Profil HMS Dragon, Destroyer Inggris dengan Lukisan ‘Naga Merah’ yang Siap Dikirim ke Selat Hormuz

Ketegangan di kawasan Teluk memasuki fase kritis seiring dengan keputusan Inggris yang seolah “terseret” lebih dalam oleh Amerika Serikat ke dalam pusaran konflik langsung dengan Iran. Pengerahan kapal perusak (destroyer) HMS Dragon (D35) ke wilayah Selat Hormuz bukan sekadar misi patroli rutin, melainkan pernyataan sikap London yang kini berdiri sejajar dengan Washington dalam menghadapi potensi ancaman dari Teheran di jalur logistik energi paling vital di dunia.
Langkah berisiko ini menempatkan Royal Navy pada posisi terdepan dalam eskalasi militer di Timur Tengah, di mana kehadiran kapal perang kelas berat Inggris menjadi instrumen penentu untuk mengimbangi agresivitas kekuatan regional Iran yang kian meningkat belakangan ini.
HMS Dragon merupakan kapal keempat dari enam kapal perusak pertahanan udara Type 45 atau Daring Class yang menjadi kebanggaan Inggris. Kapal yang memiliki ciri khas lukisan naga merah pada lambungnya ini diluncurkan pada 17 November 2008 dan resmi masuk kedinasan atau komisioning pada 20 April 2012.
Sebagai bagian dari keluarga Type 45, HMS Dragon dirancang sebagai benteng pertahanan udara terapung yang bertugas melindungi gugus tugas induk dari serangan udara terkoordinasi. Dengan panjang 152,4 meter dan bobot mati mencapai 8.000 ton, kapal ini ditenagai oleh sistem penggerak Integrated Electric Propulsion (IEP) yang menggunakan turbin gas Rolls-Royce WR-21, memberikan kecepatan maksimal 30 knot dan jarak jelajah hingga 7.000 mil laut untuk mendukung misi jarak jauh seperti di Timur Tengah.

Keunggulan utama dari HMS Dragon terletak pada sistem radar SAMPSON yang mampu melacak ratusan target sekaligus, mulai dari target sekecil bola tenis yang meluncur dengan kecepatan supersonik hingga pesawat tempur siluman. Sistem radar ini terintegrasi penuh dengan Sea Viper Air Defence System yang menjadi senjata utama pertahanan udara kapal.
Untuk daya pukul kinetik, HMS Dragon dibekali 48 sel peluncur vertikal (VLS) Sylver A50 yang membawa kombinasi rudal Aster 15 untuk jarak dekat dan Aster 30 untuk penghadangan jarak jauh. Selain itu, kapal ini dilengkapi meriam utama BAE Systems 4.5 inch Mark 8 Mod 1, dua unit Phalanx CIWS 20mm untuk pertahanan lapis terakhir, serta hanggar yang mampu menampung helikopter Wildcat atau Merlin untuk misi anti-kapal selam dan permukaan.
HMS Dragon seen from a Wildcat as the Type 45 destroyer conducts high-speed manoeuvres in the eastern Mediterranean, maintaining air defence readiness on operations. 📷 LPhot Helayna Birkett, Royal Navy pic.twitter.com/lUrggvUZ1W
— UK Defence Journal (@UKDefJournal) May 4, 2026
Menariknya, Royal Navy kini tengah bersiap membawa kapal perusak Type 45 ke era baru peperangan energi melalui pengembangan senjata laser yang dikenal sebagai proyek DragonFire. Senjata Laser Directed Energy Weapon (LDEW) ini dirancang untuk melengkapi sistem pertahanan kapal di masa depan guna menghalau ancaman drone dan rudal dengan biaya operasional yang sangat ekonomis dibandingkan rudal pencegat konvensional.
Meski saat ini HMS Dragon masih mengandalkan persenjataan kinetik, percepatan integrasi teknologi DragonFire pada armada Type 45 telah menjadi prioritas kementerian pertahanan Inggris untuk menghadapi ancaman asimetris modern. Dengan pengerahan ke Selat Hormuz kali ini, HMS Dragon tidak hanya menguji kesiapan tempur personelnya, tetapi juga menunjukkan kesiapan Inggris dalam menghadapi konfrontasi militer skala besar di kawasan yang paling bergejolak di dunia. (Gilang Perdana)
Geger Kapal Selam Yasen-M Rusia di Havana, Ternyata Hanya Alarm Palsu!


