Untuk Korps Marinir: FNSS Resmi Perkenalkan U-MAV, UGV Amfibi 4×4 Pembuka Jalan Pasukan Pendarat

Pabrikan pertahanan FNSS secara resmi memperkenalkan U-MAV (Unmanned Amphibious Armored Vehicle)—yang juga mengusung kode resmi İ-ZAHA—dalam ajang Teknofest Mavi Vatan 2026 yang berlangsung di Komando Galangan Kapal Angkatan Laut Gölcük, Kocaeli, pada 20 Agustus 2026.
Baca juga: FNSS Kirim Batch Perdana Ranpur Amfibi ZAHA ke Korps Marinir Turki
Kehadiran U-MAV menarik perhatian global karena konsep wahana tak berawak berbasis darat (Unmanned Ground Vehicle / UGV) yang memiliki kemampuan amfibi murni masih sangat langka di dunia. Kendaraan nirawak berbobot 8 ton dengan penggerak 4×4 ini dirancang khusus untuk bertindak sebagai unsur garis terdepan (first echelon) yang menerjang garis pantai bermusuh sebelum pasukan dari Korps Marinir Turki mendarat.
Latar belakang operasional pengembangannya berfokus pada fase paling mematikan dalam operasi pendaratan amfibi: saat wahana pendarat memasuki jangkauan tembak musuh namun belum memiliki ruang untuk beralih posisi. Di fase kritis ini, pantai pendaratan biasanya telah dipenuhi ranjau laut/darat, barikade fisik, serta perlindungan rudal anti-tank (ATGM) dan potensi serangan senapan mesin musuh.
Dengan menerjunkan U-MAV terlebih dahulu, doktrin operasi pendaratan militer Turki mengalihkan risiko tinggi misi pengintaian, pembersihan ranjau (breaching), perintisan jalur, serangan artileri langsung, hingga peperangan elektronik ke platform tak berawak. Langkah ini secara signifikan menekan angka korban jiwa di pihak marinir.
FNSS has unveiled the U-MAV, an 8-ton unmanned amphibious assault vehicle, at TEKNOFEST Mavi Vatan in Kocaeli, Türkiye.
The platform is designed to operate ahead of manned amphibious assault vehicles, allowing operators to remain away from the highest-risk phase of a landing.… pic.twitter.com/Aavj2sfW4w
— Drone Wars (@Drone_Wars_) August 20, 2026
Dari spesifikasi, U-MAV didorong oleh mesin bensin/diesel bertenaga 300 hp yang menghasilkan rasio daya terhadap bobot masif hingga 37,5 hp/ton. Performa ini memungkinkan U-MAV melaju hingga kecepatan 70 km/jam di jalan raya dan 7 knot saat melaju di permukaan air menggunakan waterjet.
Kecepatan amfibi sengaja disamakan secara presisi dengan kecepatan kendaraan tempur amfibi berawak ZAHA/MAV milik Angkatan Laut Turki. Kesetaraan kecepatan ini mencegah terjadinya bottleneck atau perlambatan laju armada saat konvoi kapal-ke-pantai (ship-to-shore movement) berlangsung.
The future of amphibious warfare is here, and it’s unmanned.
@FNSS_Defence unveils the Unmanned Marine Assault Vehicle (U-MAV), taking beachhead operations and crew safety to the next level.
Read more via @DefenceTurkey 👇 https://t.co/gS4Yf35VJU#DefenceIndustry #FNSS #UMAV… pic.twitter.com/hDv0i0r4rr— Defence Türkiye Magazine (@DefenceTurkey) August 20, 2026
Fleksibilitas U-MAV didukung oleh penggunaan sasis tunggal 4×4 yang sanggup mengusung 10 modul misi serbaguna yang dapat dibongkar-pasang dalam waktu singkat (sekitar 40 menit di lapangan). Pilihan modul tersebut mencakup sistem pendukung tembakan (dilengkapi kubah RCWS Sancak berkaliber hingga 30mm, peluncur rudal OMTAS/Kornet, atau peluncur drone kamikaze loitering munition), modul counter-UAS, modul peperangan elektronik, modul pembersih ranjau, pengintai berbasis drone multirotor, hingga transportasi logistik dan evakuasi medis (CASEVAC).
AMZ BOBR 3: Panser Amfibi 4×4 Buatan Polandia, Pengganti BRDM 2 Era Soviet
Arsitektur kendalinya mengombinasikan sistem otonom cerdas berteknologi artificial intelligence (AI) dengan jalur komunikasi data terenkripsi mesh network. Dalam skenario tempur di mana sinyal navigasi satelit (GNSS) diacak (jamming), U-MAV tetap mampu menavigasi area berbahaya berkat integrasi sistem navigasi inersia (INS) serta pemrosesan data visual secara lokal (edge processing).
Menariknya, U-MAV juga menjadi UGV pertama yang mengintegrasikan pemantau kerusakan struktur Armor Integrity dari Nurol Teknoloji. Sensor ini memungkinkan operator—yang berada di atas kapal induk pendarat TCG Anadolu—mengetahui tingkat kerusakan lambung dan tumpukan akumulasi dampak tembakan musuh secara real-time dari jarak jauh. (Gilang Perdana)
Ranpur Amfibi ZAHA untuk Pertama Kali Digelar dalam Operasi Serbuan Amfibi


