Menghitung Harga Sebuah Presisi: Di Balik Mahalnya Amunisi Pintar (Airburst) 35mm AHEAD Rheinmetall

Sistem pertahanan udara titik (point defence) modern kini sangat bergantung pada efektivitas kanon reaksi cepat untuk menetralisir ancaman di ketinggian rendah, mulai dari rudal jelajah hingga drone intai dan kamikaze. Salah satu pionir dalam teknologi ini adalah Rheinmetall Oerlikon melalui sistem Skyshield, Skynex, maupun Skyranger yang mengandalkan kanon otomatis kaliber 35mm.
Baca juga: Rheinmetall Kembangkan Munisi Airburst untuk Kanon 30mm di Kapal Perang AL AS
Kunci utama dari kedahsyatan sistem penangkis serangan udara (Arhanud) ini bukan sekadar pada kecepatan tembak larasnya, melainkan pada penggunaan jenis amunisi khusus berteknologi airburst (meledak di udara) pintar. Amunisi canggih yang dikenal dengan nama AHEAD (Advanced Hit Efficiency and Destruction) ini dirancang untuk menciptakan dinding fragmentasi mematikan tepat di jalur lintasan target.
Namun, di balik efektivitasnya yang luar biasa dalam merontokkan target-target berukuran kecil, sebuah fakta baru terungkap mengenai biaya logistik di balik setiap peluru yang dimuntahkan. Pengadaan militer berskala besar baru-baru ini menyibak tabir bahwa harga per unit amunisi pintar ini ternyata lumayan mahal, sebuah realitas yang menjadi tantangan tersendiri bagi kalkulasi perang modern, termasuk bagi pasukan seperti Angkatan Bersenjata Ukraina yang saat ini sangat bergantung pada pasokan barat.
Kepastian mengenai harga ini terungkap setelah Kementerian Pertahanan Rumania mengumumkan paket pengadaan persenjataan senilai 5,68 miliar Euro dari Rheinmetall. Dalam dokumen kontrak tersebut, divisi Rheinmetall Waffe Munition GmbH menerima alokasi sebesar 449.750.000 Euro khusus untuk pengadaan 401.760 butir amunisi 35mm AHEAD.
Rheinmetall Air Defence AHEAD ammunition effective against drones 🇨🇭🇩🇪.
As a follow-up to my previous post, this video explains how AHEAD air-burst ammunition works. https://t.co/hkozMdodZu pic.twitter.com/F8rQdcmdXa— DefenseTrends (@DefenseTrends) February 8, 2026
Jika dikalkulasikan, harga untuk satu butir peluru pintar AHEAD mencapai sekitar 1.119,50 Euro. Jika dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah berdasarkan kurs terkini yang menyentuh angka Rp20.970, maka harga satu butir peluru tersebut berada di nominal yang luar biasa, yaitu sekitar Rp23.475.915.
Angka ini seketika mematahkan asumsi awal bahwa sistem Arhanud berbasis kanon seperti Skynex atau Skyshield selalu menjadi opsi yang jauh lebih ekonomis dibandingkan penggunaan rudal darat-ke-udara dalam menghadapi ancaman drone. Hal ini diperparah oleh fakta operasional bahwa untuk melumpuhkan satu target udara, kanon tidak menembakkan peluru tunggal, melainkan dalam satu rentetan tembakan beruntun (burst).
Rekaman video intersepsi di lapangan menunjukkan bahwa satu burst standar dari sistem ini rata-rata melepaskan sekitar 10 butir peluru. Artinya, untuk satu kali keterlibatan target tunggal—dengan asumsi target hancur pada rentetan pertama—biaya yang dihabiskan mencapai lebih dari 11.000 Euro, yang jika dirupiahkan setara dengan Rp234.759.150.
Ketika digunakan untuk merontokkan drone serang sekelas Shahed-136, biaya operasional ini tentu masih dianggap sangat efektif dan masuk akal jika dibandingkan dengan nilai aset strategis yang dilindungi atau harga rudal hanud yang jauh lebih mahal. Namun, tantangan muncul ketika musuh mulai meluncurkan drone pengecoh murah berbahan busa seperti jenis Gerber, di mana biaya satu rentetan peluru AHEAD ini dipastikan sudah jauh melampaui harga dari drone umpan itu sendiri.
Tingginya harga per butir amunisi 35×228mm AHEAD ini sebenarnya sangat bisa dijelaskan dari sudut pandang keajaiban teknik (engineering) dan tingkat presisi yang diterapkan. Peluru ini bukan sekadar proyektil logam statis, melainkan amunisi yang dapat diprogram secara induktif dalam hitungan mikrodetik. Skema kerjanya dimulai saat sistem kendali tembakan (fire control system) radar mendeteksi jarak dan kecepatan target untuk menghitung sudut tembak yang tepat.
Pada momen peluru ditembakkan dan melesat melewati perangkat moncong laras (muzzle device), kecepatan aktual peluru tersebut diukur secara instan hanya dalam waktu 2 mikrodetik. Dalam jendela waktu 2 mikrodetik yang sangat sempit itu pula, sistem komputer di laras langsung menghitung waktu kapan peluru akan berada tepat di sebelah target dan memprogram waktu detonasi tersebut ke dalam sekring elektronik peluru melalui koil induksi. Ketika peluru mencapai titik koordinat target di udara, sekring elektronik akan meledakkan proyektil dengan akurasi mikrodetik, lalu melepaskan 152 submunisi berupa pecahan logam tungsten pra-bentuk yang menyebar membentuk payung fragmentasi pejal untuk menghancurkan struktur target. Kompleksitas manufaktur dengan toleransi kesalahan yang sangat ketat pada setiap komponen elektronik dan mekanik inilah yang membuat amunisi AHEAD begitu mematikan sekaligus melambungkan harga produksinya.

Alutsista Andalan Kopasgat TNI AU
Fakta mengenai mahalnya biaya per rentetan amunisi canggih ini tentu menjadi catatan yang sangat menarik bagi pengamat militer di tanah air, mengingat alutsista keluarga Rheinmetall Oerlikon ini juga dioperasikan secara aktif oleh Satuan Penangkis Serangan Udara (Satuan Hanud) Kopasgat TNI AU.
Kopasgat mengintegrasikan kanon Oerlikon Skyshield 35mm sebagai perisai penangkis titik untuk melindungi pangkalan udara utama dan radar strategis Indonesia dari serangan udara. Karena sistem Skyshield TNI AU juga memanfaatkan kecerdasan amunisi airburst berkemampuan serupa untuk menjamin one-shot-kill terhadap target modern, ulasan pengadaan di Eropa ini memberikan gambaran riil mengenai nilai ekonomis serta besarnya biaya logistik yang harus dikeluarkan dalam merawat kesiapan tempur dan melakukan latihan penembakan rutin (live firing exercise).
Pada akhirnya, adopsi teknologi amunisi pintar seperti AHEAD menegaskan bahwa demi mencapai tingkat deteksi dan hancuran perimeter yang absolut terhadap ancaman asimetris modern, presisi tinggi memang menuntut harga yang tidak murah. (Bayu Pamungkas)
Related Posts
-
Indonesia Resmi Terima Batch Pertama Rafale, Kejutan Rudal Meteor Singkirkan Bayang-Bayang Embargo
8 Comments | May 18, 2026 -
Bakamla: Pantau Laut Indonesia Dengan Drone Helikopter
9 Comments | Feb 3, 2015 -
AMX MK61 : Howitzer 105mm Self Propelled Armed TNI AD
No Comments | Jun 5, 2012 -
EC120B Colibri: Helikopter Latih Tiga Angkatan
6 Comments | Jan 29, 2015



Kalau dibanding amunisi hanud korkut buatan turki gimana min? Apakah sama sama mahal?
Belum dapat informasinya.
Itu sangat murah
Jika dana MBG dialihkan untuk membeli kebutuhan alusista sebagai alat pertahanan dan keamanan, maka tidak perlu hutang sana sini yang menambah beban rakyat