Perkuat Pertahanan Pesisir, Taiwan Sukses Uji Tembak Drone Kamikaze Altius-600M Incar Target di Laut

Pada Rabu, 3 Juni 2026, Taiwan untuk pertama kalinya sukses melaksanakan uji tembak amunisi berkeliaran (loitering munition) atau yang populer dikenal sebagai drone kamikaze Altius-600M dengan menyasar target bergerak di permukaan laut. Uji coba mutakhir ini merupakan bagian dari rangkaian latihan militer dua hari yang menggabungkan latihan penembakan drone serta latihan taktis bersandi “Tianma”.
Operasi penting ini dieksekusi langsung oleh Batalyon UAV dari Komando Artileri ke-21 ROCA. Menariknya, dalam latihan yang sama, militer Taiwan juga menggelar uji tembak rudal anti-tank panggul Javelin yang uniknya juga diarahkan untuk menghantam target di laut. Langkah ini mempertegas indikasi kuat bahwa Taiwan tengah mematangkan strategi perang asimetris, di mana drone Altius-600M sengaja dipersiapkan dan dioptimalkan sebagai pilar baru senjata pertahanan pesisir (coastal defense) guna membendung potensi serbuan armada amfibi lawan.
Altius-600M merupakan varian bersenjata (lethal variant) dari keluarga drone Altius buatan Anduril Industries, perusahaan teknologi pertahanan mutakhir asal Amerika Serikat. Sebagai sebuah loitering munition, drone ini menggabungkan fungsi pengawasan udara dengan kemampuan serang presisi tinggi lewat spesifikasi teknis yang sangat mematikan.
Dengan bobot total sekitar 12 hingga 13 kg, varian “M” (Munition) ini mampu membawa hulu ledak (warhead) bervariasi dengan berat mencapai 1,3 hingga 3 kg. Kapasitas hulu ledak sebesar ini setara atau bahkan lebih besar dari drone kamikaze terkenal sekelas Switchblade 600, menjadikannya sangat efektif untuk menjebol lapisan proteksi kendaraan lapis baja maupun kapal cepat militan.
陸軍Altius-600M無人機首度進行海上目標射擊,達到百分之百命中率。
The Army’s Altius-600M drone conducted its first-ever live-fire engagement against maritime targets, achieving a 100% hit rate.#國防部 #陸軍 #天馬操演 #無人機 #ROC #TAIWAN #Altius600M #Anduril pic.twitter.com/VjOExvsyeT— 軍聞社 Military News Agency, ROC(Taiwan)🇹🇼 (@mna_roc) June 4, 2026
Selain itu, Altius-600M dibekali kemampuan jelajah yang luar biasa di kelasnya berupa jangkauan operasi (range) hingga 440 kilometer (sekitar 273 mil) dan mampu terbang mengudara (loitering) memantau area target selama lebih dari 4 jam penuh.
Keunggulan taktis lain dari sistem Altius adalah fleksibilitas platform peluncurannya yang sangat tinggi. Drone ini menggunakan sistem Pneumatic Integrated Launch System (PILS) berbentuk tabung standar yang dapat diluncurkan dari berbagai wahana, mulai dari kendaraan darat seperti rantis roda empat, helikopter di udara, kapal perang di laut, hingga platform darat statis di pinggir pantai.
🇹🇼 Taiwan conducted its first combat firing of barrage munitions “Altius-600M” against maritime targets
The “Tianma” drills took place in Yilan County under the leadership of the command of the third operational district, responsible for the defense of the northern part of the… pic.twitter.com/ANKQdd2E3B
— dana (@dana916) June 3, 2026
Berjalan di atas sistem operasi berbasis kecerdasan buatan (AI) milik Anduril, Altius-600M dapat beroperasi dalam mode kawanan (swarming). Dalam uji coba terbaru di Taiwan, drone ini sukses mendemonstrasikan prosedur pencarian target (target search), identifikasi (identification), hingga penguncian dan penyerangan target (engagement) secara presisi dan otonom.
Keberhasilan Altius-600M dan rudal Javelin menghantam target maritim ini memberikan sinyalemen kuat mengenai doktrin Anti-Access/Area Denial (A2/AD) yang tengah dipertajam oleh Taipei. Jarak jangkau Altius-600M yang mencapai ratusan kilometer memungkinkannya mendeteksi dan mengeliminasi kapal-kapal pendarat komando atau kapal patroli cepat Cina jauh sebelum mereka mendekati garis pantai Taiwan.
Dengan menempatkan Batalyon UAV Komando Artileri di wilayah pesisir, militer Taiwan kini memiliki aset intai sekaligus pemukul taktis yang murah, mobile, dan sangat sulit dideteksi oleh radar pertahanan udara armada kapal perang konvensional. Pola penggelaran senjata ini dinilai menjadi solusi paling masuk akal bagi Taiwan dalam menghadapi superioritas kuantitas armada laut raksasa di seberang selat. (Gilang Perdana)


