
Bom penetrator sebagai penghancur bunker identik dalam operasi serangan udara yang menyasar sasaran terpilih. Dari nama-nama bom penetrator, kebanyakan adalah buatan Amerika Serikat dan Barat, sementara Cina juga punya bom penetrator dengan kemampuan presisi. Salah satu yang relatif baru dan populer adalah YJ-1001-1 dengan berat 1.000 kg. (more…)

Meningkatnya eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina secara langsung membawa kekhawatiran besar bagi negara-negara NATO yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Rusia. Seperti Estonia yang mempunyai garis perbatasan darat dan air yang panjang dengan Rusia, telah mengumumkan kesediaan dan kesiapannya untuk menampung jet tempur F-35A yang memiliki kemampuan serangan nuklir. (more…)

Meski jarang terdengar aktivitasnya, rupanya untuk misi anti kapal selam (AKS), TNI AL masih mengandalkan bom laut (depth charge). Seperti pada Pameran Alutsista TNI 2023 di Lapangan Monas, TNI AL memperlihatkan jenis bom laut tipe BB-1. (more…)

Serangan udara yang dilancarkan Israel ke ibu kota Iran, Teheren, pada bulan Juni lalu telah ‘membuka mata’ negara-negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, yaitu tidak ada kota yang aman dari serangan Israel, meski status militer negara yang dimaksud dikenal kuat sekalipun. Selama masih dalam jangkauan serangan udara Israel, maka tak ada yang tak mungkin untuk diserang Negeri Zionis. (more…)

Improvisasi mutlak dilakukan dalam peperangan, terlebih bila ada keterbatasaan pada kemampuan alutsista yang ada. Seperti pada Perang Falkland (Malvinas) di tahun 1982, salah satu yang menjadi titik lemah upaya ofensif Argantina adalah tiadanya pesawat pembom. (more…)

Guna mendapatkan presisi, serangan udara ke permukaan dari jet tempur umumnya mendapat dukungan dari Forward Air Controller (FAC) atau Joint Terminal Attack Controller (JTAC). Namun, dengan dinamika peperangan, dan kebutuhan untuk lebih mengamankan pasukan kawan yang berada di darat, maka dicetuskan solusi yang memanfaatkan keberadaan drone quadcopter untuk memandu serangan udara. (more…)

Kelas bom berat konvensional dengan bobot sekitar 2.000 pon (907–970 kg) kini tengah dibidik Turki, tapi ini bukan sembarang berat yang menjadi acuan, melainkan bom ini diklaim sebagai “bom non-nuklir terkuat”. Yang dimaksud adalah Gazap, bom konvensional yang diperkenalkan pada International Defence Industry Fair (IDEF) 2025 di Istanbul. (more…)

Bersama dengan jet tempur Gripen, F-16 Fighting Falcon juga dikerahkan Angkatan Udara Thailand untuk melancarkan serangan presisi ke basis militer Kamboja di perbatasan. Dan terkait serangan udara dari F-16, kabar beredar mengindikasikan penggunaan bom pintar (smart bomb) buatan LIG Nex1, KGGB (Korean GPS-Guided Bomb). (more…)

Selain amunisi mematikan pada sasaran terpilih, dalam serangan ofensif modern juga tak dikesampingkan pemggunaan amunisi yang ‘tidak mematikan’ alias tanpa hulu ledak, namun imbasnya dapat membuat sengsara ratusan ribu bahkan jutaan orang, baik militer dan sipil. Jenis amunisi yang dimaksud adalah bom grafit (graphite bomb), meski bukan jenis senjata baru, namun belum lama Cina mengembangkan sesuatu yang beda dari amunisi penyasar pembangkit tenaga listrik ini. (more…)

Akun X (d/h Twiter) Clash Report pada 28 Juni 2025 menyebutkan bahwa untuk pertama kalinya Rusia melancarkan serangan dengan ‘bom berpemandu’ hingga mencapai Dnipro, salah satu kota terbesar di Ukraina bagian tengah, yang berjarak sekitar 100 km dari garis depan pertempuran. Sumber menyebutkan amunisi yang digunakan adalah Grom-E1. (more…)