Hadapi Perang Era Baru, Militer Vietnam Rakit Enam Senapan Serbu AK-47 Jadi Senjata Anti Drone

Masifnya penggunaan drone murah dan FPV (First Person View) di medan perang modern telah mengubah doktrin pertempuran secara global. Menghadapi ancaman senyap yang mampu mengintai dan menyerang dari udara ini, militer dari berbagai negara dipaksa memutar otak untuk menemukan solusi penangkal yang cepat dan efisien.
Baca juga: Sakti! Lewat Fitur Wraith Shield, Radio Taktis L3Harris Kini Bisa ‘Rontokkan’ Drone Lawan
Langkah unik dan pragmatis baru-baru ini ditunjukkan oleh militer Vietnam. Alih-alih mengandalkan sistem elektronik yang mahal, mereka menciptakan sistem pertahanan udara improvisasi (makeshift anti-aircraft system) dengan menyatukan enam pucuk senapan serbu legendaris AK-47 (Type 56) pada satu dudukan baja kustom.
Sistem yang sekilas tampak seperti modifikasi ekstrem ala film fiksi ilmiah ini nyatanya bukan sekadar eksperimen di atas kertas. Senjata “Frankenstein” ini telah diproduksi secara terbatas dan mulai dioperasikan secara lapangan oleh unit Milisi Pertahanan Sipil (Self-Defense Militia) serta pasukan penjaga perbatasan regional Vietnam.
Mengusung konsep brute force konvensional, inovasi lokal ini sengaja dirancang untuk memberikan kemampuan pertahanan udara titik (point-defense) guna melindungi fasilitas penting, gudang logistik, maupun pos terdepan dari intaian drone komersial yang terbang rendah.
Vietnam DROPS IMPROVISED anti-drone gun mount with 6 GUNS
Binoculars built right in https://t.co/GEQwzcqk2B pic.twitter.com/EXSJFT5vXV
— RT (@RT_com) May 19, 2026
Secara teknis, inovasi ini bekerja dengan mengintegrasikan sistem pemicu tunggal (unified trigger). Ketika operator menarik tuas utama, keenam senapan serbu kaliber 7,62×39 mm tersebut akan menyalak secara serentak demi menciptakan dinding peluru (wall of lead) yang rapat di udara.
Untuk urusan bidikan, dudukan baja senjata ini dilengkapi dengan binokular atau keker jinjing berukuran besar yang dipasang sejajar dengan arah laras. Teropong manual ini menjadi andalan utama operator untuk melacak pergerakan drone dari jarak jauh, mengingat sistem ini beroperasi secara mandiri tanpa dukungan radar digital.
Langkah Vietnam ini dinilai sangat jenius dalam memanfaatkan rantai logistik masa lalu. Pasca Perang Dingin dan Perang Vietnam, negara ini memiliki timbunan jutaan pucuk senapan Type 56—varian AK-47 buatan Cina—yang tersimpan di gudang-gudang persenjataan mereka. Daripada membiarkan aset tersebut menganggur, bengkel persenjataan regional memodifikasinya menjadi senjata pertahanan udara berbiaya sangat rendah (low-cost solution).
Dibandingkan dengan sistem rakitan serupa di Ukraina yang umumnya hanya menggabungkan 2 hingga 4 pucuk senapan untuk menjaga mobilitas infanteri, varian 6 pucuk milik Vietnam ini menawarkan volume tembakan instan yang jauh lebih masif.
Six AK-74’s mounted on a tripod, used by Ukrainian forces as an improvised counter-drone system
Reload will take 3-5 business days pic.twitter.com/M1T6jzBERT
— Weapons Daily (@WeaponsVault) May 20, 2026
Meski demikian, sistem ini bukan tanpa kelemahan. Masalah terbesar terletak pada kontinuitas tembakan karena senjata ini masih mengandalkan magasin standar berkapasitas 30 peluru. Begitu peluru habis, operator harus mengganti keenam magasin tersebut secara manual satu per satu, sebuah jeda waktu yang cukup krusial di tengah intensitas pertempuran.
Bagaimanapun, kehadiran sistem enam pucuk AK-47 di dalam simulasi latihan tempur resmi militer Vietnam membuktikan bahwa di era modern, kombinasi senjata usang dengan sentuhan kreativitas lokal tetap menjadi solusi taktis yang sangat diandalkan ketika payung udara taktis atau sistem jammer elektronik sedang tidak tersedia. (Gilang Perdana)
Kalashnikov Luncurkan Senapan Serbu AK-12K dan AK-12SK: Varian yang Lebih Kompak dan Ringan


