Pasca Sowan ke Surabaya, Fregat Belanda HNLMS De Ruyter F804 ‘Diusir’ Jaming di Laut Cina Selatan

Belum genap dua minggu setelah menyelesaikan misi diplomasi maritim dan bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, fregat pertahanan udara dan komando Angkatan Laut Kerajaan Belanda, HNLMS De Ruyter (F804), terlibat ketegangan serius di kawasan panas Laut Cina Selatan. Militer Cina (PLA) mengklaim telah mengerahkan kekuatan laut dan udara untuk mengusir kapal perang jenis De Zeven Provinciën class tersebut menggunakan metode perang elektronik (electronic warfare).

Baca juga: Nostalgia “Battle of the Java Sea”: Fregat Siluman HNLMS De Ruyter (F804) Belanda Merapat di Surabaya

Berdasarkan laporan resmi dari Komando Teater Selatan PLA (PLA Southern Theater Command / PLA STC) yang dirilis pada Rabu (27/5/2026), pihak Cina menuduh HNLMS De Ruyter telah menyusup ke wilayah perairan Kepulauan Xisha (Paracel) yang disengketakan—wilayah yang dikuasai Beijing sejak direbut secara militer dari Vietnam pada dekade 1970-an. Ketegangan meningkat setelah fregat Belanda tersebut menerbangkan helikopter organik NH90 miliknya, yang dituding oleh Beijing telah melanggar wilayah udara kedaulatan mereka.

Juru Bicara PLA STC, Kolonel Senior (Senior Captain) Zhai Shichen, menyatakan bahwa menanggapi tindakan tersebut, pihaknya langsung mengorganisasi elemen tempur laut dan udara untuk mengambil tindakan tegas yang terukur.

“Pasukan mengambil tindakan yang diperlukan, termasuk memberikan peringatan verbal dan melakukan warning electronic jamming (jaming elektronik peringatan) sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku untuk mengusir kapal dan helikopter tersebut,” ujar Zhai Shichen. Pihak Beijing juga secara tegas menuntut agar Belanda segera menghentikan aksi “pelanggaran dan provokasi” tersebut.

Kronologi Jalur Pelayaran: Terjadi Setelah dari Indonesia
HNLMS De Ruyter saat ini sedang melaksanakan misi global selama lima bulan bertajuk Pacific Archer 2026. Misi ini bertujuan untuk mempromosikan kebebasan navigasi (freedom of navigation) dan memperkuat hubungan dengan sekutu di kawasan Indo-Pasifik, sebelum nantinya bergabung dalam latihan multinasional RIMPAC 2026 di Hawaii pada musim panas ini.

Rute pelayaran HNLMS De Ruyter menegaskan bahwa insiden ini terjadi dalam perjalanan setelah mengunjungi Indonesia:

Surabaya, Indonesia (14–17 Mei 2026): Seperti yang pernah diulas dalam artikel Indomiliter.com sebelumnya (Nostalgia Battle of the Java Sea), kedatangan HNLMS De Ruyter ke Surabaya membawa misi diplomasi naval tingkat tinggi. Sebelum meninggalkan perairan Indonesia, fregat canggih ini sempat melaksanakan latihan bersama (Passing Exercise / Passex) dengan kapal markas TNI AL, KRI I Gusti Ngurah Rai-332 di Laut Jawa.

Manila, Filipina (22–24 Mei 2026): Seminggu sebelum insiden, HNLMS De Ruyter bersandar di Manila untuk aktivitas bersama Angkatan Laut Filipina. Menariknya, dalam wawancara dengan media lokal Manila Bulletin saat itu, kapten kapal sempat menyatakan bahwa interaksi sebelumnya dengan helikopter Cina berlangsung “profesional” dan tidak melibatkan aksi saling klaim wilayah. Namun, situasi berubah drastis beberapa hari kemudian.

Kepulauan Paracel (27 Mei 2026): Selepas dari Manila, fregat ini mengambil rute memotong di dekat Kepulauan Paracel yang langsung memicu reaksi keras dari armada perang Cina.

HNLMS De Ruyter (Liputan6)

Kehadiran HNLMS De Ruyter di Kepulauan Paracel bertepatan dengan momentum sensitif. Perancis dan negara-negara non-Pasifik Barat lainnya kian gencar mengirimkan armada mereka untuk menantang klaim sepihak 10-Dash Line (10 garis putus-putus) Cina yang didukung oleh ratusan kapal milisi ikan, Coast Guard, dan kapal perang.

Lebih dari itu, berdasarkan data dari Center for Strategic and International Studies’ Asia Maritime Transparency Initiative (CSIS AMTI), pelayaran Belanda ini dilakukan saat Beijing tengah gencar melakukan proyek reklamasi lahan besar-besaran di Antelope Reef. Pembangunan pulau buatan di terumbu karang tersebut diprediksi akan menjadi pangkalan militer terbesar milik Cina di kawasan Laut Cina Selatan.

Saat ini, Cina mengendalikan Kepulauan Paracel melalui jaringan 20 pos terdepan yang terintegrasi dengan kekuatan utama di daratan (mainland). Melalui pulau-pulau buatan inilah, PLA telah menggelar jaringan kemampuan electronic warfare (EW) garis depan yang sangat masif.

Di sisi lain, HNLMS De Ruyter bukanlah lawan yang mudah dalam perang elektronika. Sebagai fregat komando dan pertahanan udara, kapal ini mengandalkan sistem radar APAR (Active Phased Array Radar) dan radar intai jarak jauh SMART-L buatan Thales yang memiliki reputasi tinggi, lengkap dengan perangkat penunjang electronic warfare canggih untuk menangkal maupun mengidentifikasi gangguan jaming lawan.

Insiden saling “intip” dan adu jaming elektronika di sekitar Antelope Reef ini menjadi sinyal kuat bahwa keterlibatan kekuatan maritim Eropa di perimeter pertahanan depan Cina kini semakin berani dan langsung. (Gilang Perdana)

FNS Vendémiaire (F734): Fregat ‘Low Cost’ Perancis dengan Persenjataan di Bawah Korvet Fatahillah Class TNI AL

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *