Cina Tak Bisa Sembunyi! AS Gelar Teleskop 100 Ton Pantau Orbit Geostasioner dari Australia

Komando Pasukan Ruang Angkasa Amerika Serikat (US Space Force) resmi memperluas jaringan pengawasan satelit mereka di Australia guna menghadapi ancaman nyata dari senjata anti-satelit (Anti-Satellite Weapons/ASAT) milik Cina dan Rusia.

Baca juga: Satelit Intai Militer Pertama Swedia Resmi Beroperasi, Siap Awasi Rusia di Baltik

Kunjungan Kepala Intelijen US Space Force, Letjen Gregory Gagnon ke Australia baru-baru ini menegaskan bahwa domain luar angkasa kini menjadi prioritas utama dalam perencanaan militer sekutu di Indo Pasifik. Langkah ini diambil karena meningkatnya risiko satelit komunikasi, navigasi, dan peringatan dini dihancurkan atau dilumpuhkan melalui serangan laser, gangguan elektronik (jamming), hingga tabrakan kinetik saat konflik pecah.

Pilar utama dari pertahanan ini berada di Stasiun Komunikasi Angkatan Laut Harold E. Holt dekat Exmouth, Australia Barat. Di sana, Unit Pengawasan Ruang Angkasa No. 1 dari Angkatan Pertahanan Australia (ADF) mengoperasikan sistem radar C-Band dan Space Surveillance Telescope (SST) seberat 100 ton.

Teleskop optik ini adalah monster teknologi dengan cermin utama 3,6 meter yang mampu memposisikan ulang dirinya setiap sembilan detik. Misinya bukan untuk astronomi, melainkan melacak objek di orbit geostasioner sejauh 36.000 km—wilayah di mana satelit intelijen (ISR) dan peringatan dini rudal beroperasi. Radar C-Band melengkapi kemampuan ini dengan memantau orbit rendah dan menengah, memastikan setiap manuver mencurigakan di angkasa tidak luput dari pengawasan.

Langkah defensif ini dipicu oleh “taring” Cina dan Rusia yang kian tajam di luar angkasa. Cina dilaporkan telah memiliki sistem ASAT operasional yang mampu menjangkau orbit rendah, dan kini sedang mengembangkan kemampuan untuk memukul target di orbit sinkron bumi. Lebih dari sekadar rudal penghancur, Cina memiliki lebih dari 510 satelit ISR yang mampu melacak pergerakan gugus tempur kapal induk AS secara real-time.

Belum lagi ancaman dari satelit “inspeksi dan perbaikan” yang bisa berubah menjadi senjata untuk melumpuhkan satelit lawan tanpa tembakan rudal. Di sisi lain, Rusia juga aktif menguji rudal Nudol dan melakukan manuver pendekatan jarak dekat (di bawah 1 km) terhadap satelit keamanan nasional AS menggunakan satelit prototipe ASAT mereka.

Dampak dari “perang bintang” ini sangat nyata bagi pasukan di darat dan laut. Jika satelit komunikasi dan GPS dilumpuhkan melalui serangan siber atau laser, koordinasi tempur akan berantakan—misi penembakan memakan waktu lebih lama, unit pertahanan udara menerima data yang tidak akurat, dan rute logistik kehilangan presisi.

Sebagai solusi jangka panjang, kerja sama AUKUS (AS, Australia, Inggris) kini sedang membangun Deep Space Advanced Radar Capability (DARC) di Australia Barat yang dijadwalkan beroperasi penuh pada 2027. Sistem ini akan mampu melacak objek sangat kecil di orbit dalam segala cuaca, memberikan kemampuan atribusi untuk menentukan apakah kerusakan satelit disebabkan oleh kegagalan teknis atau serangan sengaja dari lawan. (Gilang Perdana)

Cina Ketar Ketir! AS Sukses Uji Rudal Tomahawk Perdana di Filipina, Jangkau Target Sejauh 630 KM

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *