Harga Khusus! NHIndustries Tawarkan Helikopter NH90 Varian Naval (eks Norwegia): Peluang Isi Geladak KRI Sriwijaya?

Langkah mengejutkan datang dari konsorsium helikopter Eropa, NHIndustries (NHI), yang kini secara resmi menawarkan armada helikopter anti-kapal selam dan patroli maritim NH90 bekas pakai Angkatan Udara Norwegia ke pasar internasional dengan skema harga yang jauh lebih kompetitif.

Baca juga: Penerbangan Angkatan Laut di KRI Sriwijaya (eks ITS Garibaldi): Kesiapan Operasional, Risiko Anggaran, dan Tantangan Doktrin

Presiden NHI, Axel Aloccio, mengonfirmasi bahwa pihak konsorsium telah membeli kembali seluruh unit dari Norwegia dan kini sedang memproses penjualannya ke beberapa calon pembeli potensial di seluruh dunia. Penawaran ini menghadirkan dinamika menarik di pasar helikopter militer global, sekaligus membuka spekulasi strategis bagi negara-negara berkembang yang membutuhkan platform naval/frigate helicopter bermesin ganda kelas berat dengan efisiensi anggaran dibanding pembelian unit baru dari pabrikan.

Langkah ini boleh jadi momentum emas dan peluang menggiurkan bagi Indonesia, khususnya jajaran TNI AL yang tengah memproyeksikan penguatan elemen penerbangan TNI AL untuk melengkapi doktrin kekuatan pemukul permukaan dan bawah air.

Kehadiran kapal induk eks-Italia, KRI Sriwijaya (eks ITS Garibaldi), yang memiliki fasilitas geladak penerbangan (flight deck) luas dan hanggar besar, membutuhkan armada helikopter penjelajah maritim yang andal untuk misi Anti-Submarine Warfare (ASW), Anti-Surface Warfare (ASuW), serta Search and Rescue (SAR) tempur.

Penawaran unit NH90 bekas Norwegia dengan kondisi siap pakai dan harga yang ditekan ini memberikan jalan pintas teknis dan ekonomis bagi Indonesia untuk langsung mengisi kekuatan udara KRI Sriwijaya tanpa harus menunggu proses antrean produksi helikopter baru yang memakan waktu bertahun-tahun.

Adapun unit yang ditawarkan oleh NHI secara spesifik adalah varian NH90 NATO Frigate Helicopter (NFH), yakni varian maritim khusus yang dirancang untuk beroperasi dari geladak kapal perang amfibi, frigat, maupun kapal penjaga pantai. Saat ini, Norwegia sudah tidak lagi mengoperasikan armada NH90 setelah pemerintahnya secara resmi menghentikan operasional helikopter ini dan mencapai kesepakatan hukum dengan NHI pada November 2025 untuk mengembalikan seluruh 14 unit helikopter beserta suku cadang pendukungnya.

NH90 Sea Tiger Terbang Perdana – Helikopter Anti Kapal Selam Terbaru AL Jerman

Meski NHI tidak mempublikasikan angka pasti harga per unitnya ke publik demi menjaga kerahasiaan negosiasi bisnis, penawaran harga bekas ini dipastikan turun signifikan dibanding harga baru pabrikan yang biasanya menembus kisaran US$40 juta hingga US$50 juta per unit. Penyesuaian harga ini sengaja diambil konsorsium guna mempercepat penetrasi secondary market dan memanfaatkan permintaan suku cadang dari pengguna NH90 lain di seluruh dunia.

Keputusan peluncuran kembali NH90 ke pasar sekunder ini tidak terlepas dari rekam jejak dinamika operasionalnya yang cukup kontroversial. Mengapa helikopter dengan performa teknis super canggih ini cenderung “kurang laku” dan ditinggalkan beberapa negara penggunanya?

Pangkal masalahnya bukan terletak pada kemampuan terbang atau sistem sensor avioniknya yang sebenarnya sangat superior, melainkan pada problem teknis logistik dan biaya perawatan yang sangat tinggi. Konstruksi material komposit tingkat tinggi dan rantai pasok kompleks gabungan produsen Eropa (Airbus, Leonardo, dan GKN Fokker) membuat ketersediaan suku cadang (spares availability) sangat lambat, sehingga menurunkan tingkat kesiapan tempur (readiness rate) helikopter di hanggar secara drastis.

Airbus Helicopters Serahkan Unit Pertama NH90 Standard 2 untuk Pasukan Khusus Angkatan Darat Perancis

Masalah keandalan logistik inilah yang memicu gelombang penghentian operasional di beberapa negara. Australia secara drastis memensiunkan seluruh armada MRH-90 Taipan (varian NH90 darat) lebih awal dari jadwal akibat problem keandalan dan keselamatan operasional yang kerap berulang.

Di sisi lain, Ukraina bahkan terang-terangan menolak tawaran hibah armada NH90 bekas dari Australia karena menyadari rumitnya perawatan dan mahalnya rantai pasok helikopter tersebut di tengah medan perang yang membutuhkan perawatan serba cepat dan praktis. Hambatan inilah yang membuat banyak negara berpikir ulang untuk mengadopsi NH90 dalam kondisi baru jika tidak didukung kontrak pemeliharaan yang kuat.

Kendati demikian, dari segi kapasitas murni, kinerja dan spesifikasi teknis NH90 sebenarnya diakui sebagai salah satu yang terbaik di kelasnya. Helikopter berbobot 10 ton ini dilengkapi dengan sistem kendali penerbangan digital fly-by-wire penuh, radar pencari maritim 360 derajat, sonar celup (dipping sonar), serta kompatibilitas peluncuran torpedo ringan dan rudal anti-kapal.

Bagi negara pembeli yang mampu menegosiasikan paket jaminan ketersediaan suku cadang langsung dari pabrikan Airbus di Marignane, armada bekas Norwegia ini tetap merupakan aset pemukul maritim kelas wahid. Bagi Indonesia, memanfaatkan penawaran paket khusus NH90 NFH ini bisa menjadi solusi pragmatis untuk memodernisasi kekuatan penerbangan Angkatan Laut secara instan. (Bayu Pamungkas)

Airbus dan NHI Ingin ‘Selamatkan’ Komponen dan Suku Cadang Helikopter MRH-90 Taipan Australia

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *