‘Kerapuhan’ Kapal Perusak Cina Terungkap: USV Murah Lightfish Berhasil Dekati Type 052D di Perairan Filipina Tanpa Terdeteksi

Sebuah insiden siber dan intelijen maritim yang mengejutkan terjadi di Laut Cina Selatan ketika drone laut (Unmanned Surface Vessel/USV) berukuran ringkas buatan perusahaan asal San Diego, Amerika Serikat, Seasats, berhasil mendekati dan merekam secara dekat kapal perusak (destroyer) Type 052D (Kunming class) milik Angkatan Laut Cina (PLAN).

Baca juga: Rilis Rekaman Perdana: Rudal Anti-Kapal Hipersonik YJ-20 di Destroyer Type 052D Perluas Proyeksi Kekuatan Cina di Pasifik

Insiden ini terjadi pada 16 Juni 2026, di titik 105 kilometer barat laut Luzon, tepat di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina. Dalam rekaman video yang telah diverifikasi keautentikannya oleh Reuters, USV seharga US$240.000 dari jenis Lightfish tersebut tampak beroperasi leluasa memantau pergerakan kapal perang bernilai ratusan juta Dolar AS itu tanpa terdeteksi oleh radar maupun sistem pengawasan canggih milik armada Cina.

Keberhasilan ‘penyusupan’ senyap ini menggarisbawahi rentannya platform kapal tempur utama (surface combatant) terhadap pengintaian berbasis sistem otonom berprofil rendah di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan.

USV Lightfish buatan Seasats dirancang khusus sebagai platform pengawasan maritim otonom jarak jauh (long-endurance) dengan profil low-observable atau sulit ditangkap radar konvensional. Ditenagai oleh sistem daya hibrida yang memadukan panel surya efisiensi tinggi serta generator diesel darurat, Lightfish mampu beroperasi secara terus-menerus di laut lepas hingga kurun waktu enam bulan tanpa intervensi manusia.

Dengan panjang hanya sekitar 3,3 meter dan bobot relatif ringan sekitar 110 kilogram, USV ini mampu menerjang gelombang laut ekstrem (rough seas) hingga Sea State 5 sembari membawa berbagai muatan instrumen elektro-optik, kamera pemindai malam, pemindai sinyal AIS, dan sensor intelijen elektronik (ELINT).

Ukurannya yang kecil dan prafabrikasi lambung yang mendekati permukaan air menjadikannya memiliki jejak radar (Radar Cross Section/RCS) yang sangat minim, sehingga mampu meloloskan diri dari sapuan radar pencari utama kapal perusak lawan.

Keberhasilan Lightfish mendekati destroyer Type 052D tanpa memicu alarm pertahanan armada PLAN menjadi bukti nyata efektivitas strategi asymmetric surveillance yang dikembangkan oleh industri pertahanan Amerika Serikat. Seasats sendiri saat ini didukung oleh pendanaan investasi lebih dari US$40 juta dan telah mengamankan kontrak senilai US$100 juta dari Pentagon, termasuk untuk program pengawasan kawasan sengketa dan uji coba operasional bersama Angkatan Laut AS (US Navy).

Setelah apa yang terjadi di Laut Hitam, kejadian ini membuktikan bahwa teknologi drone permukaan murah kini mampu memberikan ancaman pengintaian mematikan dan kemampuan situational awareness tingkat tinggi, sekaligus mengekspos celah kelemahan sistem deteksi kapal perang modern saat berhadapan dengan target otonom berukuran mikro di perairan terbuka. (Gilang Perdana)

Destroyer Type 052D Kunming Class – Gaduh Bakal Dibeli Indonesia, Sebatas Mimpi atau Realistis?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *