 berhasil dirontokkan Flanker. Pada November 2000, sebuah Flanker milik angkatan udara Angola, ditembak jatuh oleh misil SA-14 darat ke udara yang ditembakkan pasukan UNITA. Yang teranyar adalah keterlibatan Flanker dari angatan udara Rusia dalam perang di Ossetia Selatan pada 2008. Flanker diterjunkan untuk misi menguasai wilayah udara Tskhinvalli, ibukota Ossetia Selatan. Yang jelas, dalam aksi-aksi tempur tersebut, Flanker memang tak berhadapan dengan lawan sepadan.
Pilihan Tepat
Buat Indonesia, Flanker adalah pilihan tepat. Secara teknis, Flanker paling pas untuk melakukan misi patroli udara untuk mengcover wilayah Indonesia yang terbentang mencapai 5000 km ini. Jet canggih ini mampu menempuh jarak tempur 3.000 km, tanpa perlu pengisian bahan bakar di udara. Juga cocok untuk digunakan mencegat penyusupan pesawat musuh (interceptor), dengan kemampuan lepas landas dan climbing rate yang fantastis.
Faktor rendahnya biaya operasi serta harganya yang relatif murah dibanding F-16 sekalipun, makin membuat Flanker pilihan ideal untuk memperkuat skadron udara Indonesia.Apalagi, pemerintah Rusia tak keberatan bila jet canggih ini dibayar sebagiannya dengan sembako. Dan tak ada embel-embel embargo pula. Saat ini Indonesia suah memiliki tujuh dari rencana sepuluh unit Flanker, yang terdiri dari dua varian. Yakni, Su-27SK berkursi tunggal dan Su-30MK yang berkursi ganda (bisa digunakan sebagai pesawat latih). (Aulia Hs)
Tahun 1962, Indonesia tengah bersitegang dengan Belanda soal Irian Barat. Indonesia mengklaim wilayah itu merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara Belanda berpendapat lain, dan tetap menduduki Irian Barat, yang kini dikenal sebagai Propinsi Papua. Dan tampaknya, perselisihan itu akan diselesaikan lewat jalur perang.
Maka Presiden Soekarno, memerintahkan mempersiapkan Operasi Trikora, nama untuk operasi militer dalam rangka pembebasan Irian Barat. Segala sarana tempur dan kekuatan militer mulai digeser ke kawasan Timur, dengan basisnya di Makassar. Meski sempat terjadi bentrokan-bentrokan kecil antara kedua kekuatan militer yang sedang berhadapan itu –termasuk gugurnya Komodor Laut Yos Soedarso di Laut Aru—tapi perang besarnya sendiri tak pernah terjadi. Konflik itu selesai lewat jalur diplomatik, ketika PBB menekan Belanda untuk menyerahkan Irian Barat ke pangkuan Indonesia. Belanda menurut.
Air Intake MIG-21 (Foto : Haryo Adjie)
Melunaknya sikap Belanda, yang notabene masih merasa superior kepada bekas negeri jajahannya, bukan tanpa sebab. Ketika kedua negara bersitegang, pesawat pengintai milik angkatan udara Amerika Lockheed-U2s yang berpangkalan di Taiwan, beberapa kali wara-wiri di atas angkasa Indonesia. Apalagi tujuannya kalau bukan mengintip kekuatan militer Indonesia, yang ketika itu sedang berbulan muda dengan Uni Soviet.
Hasil pengintaian itu membuat cemas Amerika, yang segera mengabarkan sekutunya itu. Mereka menyarankan Belanda agar “kabur” saja dari Irian Barat, ketimbang babak belur dihajar angkatan perang Indonesia. Itu juga yang mendorong PBB ikut menekan Belanda untuk menyerahkan Irian Barat. Belanda yang “tahu diri” segera angkat kaki dari Bumi Cendrawasih pada 1963.
Maklum jika Belanda jiper. Berkat kedekatan dengan Uni Soviet, Indonesia menjadi negara yang memiliki kekuatan udara paling kuat di Asia. Negeri Komunis itu bermurah hati dengan mengirimkan pesawat-pesawat perang paling modern pada era itu. Di antaranya adalah pembom TU-16, yang mampu menggendong misil udara ke darat AS-1 Kennel, yang punya jangkauan jauh serta daya hancur yang dahsyat. Di antara jejeran jet tempur, ada MIG 21 yang punya nickname versi NATO Fishbed. Inilah jet tempur jenis pencegat yang paling modern di dunia pada saat itu.
Sementara Belanda, masih mengandalkan pesawat sisa perang dunia kedua semacam P51 Mustang, serta jet-jet tempur semacam Vampire, Hawker Hunter, yang jauh kalah kelas dengan Fishbed. Makanya, Belanda memilih amit mundur ketimbang hancur lebur. Walaupun itu menyebabkan skadron Fishbed milik AURI tak sempat unjuk digdaya di langit Irian.
Gabungan Fighter dan Interceptor
MIG 21 dibuat oleh pabrikan Mikoyan Gurevich. Diciptakan untuk memenuhi permintaan angkatan udara Soviet akan sebuah pesawat tempur pencegat (interceptor) yang mampu terbang supersonic. Prototipe yang diberi kode E5, dengan rancang sayap ayun, berhasil terbang pada tahun 1955. Selanjutnya, prototipe pertama yang bersayap delta, YE4, berhasil mengudara setahun berikutnya. MIG 21 memasuki produksi massal pada tahun 1959. Indonesia mulai menerimanya pada tahun 1960.
Visual Kokpit MIG-21
NATO menjuluki jet tempur ini dengan sebutan “Fishbed”. Sementara Soviet sendiri, menjuluki jet andalannya ini dengan nama “Balalaika”. Nama itu diambil dari nama sejenis alat musik tradisional Rusia, yang bentuknya mirip dengan bentuk badan (fuselage) MIG 21. Julukan lainnya adalah olowek, yang artinya pensil. Pesawat ini memang ramping, bagian fuselage paling lebar cuma 1,24 meter.
Rancangan sayap delta merupakan hasil penggabungan karakteristik sebagai pesawat penempur (fighter) dan pencegat (interceptor). Tapi sejatinya, MIG 21 dirancang sebagai pesawat pencegat, dengan fungsi utama merontokkan armada-armada pesawat serang darat blok barat, seperti F-105 Thunderchief. Fishbed hadir untuk mengungguli F-104 Starfighter buatan Amerika dan Mirage III buatan Perancis.
Kemampuannya memang hebat. Mesin tunggal Tumansky R-11 F300 turbo jet bekerja efisien untuk menghasilkan tenaga dorong sebesar 5740 kgf, dan mengantarkannya menembus kecepatan mach 2,1. Air intake pesawat ini berada di moncong depan, dengan kerucut moncong yang bisa bergerak maju mundur. Fungsinya adalah mengendalikan aliran udara ke mesin untuk menyesuaikan dengan kecepatan terbang. Di sisi kiri kanan moncong, ada kisi-kisi yang berfungsi menambah pasokan udara ke mesin tatkala pesawat hendak take off maupun sedang taxying di darat.
MIG-21 2000 produksi Isreal, versi MIG-21 paling canggih saat ini. Tampak moncong di air intake dipangkas
Jet tempur berbobot ringan ini punya kemampuan menanjak yang jempolan. Dengan bahan bakar 50% plus dua rudal udara ke udara, Fishbed mampu menanjak 58 ribu kaki (sekitar 19 ribu meter) per menit. Artinya, kurang dari semenit Fishbed sudah mampu berada di ketinggian pesawat penyusup musuh, dan menghajarnya dengan rudal Vympel K-13, rudal udara ke udara yang bekerja dengan mencari jejak panas pancaran jet lawan. Di kalangan barat dikenal dengan sebutan AA-22 Atol. Fishbed juga dibekali dengan dua kanon NR-30 kaliber 30 mm. Serta mampu mengangkut dua bom masing-masing seberat 500 kg. Pylon di fuselage juga bisa dicanteli tangki bahan bakar cadangan berkapasitas 450 liter.
Bagaimanapun, versi pertama MIG 21 ternyata mencatat banyak kelemahan. Rudal Vympelnya ternyata tidak begitu sukses ketika dipakai bertempur. Sementara jendela bidik (gyro gunsight) acapkali mati saat dipakai dalam manuver tinggi. Ini membuat MIG 21 yang digadang-gadang sebagai pesawat pencegat jempolan, menjadi jet tempur yang tidak efektif.
Kokpit modern MIG 21-2000
Namun kekurangan itu segera diperbaiki pada versi-versi berikutnya. Hanya saja, perbaikan itu tetap tak bisa menutupi kelemahan pada beberapa aspek. Jarak jangkau misalnya, sebagai interceptor MIG 21 hanya punya jarak jangkau pendek. Titik keseimbangan pesawat juga bermasalah ketika bahan bakar sudah terpakai dua pertiga, di mana center of gravitynya bergeser ke belakang. Ini menyebabkan pesawat jadi sulit dikendalikan. Karena itu, endurance optimal pesawat ini hanya 45 menit saja. Sayap deltanya memang sangat membantu dalam kecepatan menanjak, namun menjadi bumerang ketika pesawat ini melakukan belokan-belokan tajam karena kecepatannya langsung melorot drastis. Radarnya juga bukan tipe radar dengan jarak jangkau yang jauh.
Persoalan lain adalah rancangan kursi lontar. Maksud hati perancangnya adalah membuat kursi lontar yang aman bagi pilot. Kursi lontar SK-1 dibuat sedemikian rupa sehingga menyatu dengan kanopi. Jadi, ketika pilot menarik tombol eject, kursi dan kanopi masih melekat satu sama lain, yang tujuannya melindungi pilot dari terpaan angin dan pecahan pesawat. Kanopi baru lepas beberapa saat kemudian, dan pilot bisa aman melayang turun dengan parasut. Problemnya adalah ketika pilot melontar pada ketinggian rendah. Rupanya proses lepasnya kanopi terlalu lama, sehingga pilot keburu berdebam ke tanah, tak keburu membuka parasut.
Combat Proven
Toh, dengan segala kelemahan itu, nyatanya MIG 21 tetap menjadi momok menakutkan bagi blok barat. Terutama ketika Fishbed varian MIG-21F berada di tangan pilot-pilot kawakan dari Vietnam’s People Air Force/VPAF (Angkatan Udara Vietnam). Dalam kancah perang Vietnam, Fishbed tampil efektif sebagai jet tempur, dan sukses menghalau serangan udara jet-jet Amerika.
Para penerbang Fishbed Vietnam, biasanya beroperasi dengan bimbingan ground control interceptor (GCI), radar pencegat yang dioperasikan di permukaan, sebagai penutup kelemahan Fishbed akan tak adanya long range radar. GCI inilah yang membimbing kawanan Fishbed menuju sasaran, yang umumnya kelompok jet serang darat F-105. Begitu sasaran ketemu, mereka melakukan aksi hit and run, mengincar target dari belakang, menghajarnya dengan Atol dan siraman canon, lalu bergegas lari pulang.
MIG-21 produksi Cina (F7) dengan arsenal persenjataan
Taktik seperti itu sangat efektif dalam menjatuhkan pesawat lawan. Atau paling tidak, memaksa pesawat lawan menjatuhkan bom secara dini (bukan di areal target), agar pesawat bisa bermanuver lebih lincah untuk menghindari sergapan Fishbed. Ditambah lagi dengan taktik konservatif armada udara Amerika, yang cenderung melakukan operasi lewat jalur yang sama, dengan waktu yang sama pula. Sehingga, pilot-pilot Vietnam tahu betul “kebiasaan” itu, dan tahu persis pula, di mana tempat paling enak buat mencegat pesawat lawan.
Kekalahan telak dari pilot-pilot VPAF itulah, yang sebagian dari mereka menunggangi MIG 21F, yang mendorong Amerika mendirikan sekolah pilot pesawat tempur. Salah satu yang terkenal adalah sekolah pilot tempur milik angkatan laut “Navy Top Gun”, yang berlokasi di Miramar, AS. Nguyen Van Coc, salah satu penunggang MIG-21F, sukses menjadi top ace perang Vietnam dengan 9 kills. Seorang pilot MIG-21F VPAF bernama Pham Tuan, bertanggung jawab atas rontoknya pembom berat Amerika, B-52, yang sedang terbang di atas Hanoi, Vietnam, untuk mendukung operasi Linebacker II.
Fishbed juga digunakan secara ekstensif dalam sejumlah konflik yang terjadi di Timur Tengah, yang melibatkan Siria, Mesir dan Israel. MIG-21 Siria berhadapan dengan Mirage IIIC Israel, pertama kali pada April 1967. Kali ini MIG-21 yang keok, dengan ratio kekalahan 6 MIG rontok berbanding nol, alias tak ada Mirage Israel yang tertembak jatuh.
Tapi pada perang Yom Kippur, tepatnya pada pertempuran udara di atas El Mansoura, ceritanya lain. Israel meluncurkan 100 pesawat terdiri dari F-4 Phantom dan A-4 Skyhawks. Mereka dihadang skadron MIG-21 Mesir. Dalam pertempuran udara yang berlangsung kurang dari sejam itu, laporan pasca perang menyebutkan, 17 jet Israel dirontokkan pilot-pilot Mesir. Sementara Mesir, hanya kehilangan 6 MIG. Itupun hanya tiga yang benar-benar ditembak jatuh musuh. Dua lainnya, jatuh gara-gara kehabisan bahan bakar saat hendak pulang ke pangkalan, dan satu lagi, meledak tatkala terbang menembus kepingan jet Israel yang meledak terkena tembakan lawan. Mesinnya menghisap kepingan jet Israel.
Angkatan udara India, yang tercatat sebagai pengguna terbesar MIG-21, juga pernah menerjunkan Fishbed dalam sejumlah kancah. DI antaranya pada perang Indo-Pakistani pada 1971, di mana MIG-21 India berhasil merontokkan F-104 Starfighter milik Pakistan. India masih menerjunkan Fishbed pada perang Kargil di tahun 1999, yang mana dalam perang singkat itu, dilaporkan satu Fishbed hancur terkena misil darat ke udara Pakistan. Tahun itu juga dilaporkan, MIG-21 India menembak jatuh pesawat pengintai Breguet Atlantique milik Angkatan Laut Pakistan.
Di kancah Afrika, MIG-21 terlibat dalam perang antara Ethiopia dan Somalia. Dalam perang tersebut, sejumlah MIG-21 milik Somalia berhasil dirontokkan F-5Es Tiger Ethiopia yang disuplai Amerika, tanpa kehilangan satu pesawatpun. Ironisnya, Ethiopia juga menerima varian MIG-21s Bis dari Kuba. Dalam simulasi dogfight, F-5Es yang dikemudikan pilot Ethiopia, berhasil menang telak atas MIG-21 Bis yang diterbangkan pilot top Kuba.
Pencatat Rekor
Sampai saat ini MIG-21 tercatat sebagai jet tempur supersonic yang paling banyak diproduksi. Total jumlahnya mencapai 10.152 unit, itu untuk yang diproduksi di Soviet saja. Belum termasuk yang diproduksi di India dan Cina. Kedua negara itu mendapat lisensi pembuatan Fishbed, karena menjadi pengguna terbesar. Di Soviet, Fishbed dirakit di tiga pabrik, GAZ 30 berlokasi di Moskow untuk produksi tipe kursi tunggal untuk keperluan ekspor, GAZ 21 di Gorky untuk produksi single seater untuk pesanan angkatan udara Soviet, dan GAZ 31 di Tbilisi yang memproduksi tipe kursi ganda untuk ekspor dan pesanan dalam negeri.
Catatan rekor lain adalah pesawat tempur yang paling banyak diproduksi sejak Perang Korea. Serta pesawat yang periode produksinya paling lama. Sejumlah varian juga pernah dirancang untuk memecahkan rekor penerbangan. Di antaranya adalah varian YE-66, yang dirancang untuk memecahkan rekor kecepatan terbang. Lalu varian YE-66A dirancang untuk memecahkan rekor ketinggian. Sementara YE-66B dirancang untuk memantapkan rekor waktu tercepat mencapai ketinggian untuk wanita. Varian YE-76 dibuat untuk memantapkan rekor kecepatan bagi wanita.
MIG-21 versi Latih dengan dua kursi, milik AU India
Fishbed juga masih digunakan banyak negara hingga kini. Paling tidak ada 22 negara yang masih mengoperasikan MIG-21, tentu dengan varian yang sudah di-up grade. Di antaranya, Vietnam yang punya 124 unit, Korea Utara dengan 150 unit, India dengan 428 unit. Indonesia termasuk di antara 30 negara yang pernah mengoperasikan MIG-21. Kini, sisa kejayaan AURI itu menjadi monumen di depan Museum Satria Mandala Jakarta, dan menjadi salah satu koleksi di Museum Dirgantara Adi Soetjipto, Jogjakarta. Tampang sangarnya masih juga menggetarkan. (Aulia Hs)
Spesifikasi Teknis
• Awak : Satu orang
• Panjang : 15.76 m including probe (51 ft 8 in)
• Bentang sayap : 7.15 m (23 ft 5 in)
• Tinggi : 4.12 m (13 ft 6 in)
• Wing area : 23 m² (247.5 ft²)
• Berat kosong : 5,350 kg (11,800 lb)
• Berat dengan beban: 8,726 kg (19,200 lb)
• Max takeoff weight: 9,660 kg (21,300 lb)
• Mesin : R-11 F300 afterburning turbojet, 53 kN
Performance
• Maximum speed: 2230 km/h (1385 mph) (Mach 2.1)
• Janbgkauan : 1160 km
• Ferry range : 1800 km with three external fuel tanks ()
• Service ceiling : 62,300 ft
• Rate of climb : 225 m/s (23,600 ft/min but with 50 per cent fuel and two AA-2 “Atoll” missiles, the MiG-21 can reach 58,000 feet [17,600 meters] in one minute which results in 293 m/s average at different altitudes, under favorable weather circumstances)
• Wing loading: 379 kg/m² (77.8 lb/ft²)
• Thrust/weight: 1.02 at max. takeoff weight, 1.13 at loaded weight with max. afterburner
Armament
MiG-21MF armed with R-3 (AA-2) air-to-air missile and UB-16 launcher for S-5 rockets.
F-86 Sabre di Museum Dirgantara Mandala – Yogyakarta
Buah dari krisis politik pasca tumbangnya partai Komunis Indonesia, maka berakhir pula era persenjataan asal blok timur. Sejak ditinggalkan oleh Uni Soviet, tak ada cara lain bagi Indonesia untuk melirik arsenal senjata asal blok barat. Salah satu arsenal tempur di era transisi itu adalah F-86 Sabre. Sebuah jet tempur berkursi tunggal yang legendaris di era perang Korea.
Sabre pertama kali diproduksi tahun 1953, kehadirannya tepat waktu dengan momentum perang Korea, perang Taiwan dan perang India Pakistan. Dalam perang Korea Sabre menjadi lawan berat jet tempur MiG-15 dari Korea Utara. Alhasil pasca perang Korea, nama Sabre ikut terdongkrak dan laku keras dibeli oleh banyak negara.
Sabre TNI-AU saat masih operasional
Hingga tahun 1980 Sabre telah diproduksi 11.786 unit, yang merupakan gabungan dari produksi oleh tiga pabrik, North America, juga diproduksi di Kanada, dan tak ketinggalan lisensinya dibeli Avon Sabre, pabrik pesawat dari Australia yang memproduksi Sabre sebanyak 112 unit. Dilihat dari jumlah produksinya, Sabre menjadi jet tempur yang paling banyak diproduksi di era perang dingin.
TNI-AU di tahun 1973 juga diperkuat dengan 23 unit Sabre dalam program Garuda Bangkit. Sabre yang dioperasikan TNI-AU adalah buatan Australia, karena dibuat oleh Avon, dinamakan Avon Sabre. Walau hanya diproduksi 112 unit, jenis yang diterima TNI-AU adalah versi terbaik dengan peningkatan 60 persen dari struktur rancang bangunnya untuk bisa membawa dua kanon 30mm Aden.
Kokpit F-86 Sabre
Dikenal sebagai pesawat yang lincah, Sabre dipercaya untuk memperkuat tim aerobatik di banyak negara. Pun TNI AU di era tahun 70-an juga membentuk Spirit-78 sebagai tim aerobatik andalan di masa itu. Sabre sendiri masuk dalam jajaran operasional skadron 14 yang bermarkas di lanud Iswahyudi, Madiun.
Ada informasi yang menyebut kedatangan Sabre untuk Indonesia didasari alasan politik militer. Konon kabarnya Indonesia bisa mendapatkan Sabre dengan syarat menonaktifkan operasional pembom Tu-16. Maklum meski sudah di embargo oleh Uni Soviet, TNI-AU sampai era tahun 70-an masih sanggup menerbangkan stok terakhir armada bomber Tu-16 lewat cara kanibalisasi suku cadang.
Saat ini kiprah Sabre tinggal sebuah kenangan, salah satunya menjadi etalase yang menghiasi museum Dirgantara Yogyakarta. Beberapa Sabre juga bisa Anda temui sebagai ikon di beberapa bandara di Tanah Air. Tapi ada yang cukup mengherankan, di Bolivia jet tempur ini baru non aktif pada tahun 1993. Artinya lebih dari 41 tahun jet tempur ini beroperasi. Luar biasa….. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi F-86 Sabre
* Crew: 1
* Length: 37 ft 1 in (11.4 m)
* Wingspan: 37 ft 0 in (11.3 m)
* Height: 14 ft 1 in (4.5 m)
* Wing area: 313.4 sq ft (29.11 m²)
* Empty weight: 11,125 lb (5,046 kg)
* Loaded weight: 15,198 lb (6,894 kg)
* Max takeoff weight: 18,152 lb (8,234 kg)
* Powerplant: 1× General Electric J47-GE-27 turbojet, 5,910 lbf (maximum thrust at 7.950 rpm for five min) (26.3 kN)
* Fuel provisions Internal fuel load: 437 gallons (1,650 l), Drop tanks: 2 x 200 gallons (756 l) JP-4 fuel
Performance
* Maximum speed: 687 mph at sea level at 14,212 lb (6,447 kg) combat weight
also reported 678 mph (1,091 km/h) and 599 at 35,000 feet (11,000 m) at 15,352 pounds (6,960 kg). (597 knots, 1,105 km/h at 6446 m, 1,091 and 964 km/h at 6,960 m.)
* Range: 1,525 mi, (1,753 NM, 2,454 km)
* Service ceiling 49,600 ft at combat weight (15,100 m)
* Rate of climb: 8,100 ft/min at sea level (41 m/s)
* Thrust/weight: 0.38
* Stalling speed (power off): 124 mph (108 kt, 200 km/h)
* Landing ground roll: 2,330 ft, (710 m)
* Lift-to-drag ratio: 15.1
* Time to altitude: 5.2 min (clean) to 30,000 ft (9,100 m)
Armament
* Guns: 6× 0.50 in (12.7 mm) M2 Browning machine guns (1,602 rounds in total)
* Rockets: variety of rocket launchers; e.g: 2× Matra rocket pods with 18× SNEB 68 mm rockets each
* Missiles: 2× AIM-9 Sidewinders
* Bombs: 5,300 lb (2,400 kg) of payload on four external hardpoints, bombs are usually mounted on outer two pylons as the inner pairs are wet-plumbed pylons for 2× 200 gallons drop tanks to give the Sabre a useful range. A wide variety of bombs can be carried (max standard loadout being 2 x 1,000 lb bombs plus 2 drop tanks), napalm bomb canisters and can include a tactical nuclear weapon.