Aldalbak TSY-23H: Rahasia di Balik Akurasi Tinggi Artileri Medan TNI Hasil Kolaborasi Hariff Defense-Pussenarmed

Dalam pertempuran artileri modern, kecepatan dan akurasi adalah dua variabel yang menentukan hidup dan mati di medan perang. Menjawab tantangan tersebut, industri pertahanan dalam negeri melalui Hariff Defense berkolaborasi dengan Pussenarmed (Pusat Kesenjataan Artileri Medan) berhasil mengembangkan Aldalbak (Artillery Firing System), sebuah sistem pengendali tembakan digital yang merevolusi cara kerja unit Artileri Medan (Armed) TNI AD.

Baca juga: Kemandirian Alutsista: Sisbak Mortir Digital Kini Perkuat Infanteri Dua Matra TNI

Selama puluhan tahun, proses penembakan meriam artileri mengandalkan prosedur manual yang kompleks. Secara konvensional, penembakan dibagi menjadi tiga fase kritis: Jaubak (Peninjau Penembakan) di garis depan, Pibak (Pimpinan Tembakan) sebagai pusat hitung, dan Pucuk sebagai unit eksekutor meriam.

Dahulu, personel Pibak harus menghitung koordinat menggunakan peta, penggaris, dan rumus trigonometri manual. Proses ini memakan waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Selain lambat, metode ini sangat rentan terhadap human error, terutama di bawah tekanan pertempuran. Kesalahan penarikan garis satu milimeter saja di atas peta dapat menyebabkan peluru meleset jauh dari sasaran di lapangan.

Aldalbak hadir sebagai solusi digital untuk menyederhanakan dan mengotomatisasi seluruh proses tersebut. Dengan bantuan teknologi GPS dan Digital Binocular yang dilengkapi Laser Range Finder (LRF), personel Jaubak kini dapat menentukan posisi musuh secara presisi hanya dengan satu klik.

Data koordinat tersebut kemudian dikirimkan secara instan melalui sistem komunikasi data nirkabel (wireless) ke unit Pibak. Hasilnya luar biasa, waktu perhitungan yang semula memakan belasan menit kini terpangkas menjadi di bawah 2 menit, atau rata-rata hanya dalam 60 detik. Kecepatan ini sangat krusial agar musuh, terutama yang menggunakan kendaraan bergerak, tidak sempat berpindah posisi sebelum peluru mendarat.

Salah satu keunggulan utama Aldalbak adalah sifatnya yang agnostik. Artinya, sistem ini dapat dipasang dan digunakan pada berbagai jenis meriam, baik meriam tarik (towed) model lama maupun unit artileri terbaru. Selama tabel data tembakan meriam tersebut tersedia dalam database komputer, sistem akan secara otomatis menyesuaikan kemiringan laras, azimut, hingga jenis isian pendorong dan hulu ledak yang diperlukan.

Howitzer M2A2 TNI AD saat ditarik dengan truk Unimog

Meskipun seluruh perhitungan sudah terotomatisasi, sistem ini tetap melibatkan peran manusia dalam eksekusi akhirnya sesuai dengan doktrin militer yang berlaku. Hal ini memastikan bahwa kendali tertinggi tetap berada di tangan prajurit, namun dengan dukungan teknologi yang jauh lebih akurat.

Aldalbak TSY-23H adalah hasil litbang tahun 2018-2019 dan merupakan hasil kolaborasi antara Hariff Defense dan Pussenarmed. Aldalbak sering digunakan dalam event latihan; YTP Armed dan Lat. Ancab (antar kecabangan) TNI AD 2020. Kehadirannya menjadi simbol modernisasi militer Indonesia agar tetap kompetitif dengan negara tetangga yang juga telah mengadopsi sistem digital sepenuhnya di medan tugas. (Haryo Adjie)