Seperti Shotgun Raksasa, MBT Leclerc Perancis Tembak Jatuh Drone FPV Gunakan Amunisi Canister 120mm

Sebuah terobosan taktis yang mendobrak keterbatasan doktrin kavaleri modern baru saja dibuktikan oleh Angkatan Darat Perancis dalam uji tembak langsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 20 Mei 2026. Komandan Brigade Lapis Baja ke-2 Prancis mengonfirmasi bahwa sebuah tank tempur utama (Main Battle Tank / MBT) Leclerc dari Resimen Cuirassier ke-5 sukses merontokkan sebuah drone intai/FPV di udara.
Baca juga: Rheinmetall L/44 120mm: Senjata Pamungkas MBT Leopard 2A4 Revolution TNI AD
Alih-alih menggunakan senapan mesin atau amunisi pintar berpeledak tinggi (High-Explosive), MBT seberat puluhan ton ini mencatatkan sejarah baru dengan memanfaatkan amunisi sebar khusus kaliber 120mm berkode OEFC F1 (Obus Explosif à Effet de Balayage Dirigé). Uji coba ini langsung menjadi sorotan karena memperlihatkan bagaimana kekuatan lapis baja Barat secara kreatif beradaptasi melawan ancaman asimetris udara murah setelah Perang Ukraina membuktikan betapa rentannya monster baja bernilai jutaan dolar terhadap drone komersial.
Prinsip kerja dari penembakan yang tidak lazim ini sejatinya meniru mekanisme senapan sebar (shotgun) namun dalam skala masif. Amunisi OEFC F1 yang dikembangkan oleh KNDS France (dahulu Nexter/GIAT Industries) awalnya dirancang untuk pertempuran urban jarak dekat, pembersihan parit, dan perlindungan konvoi dari serangan infanteri.
Ketika ditembakkan dari meriam smoothbore CN120-26/52 milik Leclerc, selongsong peluru akan pecah seketika setelah keluar dari laras dan menyemburkan sekitar 1.100 bola tungsten dengan kecepatan luar biasa mencapai 1.410 meter per detik. Ribuan bola logam ini membentuk kerucut sebaran (sweeping cone) selebar radius 500 meter yang langsung menyelimuti jalur penerbangan drone.
🇫🇷 KNDS-France unveils Leclerc XLR tank at IDEX 2025
In Abu Dhabi (UAE), IDEX 2025, KNDS-France presented for the first time the modernized main battle tank ( MBT ) Leclerc XLR , developed as part of the French SCORPION ground forces improvement program. pic.twitter.com/D39AsszIHs
— OSINT Expert (@OsintExperts) February 18, 2025
Metode intersepsi volumetrik ini sangat efektif karena kru tank tidak perlu mengenai badan drone secara presisi; densitas sebaran proyektil tungsten yang sangat padat sudah cukup untuk merusak baling-baling, memutus kabel interior, menembus baterai, atau merusak sistem giroskop hingga drone kehilangan kendali dan jatuh.
Eksperimen mutakhir ini berada di bawah koordinasi Future Combat Command (CCF) Perancis, sebuah lembaga yang dibentuk pada Agustus 2023 untuk mempercepat adopsi teknologi medan perang dan integrasi doktrin secara cepat tanpa terikat birokrasi pengadaan konvensional. Dalam skenario uji coba di Abu Dhabi, kondisi penembakan sengit sengaja dibuat melebihi parameter yang biasa ditemui di Ukraina atau Timur Tengah, termasuk mensimulasikan vektor pendekatan drone yang tegak lurus (perpendicular), lintasan terbang yang tidak menentu, dimensi target yang sangat kecil, serta ketinggian keterlibatan yang lebih ekstrem.
Hadapi Perang Era Baru, Militer Vietnam Rakit Enam Senapan Serbu AK-47 Jadi Senjata Anti Drone
Tantangan terbesar kru tank terletak pada sinkronisasi kendali tembak dan kecepatan putar kubah (turret traverse) saat melacak target lateral yang menghasilkan kecepatan sudut sangat tinggi, berbeda dengan drone yang datang dari arah depan yang secara alami akan langsung masuk ke dalam jebakan kerucut proyektil tungsten.
Meskipun sukses besar, militer Perancis secara realistis mengategorikan kemampuan anti-drone meriam Leclerc ini sebagai kapabilitas pertahanan diri yang bersifat oportunistik (opportunistic anti-drone capability), bukan sebagai pengganti sistem pertahanan udara jarak dekat (SHORAD) murni seperti Flakpanzer Gepard.
Keterbatasan fisik bawaan dari sebuah MBT tetap menjadi batasan mutlak, seperti sudut elevasi laras meriam yang terbatas karena tank dirancang untuk pertempuran horizontal, kapasitas muat amunisi 120mm di dalam kompartemen yang sangat terbatas, siklus pengisian peluru (reload) yang lambat, hingga biaya logistik dan finansial per satu butir peluru OEFC F1 yang jauh lebih mahal ketimbang peluru autocannon. Oleh karena itu, target taktis dari modifikasi fungsi amunisi ini hanya dibatasi pada proteksi darurat tingkat unit terhadap ancaman FPV, kuadkopter, drone intai altitudo rendah, serta amunisi pital (loitering munition) pada fase terminal yang beroperasi sangat dekat di sekitar perimeter tank.
Aselsan Pasok Sistem Proteksi Aktif (APS) AKKOR 100 untuk MBT Leopard 2A4 Turki
Secara historis, upaya tank menghantam sasaran udara sebenarnya sudah terjadi sejak Perang Dunia II, seperti klaim ace pahlawan Jerman Otto Carius yang merontokkan pesawat penyerang darat Soviet IL-2 Sturmovik menggunakan meriam 88mm Tiger I, atau penembakan helikopter Mi-24 Irak oleh M1 Abrams AS menggunakan amunisi 120mm selama Operasi Desert Storm pada 1991.
Doktrin Perang Dingin Uni Soviet bahkan secara formal mengajarkan awak T-55 hingga T-80 untuk menembak helikopter dengan peluru HE-FRAG. Namun, langkah Perancis kali ini dinilai jauh lebih maju karena mereka tidak melakukan improvisasi mekanis luar seperti memasang sangkar besi (cope cage), sistem pengacak sinyal (jamming), atau dudukan senapan mesin tambahan di atas kubah kubah seperti yang dilakukan Rusia dan Ukraina, melainkan murni memanfaatkan dan mengoptimalkan fungsi amunisi sebar taktis yang sudah tersedia di dalam inventaris senjata standar mereka. (Gilang Perdana)


