Akhir Era Jump Jet: USMC Resmi Pensiunkan AV-8B Harrier II, Amankan Rantai Pasok Suku Cadang Terakhir

Sebuah era dalam sejarah penerbangan militer global resmi berakhir di Marine Corps Air Station (MCAS) Cherry Point, North Carolina. Marine Attack Squadron 223 (VMA-223), yang merupakan skuadron Harrier terakhir milik Korps Marinir Amerika Serikat (USMC), menggelar upacara pelepasan resmi atau sundown ceremony untuk menyudahi masa bakti jet tempur legendaris AV-8B Harrier II.
Setelah lebih dari empat dekade mengudara dan menjadi ujung tombak dalam berbagai palagan besar—mulai dari Operasi Desert Storm, Perang Irak, hingga kampanye udara menumpas ISIS—pesawat berkemampuan Vertical and Short Take-off and Landing (V-STOL) ini akhirnya menyelesaikan tugas terakhirnya, yaitu misi pencegatan penyelundup narkoba di kawasan Karibia.
Pensiunnya Harrier II sekaligus membuka jalan bagi transisi penuh Korps Marinir AS menuju armada jet tempur siluman generasi kelima, Lockheed Martin F-35B Lightning II. Bagi para veteran dan penerbang yang hadir, momen tersebut dipenuhi nostalgia mendalam saat mereka melepas pesawat yang kerap dijuluki sebagai “absolute beast of a bird” ini, sembari mengenang raungan melengking dari mesin Pegasus-nya yang sangat ikonik.
Sebagai varian tercanggih di masa-masa akhir dinasnya, Harrier II Plus mengusung spesifikasi teknis yang sangat disegani pada masanya. Dikembangkan bersama oleh McDonnell Douglas dan British Aerospace, pesawat ini ditenagai oleh satu unit mesin turbofan Rolls-Royce Pegasus F402-RR-408 yang mampu menghasilkan daya dorong hingga 23.800 lbf melalui empat nosel yang dapat diarahkan.
#Marines with 2nd Marine Aircraft Wing take part in a sundown ceremony for the AV-8B Harrier II at Marine Corps Air Station Cherry Point, North Carolina.
The “sundown” of the AV-8B Harrier II, an iconic aircraft that has supported joint and Marine Corps operations for over 40… pic.twitter.com/vGUqpJsGa5
— U.S. Marines (@USMC) June 3, 2026
Dengan dimensi panjang 14,12 meter dan rentang sayap 9,25 meter, jet tempur ini memiliki bobot kosong sekitar 6,3 ton, namun mampu lepas landas dengan bobot maksimum hingga 14,1 ton pada metode Short Take-Off. Di udara, Harrier II dapat dipacu hingga kecepatan maksimum 1.083 kilometer per jam atau setara Mach 0.9 di permukaan laut dengan radius tempur efektif sekitar 556 kilometer.
Keunggulan utamanya di sektor avionik terletak pada integrasi radar APG-65 yang memberikan kemampuan deteksi jarak jauh melampaui cakrawala, pod penargetan LITENING, serta sistem navigasi malam NAVFLIR. Untuk urusan daya gempur, pesawat ini dipersenjatai dengan kanon eksternal GAU-12 Equalizer kaliber 25mm pola Gatling, serta enam titik gantungan senjata di bawah sayap yang mampu mengusung kombinasi rudal udara-ke-udara seperti AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM, rudal udara-ke-permukaan AGM-65 Maverick, hingga bom pintar berpemandu laser dan GPS.

Daya tarik dan keunggulan operasional utama dari Harrier II terletak pada arsitektur unik mesinnya yang menerapkan sistem vectored-thrust. Fitur nosel yang dapat berputar ini melahirkan kemampuan ekspedisi yang sangat tinggi, memungkinkan pesawat beroperasi dari dek kapal amfibi yang sempit atau landasan pacu darurat yang telah rusak di garis depan tanpa bergantung pada pangkalan udara besar.
Selain itu, para penerbang dapat menerapkan teknik Vectoring in Forward Flight (VIFF), yaitu mengubah arah nosel secara instan di tengah pertempuran udara untuk mengurangi kecepatan secara drastis atau melakukan manuver tajam yang tak terduga, sehingga memberikan kelincahan luar biasa dalam duel jarak dekat (dogfight).
Pensiunnya armada Harrier Amerika Serikat ini kemudian memicu rumor di kalangan pengamat pertahanan mengenai potensi penjualan jet tempur bekas tersebut ke negara sekutu. Namun, kabar mengenai pembelian unit pesawat tambahan ini kurang tepat secara konteks, karena strategi yang diambil oleh operator asing yang tersisa sebenarnya berfokus pada jalur logistik. Salah satu negara pengguna di Eropa baru-baru ini secara resmi memutuskan untuk memperpanjang masa pakai armada EAV-8B Harrier II Plus milik Angkatan Laut mereka hingga tahun 2032 setelah membekukan rencana pembelanjaan jet siluman baru akibat pengalihan prioritas anggaran ke program modernisasi pesawat konvensional regional.
End of an era.
The final flight of the AV-8B Harrier as a USMC and US military aircraft. Their last mission was in support of capturing Maduro.
VMA-223 will conduct the sundown ceremony at Cherry Point today. A few of the remaining airframes will be sold to Spain or be placed… pic.twitter.com/bC2kEcQCd7
— Chesty (@ChestyPullerGst) June 3, 2026
Keputusan memperpanjang operasional Harrier hingga tahun 2032 agar kapal induk tetap memiliki kekuatan sayap udara tetap (fixed-wing) langsung memicu tantangan besar berupa kelangkaan suku cadang di pasar global. Mengingat Amerika Serikat dan Italia sudah mempensiunkan Harrier mereka, pengguna yang tersisa otomatis menjadi operator terakhir di dunia untuk jenis pesawat ini.
Oleh karena itu, alih-alih membeli pesawat utuh untuk diterbangkan kembali, momentum pensiunnya Harrier USMC ini dimanfaatkan untuk mengamankan stok suku cadang, komponen mesin, dan materiil teknis lainnya melalui metode kanibalisasi dalam jumlah besar. Langkah taktis ini sangat krusial demi memastikan sisa unit Harrier yang ada di luar negeri tetap dalam kondisi layak terbang dan siap tempur selama beberapa tahun ke depan tanpa adanya dukungan rantai pasok global yang aktif dari pabrikan. (Bayu Pamungkas)



AV-8B cat warna putih pas acara FLEET WEEK HOUSTON. Sayang seribu sayang, kita publij nggak di bolehin boarding LHDnya….😔😔
https://fleetweekhouston.com/
Video rekaman pribadi pas mrk masuk Port of Houston. Bisa kliatan kl ada AV-8B PUTIH..
Sorry nga di edit so agak panjang.
Enjoy
https://youtu.be/kDwricsqV8o?si=-OuVrOQQ–gIXwAQ
negara eropa ini palingan spanyol yg terkuncu oleh proyek fcas yg tidak jelas dengan jerman dan prancis