Australia Batal Beli Kapal Selam Nuklir Baru dan Pilih Borong 3 Unit Virginia Class Bekas Pakai

Dinamika kemitraan strategis trilateral AUKUS (Australia, Inggris, dan Amerika Serikat) menorehkan babak baru. Dalam pertemuan tingkat tinggi di sela-sela gelaran IISS Shangri-La Dialogue di Singapura, ketiga negara mengumumkan amandemen signifikan terkait cetak biru pengadaan kapal selam nuklir (SSN – Nuclear-powered Attack Submarine) klaster pertama (Pillar I) untuk Angkatan Laut Australia (Royal Australian Navy – RAN).
Alih-alih menerima kombinasi kapal selam baru dan bekas seperti rencana semula tahun 2023, Australia kini dipastikan hanya akan menerima tiga unit kapal selam Virginia Class yang seluruhnya berstatus bekas pakai alias in-service.
Kesepakatan baru ini dikonfirmasi langsung dalam AUKUS Defense Ministers Meeting yang dihadiri oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia Richard Marles, Sekretaris Pertahanan AS Pete Hegseth, dan Menteri Pertahanan Inggris John Healey. Berdasarkan parameter rencana sebelumnya, Canberra dijadwalkan membeli satu unit kapal selam baru (newbuild) varian Blok VII dan dua unit kapal selam Blok IV yang sudah aktif beroperasi di jajaran Angkatan Laut AS (US Navy).
Namun, dalam pernyataan bersama pasca-pertemuan, ketiga menteri sepakat mengubah arah kebijakan demi melakukan sinkronisasi, menyederhanakan manajemen rantai pasok (supply chain), serta memangkas kerumitan persyaratan operasional dan pemeliharaan (maintenance).
Australia will buy three second-hand Virginia-class submarines from the USA under a revised AUKUS plan intended to simplify the country’s nuclear-powered submarine acquisition.the change would deliver significant savings,with three used submarines from the same production block. pic.twitter.com/ZckIUGMILS
— Valhalla (@ELMObrokenWings) May 31, 2026
Seperti dikutip usni.org, dalam konferensi pers, Richard Marles membeberkan alasan taktis di balik perubahan radikal ini. Jika rencana awal tetap dijalankan, Australia pada satu lini masa tertentu akan dipaksa mengoperasikan hingga empat kelas kapal selam yang berbeda secara bersamaan, yakni kapal selam konvensional Collins class yang diperpanjang usia pakainya, dua unit Virginia class bekas, satu unit Virginia class baru gres, dan terakhir kapal selam generasi masa depan kelas SSN-AUKUS pada dekade 2040-an.
Pengoperasian empat jenis kapal selam sekaligus dinilai akan sangat rumit dan membebani postur armada Angkatan Laut Australia. Dengan menyeragamkan akuisisi awal menjadi tiga unit Virginia class yang sama-sama berstatus in-service (kemungkinan besar varian Blok IV), jalur transisi kemampuan pengoperasian kapal selam nuklir Australia menjadi jauh lebih sederhana dan hemat biaya, meski Marles mengakui penghematan anggaran globalnya relatif minor namun tetap sangat berarti bagi postur PDB Australia.
Langkah pengalihan ini juga dinilai menjadi solusi pragmatis atas situasi pelik yang tengah dihadapi oleh basis industri galangan kapal kapal selam di Amerika Serikat. Saat ini, galangan kapal AS seperti General Dynamics Electric Boat dan Huntington Ingalls Industries baru mampu memproduksi sekitar 1,3 kapal selam serang per tahun.
Padahal, untuk bisa memuluskan transfer teknologi ke Australia tanpa mengorbankan armada domestik, industri AS ditargetkan harus mampu memproduksi 2,33 unit Virginia class ditambah satu unit kapal selam rudal balistik Columbia class setiap tahunnya—sebuah target performa tinggi yang menurut Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, baru bisa dicapai sepenuhnya pada tahun 2032. Menanggapi tantangan tersebut, Marles menegaskan bahwa Canberra tetap optimis karena Australia ikut memberikan kontribusi finansial langsung ke dalam basis industri galangan kapal AS guna memicu percepatan laju produksi.
Australia Produksi Lokal Rudal NSM dan JSM, Nasib Malaysia Justru Gigit Jari Dijegal Norwegia
Komitmen penyiapan sumber daya manusia (SDM) pun terus digenjot secara paralel. Saat ini, sekitar 200 teknisi dan pelaut terampil Australia sudah berada di Pearl Harbor untuk berlatih secara langsung dalam mendukung operasional kapal selam Virginia class milik US Navy. Langkah ini menjadi fondasi penting sebelum peluncuran program Submarine Rotation Force‑West (SRF-West) yang dijadwalkan on-track pada tahun 2027 mendatang di Pangkalan Angkatan Laut HMAS Stirling, Australia Barat.
Melalui SRF-West, satu unit kapal selam nuklir Inggris dan hingga empat unit kapal selam nuklir AS akan ditempatkan secara bergilir di Australia, sekaligus menjadi ruang latihan nyata bagi personel RAN sebelum tiga unit Virginia Class resmi dialihkan sepenuhnya ke bawah bendera Australia pada awal dekade 2030-an.
Selain merombak urusan kapal selam di bawah Pillar I, pertemuan trilateral di Singapura ini juga menelurkan pengumuman bersejarah bagi AUKUS Pillar II, yaitu peluncuran program kendaraan bawah air tanpa awak atau Uncrewed Undersea Vehicles (UUV). Ini merupakan program perdana di bawah Pillar II yang menyatukan talenta sektor pertahanan ketiga negara untuk mengembangkan kapabilitas militer tingkat lanjut.
Program UUV yang ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2027 ini difokuskan pada pengembangan muatan taktis (payload) seperti sistem sensor mutakhir dan persenjataan yang nantinya dapat saling dipertukarkan (interchangeable) dan diintegrasikan di seluruh armada drone bawah air milik ketiga negara sekutu tersebut. (Bayu Pamungkas)
Lengkapi Armada Intai Maritim, Australia Resmi Terima Pesawat Ke-14 (Terakhir) P-8A Poseidon


