Kontradiksi Nasib C-27J Spartan: Peru Tambah Armada Varian ‘Next Gen’, Australia Justru Resmi Pensiunkan Dini

Angkatan Udara Peru (FAP) resmi memperkuat armada angkut taktisnya dengan memesan unit kelima Leonardo C-27J Spartan. Langkah ini menjadi tonggak penting bagi Leonardo, karena pesanan dari Peru tersebut membantu pesawat angkut bermesin ganda ini mencapai angka 100 unit penjualan di seluruh dunia.

Baca juga: Lebih Senior dari Indonesia, Malaysia Pamer Fasilitas Pelatihan Kargo A400M Atlas Tercanggih

Pesawat baru ini dijadwalkan akan memperkuat Grupo 8 pada tahun 2027 dan akan menjadi C-27J pertama di Amerika Latin yang dikirim dalam konfigurasi Next Generation. Versi terbaru ini membawa pembaruan pada sistem avionik serta peningkatan aerodinamika yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan performa operasional di medan yang sulit.

Keputusan Peru untuk menambah armada bukan tanpa alasan kuat. Sejak mulai mengoperasikan Spartan pada tahun 2015, Angkatan Udara Peru telah membuktikan ketangguhan pesawat ini dalam menjalankan misi transportasi di wilayah terpencil, mulai dari puncak Pegunungan Andes hingga ke pedalaman cekungan Amazon.

Keberhasilan Peru dalam memanfaatkan keunggulan teknis C-27J menunjukkan bahwa pesawat ini sangat andal untuk negara dengan geografis ekstrem. Di sisi lain, tren positif di Peru dan pencapaian 100 unit penjualan global ini berbanding terbalik dengan kebijakan di Australia. Di bawah Strategi Pertahanan Nasional 2026, Australia memutuskan untuk menarik seluruh armada yang terdiri dari 10 unit C-27J dari kedinasan lebih awal dari rencana semula.

Analisis mengenai “kapoknya” Australia terhadap Spartan sering kali dikaitkan dengan masalah kesiapan operasional dan biaya perawatan yang tidak sebanding dengan kapabilitas angkutnya dalam doktrin pertahanan Australia yang baru. Angkatan Udara Australia (RAAF) merasa Spartan kesulitan memenuhi standar integrasi dalam rantai logistik mereka yang sangat menuntut.

Namun, bagi negara-negara seperti Peru dan calon pengguna potensial seperti Arab Saudi, daya tarik C-27J tetap tinggi berkat spesifikasi teknisnya. Ditenagai dua mesin turboprop Rolls-Royce AE2100-D2A berkekuatan masing-masing 4.637 shp, Spartan mampu melesat hingga 602 km/jam dengan kapasitas angkut maksimal 11,5 ton, atau membawa hingga 60 infanteri bersenjata lengkap.

Keunggulan utama C-27J terletak pada kemampuannya melakukan lepas landas dan pendaratan pendek (STOL) pada landasan pacu yang tidak dipersiapkan, yang dipadukan dengan konfigurasi kabin kargo yang luas—serupa dengan C-130 Hercules namun dalam ukuran lebih kecil.

Dengan hadirnya varian Next Generation yang lebih modern, Leonardo tampaknya ingin membuktikan bahwa meski Australia memutuskan mundur, masa depan Spartan di pasar global tetap cerah bagi operator yang membutuhkan pesawat angkut taktis yang tangguh, fleksibel, dan memiliki performa tinggi di medan-medan menantang yang tidak bisa dijangkau oleh pesawat angkut kelas berat. (Bayu Pamungkas)

C-295M: Pesawat Angkut Taktis Lapis Kedua TNI AU

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *