KRI Sriwijaya (eks ITS Garibaldi): Kapal Tua, Otak Baru, Daya Gentar atau Sasaran Empuk?

Rencana modifikasi kapal induk ringan KRI Sriwijaya (100) kembali menjadi perbincangan. Kapal ini disebut akan menggunakan produk dalam negeri, yaitu CMS Mandhala MK2 buatan PT LEN Industri sebagai “otak” kapal, serta akan diintegrasikan dengan drone tempur siluman Kizilelma dari Turki. Harapannya, kekuatan drone Indonesia bertambah dan daya gentar militer kita meningkat di mata dunia.

Baca juga: Kejutan! Indonesia Jadi Pelanggan Ekspor Pertama di Dunia untuk Drone Siluman Kızılelma

Saya menghargai semangat Indonesianisasi di balik rencana ini. Memakai produk dalam negeri adalah langkah yang patut didukung, karena kemandirian industri pertahanan adalah kunci kedaulatan. Namun memasang teknologi baru di KRI Sriwijaya, lalu menyebutnya sebagai penambah daya gentar, menurut saya adalah klaim yang berlebihan. Mari kita lihat dengan jernih.

Kapalnya Sudah Tua
KRI Sriwijaya adalah kapal bekas Angkatan Laut Italia, sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi. Umurnya sekitar 40 tahun, dan Italia sendiri sudah memensiunkannya. Ibarat mobil tua yang dipasangi GPS dan sensor paling canggih, tetap saja itu mobil tua. Mesinnya gampang rusak, onderdilnya makin sulit dicari, dan biaya bengkelnya mahal.

Kapal ini memang hibah, tetapi hibah hanya gratis di pintu masuk. Biaya perawatan lambung dan mesin, bahan bakar, gaji ratusan awak, sampai pembangunan pangkalan dan dermaga khusus, semuanya ditanggung anggaran negara. Yang gratis kapalnya, yang mahal hidupnya.

Masih Terpasang di ITS Garibaldi, Ini Keunggulan CIWS Breda Dardo di Kapal Induk KRI Sriwijaya

Zaman Sudah Berubah
Dahulu, kapal besar adalah lambang kekuatan. Siapa yang punya kapal terbesar, dialah yang paling ditakuti. Tetapi perang laut hari ini menunjukkan hal sebaliknya. Di Laut Hitam, kapal-kapal perang besar dibuat kewalahan bahkan tenggelam oleh drone laut dan rudal yang harganya jauh lebih murah. Di Laut Merah, drone murah cukup untuk membuat kapal-kapal besar harus berpikir dua kali sebelum melintas.

Kapal sebesar gajah itu lambat, mudah terlihat oleh radar, dan sulit bersembunyi. Musuh tidak perlu mengirim senjata mahal. Cukup puluhan drone murah yang datang bersamaan dari berbagai arah, dan pertahanan udara kapal akan kerepotan menangkis semuanya. Inilah yang saya sebut gajah melawan kawanan nyamuk. Gajahnya besar, tetapi nyamuknya banyak, murah, dan sulit ditepis.

Moskva Class: Kapal Induk Helikopter dengan Misi Anti Kapal Selam, Pernah Jadi Aset Armada Laut Hitam

Kizilelma Belum Tentu Cocok
Kizilelma adalah drone jet tempur yang membutuhkan landasan panjang, mirip pesawat tempur. Sementara dek KRI Sriwijaya pendek, hanya dilengkapi landasan miring di ujung, tanpa alat pelontar dan tanpa kabel penahan untuk pendaratan. Sampai sekarang belum ada penjelasan yang meyakinkan bagaimana drone ini akan lepas landas dan mendarat dengan aman di kapal tersebut. Membeli drone mahal tanpa kepastian ia bisa beroperasi dari kapalnya adalah perencanaan yang terbalik.

Terlalu Banyak Telur di Satu Keranjang
Bayangkan semua drone mahal, helikopter, sistem komando, dan ratusan prajurit dikumpulkan di satu kapal. Sekali kapal itu terkena serangan, semuanya hilang dalam sekejap. Itu bukan hanya kerugian materi, tetapi juga pukulan strategis dan pukulan moral bagi bangsa.

Kekuatan yang disebar ke banyak kapal kecil jauh lebih sulit dihancurkan. Jika satu kapal terkena, yang lain masih bisa bertempur. Musuh juga dipaksa menghabiskan lebih banyak senjata untuk mencari dan menyerang satu per satu.

Miliki Sudut Ski Jump Terendah di Dunia: Struktur Ramp ITS Garibaldi Justru Ideal untuk Drone Bayraktar TB3

Menjawab Alasan Para Pendukung
Ada yang mengatakan kapal ini berguna untuk penanganan bencana. Saya setuju. Tetapi kalau fungsi utamanya bencana, mengapa harus dipasangi drone tempur siluman dan dijual sebagai alat daya gentar? Kapal rumah sakit dan kapal angkut serbaguna bisa dibangun sendiri oleh PT PAL dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah.

Ada pula yang mengatakan kapal ini adalah sarana latihan menuju kapal induk modern. Pertanyaannya, apakah rencana pengadaan kapal induk modern itu sudah jelas anggaran dan jadwalnya? Jika belum, kita sedang melatih ratusan prajurit untuk jenis kapal yang mungkin tak pernah kita miliki lagi. Latihan bisa dilakukan lebih murah melalui pendidikan di negara sahabat, latihan gabungan, dan simulator.

Ada juga yang menyebut kapal induk sebagai simbol status dan alat diplomasi. Namun para analis militer di kawasan tahu betul ini kapal bekas. Mereka tidak akan gentar. Lebih buruk lagi, jika kapal ini sering masuk dok atau gagal menerbangkan drone yang dijanjikan, citra kita justru runtuh di mata dunia.

Penerbangan Angkatan Laut di KRI Sriwijaya (eks ITS Garibaldi): Kesiapan Operasional, Risiko Anggaran, dan Tantangan Doktrin

Lalu Sebaiknya Bagaimana?
Semangat Indonesianisasi lebih tepat diarahkan pada hal-hal yang benar-benar menambah kekuatan nyata. Pertama, memperbanyak kapal kecil yang cepat, lincah, dan sulit dikejar. Kedua, mengembangkan drone dan rudal anti-kapal buatan dalam negeri. Ketiga, membangun sistem penangkal drone, karena ancaman ini semakin nyata. Keempat, memperkuat armada kapal selam yang jauh lebih sulit ditemukan musuh.

CMS Mandhala MK2 pun akan jauh lebih bermanfaat jika dipasang pada fregat dan korvet yang masih akan berdinas puluhan tahun ke depan. Dengan begitu, investasi teknologi dalam negeri tidak ikut pensiun bersama kapal tua.

Penutup
Indonesia memang membutuhkan kekuatan laut yang disegani. Tetapi negara disegani bukan karena kapalnya paling besar, melainkan karena kekuatannya sulit dikalahkan dan konsisten menjaga wilayahnya, termasuk di Natuna. Kapal tua yang besar memang megah untuk dipamerkan, tetapi di medan perang zaman sekarang, ia justru menjadi sasaran yang paling mudah dibidik. Uang rakyat semestinya dipakai untuk membangun kekuatan yang sulit dihancurkan, bukan untuk merawat sasaran empuk. Oleh Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto (Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis/KABAIS TNI).

KRI Sriwijaya 100 (eks ITS Garibaldi): “Menambal Kapal Tua dengan Emas”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *