Tangkal Rudal Anti Kapal Supersonik Cina dan Rusia, AL AS Borong Target GQM-163A Coyote Senilai US$100 Juta

Menghadapi pesatnya perkembangan teknologi rudal anti-kapal supersonik yang dikembangkan oleh Cina dan Rusia selama beberapa dekade terakhir, Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) mengambil langkah taktis untuk memastikan kesiapan tempur seluruh armada kapal perang permukaannya.

Baca juga: Iran Ungkap Keberadaan Pangkalan High Speed Boat dengan Rudal Anti Kapal di Bawah Tanah

Melalui Naval Air Warfare Center Weapons Division di Point Mugu, California, AS resmi memberikan kontrak baru senilai hampir US$100 juta kepada Northrop Grumman Systems. Kontrak bernilai fantastis ini ditujukan untuk melanjutkan program rudal target supersonik GQM-163A Coyote selama lima tahun ke depan hingga Mei 2031.

Perlu digarisbawahi bahwa Coyote bukanlah sebuah senjata ofensif, melainkan sebuah rudal target (replika) canggih yang dirancang khusus untuk terbang dan meniru persis karakteristik, kecepatan, serta lintasan terbang rudal jelajah anti kapal mematikan milik lawan.

Kehadiran Coyote menjadi sangat krusial karena merupakan satu-satunya rudal target buatan AS yang mampu mereplikasi ancaman nyata tersebut secara presisi di udara, sehingga kru kapal perang dan sistem pertahanan udara berbasis Aegis dapat berlatih dalam kondisi simulasi tempur live-fire (uji tembak nyata) yang realistis.

Urgensi dari perpanjangan kontrak ini tidak lepas dari masifnya penyebaran rudal anti kapal supersonik seperti YJ-12 milik Cina dan P-800 Oniks besutan Rusia. Rudal YJ-12 dikenal mampu melesat dengan kecepatan di atas Mach 2 menggunakan profil terbang sea-skimming atau melesat hanya beberapa meter di atas permukaan laut guna menghindari deteksi radar kapal lawan hingga detik-detik terakhir sebelum benturan.

Profil fatal yang sama juga diadopsi oleh rudal P-800 Oniks Rusia yang kini telah ekspor ke berbagai negara seperti India dan Vietnam, serta varian rudal sejenis yang dipasok ke militer Iran. GQM-163A Coyote mampu menandingi karakteristik ancaman tersebut secara langsung dengan kemampuan melesat di atas Mach 2.5 pada ketinggian super rendah hingga mencapai 4 meter di atas permukaan laut.

Tidak hanya itu, Coyote juga dapat diprogram untuk melesat ke ketinggian 15.850 meter lalu melakukan manuver menukik tajam (high-altitude dive) dengan kecepatan ekstrem mencapai Mach 3.5 atau lebih. Dua profil serangan inilah—sea-skimming dan high-altitude dive—yang menjadi momok menakutkan bagi kapal perang modern, dan sistem pertahanan kapal harus mampu merontokkan keduanya demi dapat bertahan hidup di lautan.

Aspek sebagai program acuan resmi (program of record) bagi simulasi ancaman berkecepatan tinggi US Navy, peran Coyote tidak tergantikan karena tidak ada produk substitusi lain yang tersedia di dalam negeri jika program ini dihentikan.

Ketika sebuah kapal perusak berteknologi Aegis meluncurkan rudal pencegat Standard Missile-6 (SM-6) dalam latihan skala besar Rim of the Pacific (RIMPAC), atau ketika Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) memvalidasi sistem pertahanan kapal mereka dari potensi serangan rudal Cina, target supersonik yang mereka tembak di langit tidak lain adalah GQM-163A Coyote.

Rekam jejak program ini terbilang sangat panjang, dimulai pada tahun 2000 saat Orbital Sciences (yang kemudian diakuisisi oleh Northrop Grumman) memenangkan kontrak pengembangan awal. Pasca-penerbangan perdana pada 2003 dan tuntasnya uji coba pada 2005, Coyote resmi masuk kedinasan operasional. Pada bulan Juni 2025, Northrop Grumman bahkan sukses menyerahkan unit Coyote ke-200 kepada US Navy, sebuah angka kumulatif yang mencerminkan tingginya permintaan produksi berkelanjutan tidak hanya dari AS, tetapi juga dari negara sekutu terdekat seperti Jepang, Israel, dan Perancis yang menghadapi lingkungan ancaman serupa.

Terma SKWS DLT-12T: Perisai Serangan Rudal Anti Kapal di Korvet SIGMA Class TNI AL

Ditinjau dari sebaran geografis pengerjaannya, kontrak multi-tahun ini menegaskan jangkauan multinasional program Coyote yang mencakup tujuh lokasi di Amerika Serikat, satu fasilitas di Skotlandia, dan satu lokasi rahasia di Israel. Pangkalan Point Mugu memegang porsi kerja terbesar, yakni sebanyak 27 persen sebagai area uji coba utama di kawasan Pasifik.

Sementara itu, fasilitas uji tembak Hebrides di Skotlandia memegang porsi 6 persen untuk mendukung latihan tempur live-fire negara-negara aliansi NATO di atas Samudra Atlantik, dan fasilitas di Israel memegang porsi 3 persen yang sejalan dengan pembelian jangka panjang GQM-163A oleh Tel Aviv untuk menguji sistem pertahanan armada laut mereka sendiri.

Cakupan kontrak senilai 100 juta Dollar AS ini juga tidak terbatas pada perakitan fisik rudal, melainkan mencakup perencanaan trajektori penerbangan yang menentukan profil serangan spesifik dalam setiap skenario uji coba, hingga dukungan logistik pengisian rudal ke peluncur darat.

Setiap skenario latihan dirancang khusus untuk menguji batas kemampuan sistem radar Aegis dalam mendeteksi objek sea-skimmer pada jarak maksimum, ataupun menguji performa kanon sistem pertahanan titik pendek (CIWS) dalam melumpuhkan target yang menukik cepat di detik-detik terakhir.

Langkah Pentagon untuk mengamankan ketersediaan armada GQM-163A Coyote hingga tahun 2031 dirasa semakin mendesak seiring dengan membengkaknya inventaris rudal anti-kapal milik Cina dan Rusia. Kawasan Laut Cina Selatan, yang menjadi rute patroli rutin bagi gugus tempur kapal induk (carrier strike group) Amerika Serikat, kini telah dipayungi oleh baterai rudal anti-kapal berbasis darat milik Cina, varian rudal yang diluncurkan dari kapal selam, serta salvo rudal dari kapal perang permukaan. Kombinasi tersebut mampu melepaskan puluhan rudal supersonik dan subsonik secara simultan dalam sebuah serangan saturasi yang dirancang untuk melumpuhkan pertahanan kapal perang terkuat sekalipun.

Kemampuan US Navy untuk menetralisir taktik ofensif semacam itu sangat bergantung pada sistem Aegis, rudal Standard Missile, dan senjata pertahanan jarak dekat yang telah terus-menerus diuji dan disempurnakan melalui konfrontasi tiruan melawan Coyote selama dua dekade terakhir. (Bayu Pamungkas)

Usung Strategi Armada Nyamuk, Iran Pamer Fast Boat “27 Rajab” Pembawa Rudal Anti Kapal

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *