Setelah awal tahun lalu Bakamla (Badan Keamanan Laut) RI memesan tiga unit drone helikopter Rajawali 350, kini drone/UAV (Unmanned Aerial Vehicle) helikopter dengan kemampuan real time intai maritim dari tipe yang lebih canggih dikabarkan bakal segera hadir di Indonesia. Yang dimaksud drone VTOL (Vertical Take Off and Landing) Saab Skeldar V-200 yang telah merampungkan masa uji dan performa pada kuartal keempat tahun 2016. Dan kini Skeldar V-200 dalam status siap dikirmkan ke Indonesia. (more…)
Jelang berakhirnya periode MEF (Minimum Essential Force) II di tahun 2019, hingga kini Kementerian Pertahanan (Kemhan) belum juga diputuskan jenis pesawat AEW&C (Airborne Early Warning & Control) yang bakal diakuisisi, padahal waktu yang dibutuhkan untuk membangun platform pesawat baru AEW&C tidak bisa singkat. Dan belum lama berselang, muncul kabar bahwa Indonesia menyatakan minat pada salah satu pesawat AEW&C. Di luar prediksi, ternyata yang diminati Indonesia justru pesawat AEW&C DRDO Netra buatan India.
Mungkin jika Amerika Serikat dan Israel tak ‘meributkan’ tentang keberadaan rudal hanud (pertahanan udara) jarak jauh ini, maka debut S-300 boleh jadi tidak akan sekondang seperti saat ini. Keberadaan rudal ini di Iran dan Suriah menjadi faktor dominan bahwa alutsista asal Rusia ini mampu memberi efek deteren yang optimal. Dan imbas popularitas S-300 pun bergaung ke Tanah Air, besar harapan agar rudal S-300 bisa hadir melengkapi sistem hanud TNI. “Jika Vietnam saja bisa beli S-300, mengapa Indonesia tidak,” begitu salah satu ungkapan yang sering diutarakan netizen. (more…)
Republik Ceko, salah satu negara di Eropa Timur bisa dibilang cukup sukses menyerap ToT (Transfer of Technology) alutsista dari negara lain. Sebagai negara pengguna rudal hanud MANPADS (Man Portable Air Defence System) RBS-70 NG, Ceko kini mampu memproduksi sistem radar pengintai untuk rudal VSHORAD (Very Short Air Defence) lansiran dalam negeri. Bahkan, radar intai yang diberi label ReVISOR ini juga ditawarkan ke Indonesia sebagai negara pengguna RBS-70 MK2. (more…)
Meski target pengadaan rudal hanud (pertahanan udara) kini diproyeksikan ke segmen rudal jarak sedang (menengah), namun bukan berarti tingkat kesiapan rudal hanud jarak dekat VSHORAD (Very Short Range Air Defence) terabaikan. Guna memenuhi tingkat kesiapan operasional, alutsista rudal SHORAD MANPADS (Man Portable Air Defence System) yang masih serviceable layak untuk dilakukan maintenance secara maksimal. Salah satu yang cukup sukses adalah proyek LTE (Lifetime Extend) yang ditawarkan Saab pada rudal RBS-70 MK2 milik Arhanud TNI AD. (more…)
Di level pemangku kebijakan, pembahasan tentang pengadaan pesawat intai, khususnya dari jenis AEW&C (Airborne Early Warning & Control) memang kurang greget, maklum fokus pengadaan matra udara masih berkutat di proses pengadaan jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II yang tak kunjung rampung. Ditambah kabar pemangkasan anggaran pertahanan, menjadikan pengadaan pesawat intai seolah tenggelam. (more…)
Meski diterpa isu seputar pemangkasan anggaran, patut disyukuri pengadaan beberapa alutsista tetap berjalan. Salah satu yang sudah mendapat persetujuan dari pemerintah adalah pengadaan kapal pemburu ranjau untuk TNI AL. Seperti disebutkan dalam berita terdahulu, US$215 juta telah dialokasikan untuk MCMV (Mine Counter Mesaure Vessels). Meski anggaran sudah siap, namun masih jadi pertanyaan, jenis kapal pemburu ranjau apa yang bakal diakuisisi TNI AL? (more…)
Kilas balik ke bulan Februari 2015, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi pernah menyebut bahwa TNI AL berencana memensiunkan dua kapal penyapu ranjau Tripartite Class. Kabar tersebut sempat membuat ramai jagad pemerhati alutsista nasional, pasalnya tipe kapal penyapu ranjau tersebut masih dioperasikan di negara lain, termasuk di negara asalnya, Belanda. Kini setelah satu tahun berlalu, tanda-tanda itu kian jelas setelah terungkap besaran alokasi biaya pengadaan kapal buru ranjau baru untuk TNI AL.
Mungkin tak setiap orang punya kesempatan untuk menjajal simulator jet tempur, tapi berkat kecanggihan game di smartphone, kini setidaknya sensasi menerbangkan jet tempur bisa dirasakan lebih dekat. Game dengan tema simulasi jet tempur jumlahnya ada ratusan, dipastikan tak sulit mengunduhnya di Google Play Store dan iTunes. Tapi ada yang beda dari “Gripen Fighter Challenge,” inilah game simulasi tempur yang tak hanya menghadirkan keseruan tingkat tinggi, namun dibalik itu developer game ini adalah Saab AB.
Beritanya terasa subyektif, tapi harus diakui kabar tentang kalah telak J-11 (Sukhoi Su-27SK) AU Cina dari Saab Gripen C AU Thailand dalam sebuah latihan tempur jarak dekat (dogfight) telah menjadi perbincangan hangat di jagad alutsista nasional. Selain kedua pesawat yang sejatinya beda kelas, Gripen C yang awalnya dianggap underdog memang dalam proses ditawarkan ke Indonesia, sebagai pengganti F-5E/F Tiger II TNI AU. (more…)