Demi Tambal ‘Capability Gap’ Nuklir AUKUS, Australia Rela Bakar AU$11 Miliar untuk Kapal Selam Tua Collins Class

Pemerintah Australia resmi mengumumkan langkah masif untuk mempertahankan kekuatan pemukul di bawah permukaan lautnya. Demi menjembatani celah kemampuan (capability gap) sebelum kedatangan kapal selam bermesin nuklir di bawah pakta AUKUS, pembayar pajak di Australia harus merogoh kocek tambahan hingga AU$11 miIiar atau setara dengan US$7,3 miIiar.
Dana fantastis tersebut sengaja dialokasikan untuk memperpanjang usia operasional armada kapal selam diesel-elektrik Collins class selama satu dekade ke depan. Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, menegaskan bahwa program Life of Type Extension (LOTE) atau perpanjangan usia pakai untuk keenam kapal selam buatan Adelaide tersebut sangat krusial agar Royal Australian Navy (RAN) tetap memiliki taji dan efek detren di kawasan regional selama masa transisi ke armada bertenaga nuklir.
Pekerjaan perdana program LOTE ini dipastikan akan dimulai pada bulan Mei 2026 ini dengan menyasar kapal selam tertua di kelasnya, yakni HMAS Farncomb. Berdasarkan jadwal asli, HMAS Farncomb seharusnya sudah pensiun pada tahun ini, namun dengan adanya program LOTE, masa pakainya kini diperpanjang hingga sekitar tahun 2036. Jika seluruh rangkaian program perpanjangan umur ini sukses, armada Collins class diproyeksikan bakal terus mengarungi lautan hingga akhir dekade 2040-an untuk mengawal perbatasan laut Australia.
Angka AU$11 miIiar yang diumumkan saat ini melonjak signifikan dibandingkan dengan estimasi awal yang diajukan oleh pemerintahan koalisi sebelumnya, yang memperkirakan biaya LOTE hanya berada di kisaran AU$4 miIiar hingga AU$6 miIiar. Kenaikan anggaran yang membengkak ini mencerminkan tingginya risiko teknis dan kompleksitas dalam meremajakan kapal selam tua yang awalnya hanya didesain untuk masa pakai 30 tahun.
Govt. announcement on 🇦🇺’s Collins Class Subs. life of type extension descope 👇. No surprises, except that its only being announced now. There were always big questions over whether the full plan was technically feasible or financially prudent.
On availability, these should… pic.twitter.com/NyoHTZ5EMR
— Jennifer Parker (@JAParker29) May 19, 2026
Saat ini, keenam kapal selam tersebut tercatat telah beroperasi antara 23 hingga 30 tahun, dan pihak galangan kapal milik pemerintah, ASC (Australian Submarine Corporation) yang berbasis di Adelaide, telah ditunjuk sebagai kontraktor utama yang bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan upgrade masif ini.
Menariknya, terdapat perubahan strategi teknis dalam pelaksanaan LOTE kali ini. Richard Marles menyatakan bahwa penggantian infrastruktur sistem penggerak diesel-elektrik di dalam kapal selam hanya akan dilakukan jika benar-benar diperlukan. Pendekatan ini merupakan perubahan dari rencana awal yang sempat dirancang untuk menjembatani celah kemampuan pasca pembatalan program kapal selam Attack class buatan Naval Group Perancis.

Marles menjelaskan dalam pidatonya di Lowy Institute bahwa program ini sengaja dirancang untuk mengurangi risiko rekayasa enjiniring dengan mempertahankan sistem yang sudah ada selama masih layak, sembari tetap memprioritaskan peningkatan pada kemampuan kritis seperti sistem senjata dan sistem tempur (combat systems). Selain itu, pemerintah Australia juga menerapkan strategi percepatan dan prioritas kerja pemeliharaan (sustainment) pada unit-unit yang lebih muda di kelas ini, yang akan dimulai dari HMAS Rankin.
Seperti dikutip Theguardian.com, keputusan untuk memperpanjang umur Collins class ini juga dibayangi oleh tantangan kesiapan operasional (readiness rate) yang sempat menuai kritik tajam di dalam negeri. Di bawah siklus pemeliharaan normal, idealnya hanya ada dua kapal selam yang berada di galangan untuk perawatan terjadwal dari total enam unit yang dimiliki.

Namun, pada November 2024 silam, sempat terungkap fakta mengejutkan ke publik bahwa lima dari enam kapal selam Collins class ternyata tidak siap operasional akibat berbagai kendala teknis dan pemeliharaan. Menghadapi situasi tersebut, pemerintah Australia kini memasang target realistis di mana rata-rata tiga kapal selam akan berada dalam proses pemeliharaan pada waktu yang bersamaan, sementara tiga unit lainnya berada di bawah kendali penuh operasional Angkatan Laut, termasuk dua unit yang siap dideploy kapan saja untuk misi operasional.
Rencana awal perpanjangan usia operasional Collins class sebenarnya dicetuskan sejak era Pemerintahan Rudd dari Partai Buruh. Namun, kebijakan tersebut berubah di era Pemerintahan Abbott dari kubu Koalisi yang sempat bernegosiasi secara intensif untuk membeli kapal selam konvensional Soryu class dari Jepang. Haluan kembali berubah ketika Pemerintahan Turnbull akhirnya memilih dan menandatangani kontrak megah dengan Naval Group dari Perancis pada tahun 2016 untuk membangun armada kapal selam konvensional Attack class. Kontrak raksasa dengan Perancis tersebut pada akhirnya secara dramatis dirobek begitu saja oleh Pemerintahan Morrison pada tahun 2021 setelah Australia menyepakati pakta pertahanan AUKUS bersama Amerika Serikat dan Inggris untuk beralih sepenuhnya ke teknologi nuklir.
Sesuai dengan cetak biru pakta AUKUS, Australia dijadwalkan akan menerima kapal selam bertenaga nuklir (SSN) bekas pakai milik AS, Virginia class, mulai tahun 2032 sebagai solusi interim. Kapal-kapal selam Virginia class berikutnya direncanakan akan mendarat setiap empat tahun sekali, sebelum akhirnya Australia memproduksi kapal selam nuklir generasi baru hasil desain bersama Inggris, yang dikenal sebagai SSN-AUKUS, pada tahun 2042 mendatang.
Pengumuman perpanjangan umur armada Collins class yang menelan biaya besar tidak luput dari kritik tajam oposisi. Shadow Defence Minister (Menteri Pertahanan Bayangan), James Paterson, menuduh Richard Marles sengaja menghindari pengawasan ketat terkait perubahan strategi pada armada Collins class serta masalah-masalah penundaan pertahanan lainnya.
Paterson melayangkan kritik pedas dengan menyatakan bahwa jika Richard Marles mengerahkan energi yang sama besarnya untuk meyakinkan rekan-rekan di komite peninjau pengeluaran anggaran (expenditure review committee), seperti halnya saat ia menyerang kebijakan pemerintah sebelumnya, mungkin Angkatan Pertahanan Australia (ADF) tidak perlu menanggung begitu banyak pemotongan kemampuan tempur yang terjadi di bawah pengawasannya saat ini. (Gilang Perdana)
Air Independent Propulsion Fuel Cell: Teknologi Dibalik Kemampuan Endurance Kapal Selam TNI AL


