
Ada yang bilang “bad news is good news,” dan itu terbukti pada beberapa hari lalu, kala berita bohong dihembuskan atas jatuhnya (diduga) Sukhoi Su-35 AU Cina, yang disebat-sebut netizen India disebabkan tembakan rudal hanud Taiwan, lantaran Su-35 telah memasuki teritori udara Taiwan di Selat Formosa. Bahkan beritanya digoreng sedemikian canggih, termasuk menyebut rudal yang diluncurkan adalah jenis Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Lepas dari berita bohong yang kadung trending, perlu jadi catatan, bahwa Taiwan memang termasuk negara yang maju dalam pengembangan rudal hanud. (more…)

Dari desain dan spesifikasi, nampak tak ada yang terlalu spesial dari drone intai satu ini, namun dalam beberapa minggu belakangan, boleh jadi drone intai yang diberi label Albatross ini mempuyai peranan penting dalam melakukan monitoring di area sengketa Laut Cina Selatan. Seperti Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan pada 25 Agustus silam menyebutkan telah menggelar sejumlah drone Albatross untuk melakukan pengawasan udara di Pulau Dongsha (Prata) Taiping (Itu Aba), dimana kedua pulau juga diklaim oleh Cina daratan. (more…)

Bila Australia telah memensiunkan frigat Adelaide Class dan Jerman segera memensiunkan frigat Bremen Class di tahun 2021, maka langkah ‘bersih-bersih’ kapal perang utama juga berhembus ke Negeri Tirai Bambu. Lewat sebuah upacara di Lanal Zhanjiang, pada 28 Agustus lalu, AL Cina telah resmi memensiunkan dua unit detroyer terakhir dari Type 051. Kedua kapal perusak yang pensiun adalah Zhanjiang 165 dan Zhuhai 166, keduanya merupakan varian Type 051G, yaitu varian terakhir dan paling canggih dari 17 unit keluarga destroyer Type 051. (more…)

Dalam mendukung operasi militernya, Cina sejak telah menguasai teknologi pesawat intai Airborne Early Warning and Control (AEW&C) dengan model antena rotodeome dan antena tegak. Namun apa yang tersaji saat ini adalah pesawat AEW&C untuk kebutuhan angkatan udara, sementara AL Cina yang kini telah mengoperasikan dua kapal induk, sejauh ini belum mendapatkan berkah kemampuan pesawat AEW&C. (more…)

Meski militer Cina telah mengoperasikan armada kapal induk dan kapal pendarat (LPD dan LST) yang punya kemampuan membawa helikopter. Namun, bila terjadi peperangan, terutama dalam skenario ofensif pada wilayah yang selama ini diklaim, maka diperkirakan Cina masih membutuhkan sokongan armada kapal sipil untuk mendongkrak mobilitas armada helikopter. (more…)

Pada artikel kami terdahulu telah dikupas tentang sejumlah dermaga bunker kapal selam yang dibangun AL Cina untuk menghadapi potensi konflik di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan. Dan karena posisi negara-negara Asia Tenggara terkait langsung dengan Laut Cina Selatan, maka keberadaan dermaga bunker yang mengarah ke palagan Laut Cina Selatan tentu lebih menarik untuk dicermati. Seperti belum lama ini, didapati citra foto satelit yang memperlihatkan sebuah kapal selam Cina tengah memasuki sebuah gua (bunker) misterius. (more…)

Dalam babak pertama serangan udara ke permukaan, landasan udara menempati prioritas oyek vital yang harus dihancurkan terlebih dahulu. Dengan dihancurkannya landasan pada lanud terpilih, maka diharapkan kekuatan udara lawan menjadi lumpuh, lantaran jet tempur dan dukungan logistik tidak dapat disalurkan karena landasan yang rusak berat. Rupanya hal tersebuti disadari oleh Cina bila kelak harus melakukan ekspansi dengan cara ofensif. (more…)

Cina memang tak bisa dilepasan dari soal klaim-mengklaim, seperti kali ini ada klaim bahwa jet tempur stealth kebanggaan Amerika Serikat yang tak dijual untuk ekspor, yaitu F-22 Raptor, sebagai produk yang cacat. Malah dikatakan, F-22 Raptor punya kelemahan yang hampir mirip dengan rancangan F-4 Phantom. (more…)

Tingkat kemajuan militer Cina tentu tak bisa dilepaskan dari Amerika Serikat dan Rusia, lantaran inspirasi kekuatan Sang Naga tak pelak mengacu pada dua negara tersebut. Salah satu implementasinya terbukti pada adopsi sistem jaringan pengintaian di lautan, dimana sistem yang sama telah dibangun sejak lama oleh AS dan Uni Soviet di era Perang Dingin. Dan saat ketegangan Cina dan AS meningkat, ada dugaan bahwa Beijing telah menggelar apa yang disebut sebagai “Blue Ocean Information Network” di kawasan Laut Cina Selatan. (more…)

Palagan konflik di Laut Cina Selatan kemungkinan bakal makin seru, indikatornya terlihat dari perkuatan armada kapal perang kelas wahid. Sebut saja Amerika Serikat yang telah mengerahkan dua kapal induk nuklir untuk mengimbangi manuver Cina. Indikator kehadiran kapal induk merupakan supremasi kekuatan paling deteren dalam gelar kekuatan tempur laut. Dan masih dalam terminologi kapal induk, Negeri Britania Raya dikabarkan bersiap mengirimkan kapal induk super sangarnya, HMS Queen Elizabeth ke Laut Cina Selatan. (more…)