Pecah Rekor Duel Udara Jarak Jauh: Jet Tempur Su-35 Rusia Rontokkan F-16 Ukraina untuk Pertama Kalinya

Peta pertempuran udara di langit Eropa Timur mencatat sejarah baru seiring pecahnya duel udara jarak jauh (Beyond Visual Range – BVR) perdana yang melibatkan dua jet tempur legendaris beda kubu. Sebuah jet tempur superioritas udara jarak jauh milik Angkatan Udara Rusia (VKS), Sukhoi Su-35S, dilaporkan oleh sumber lokal telah berhasil terlibat duel dan menembak jatuh satu unit jet tempur F-16AM milik Angkatan Udara Ukraina di luar jangkauan visual menggunakan rudal udara ke udara berpemandu radar.

Baca juga: Rusia Rayakan 45 Tahun Sukhoi Su-27 Series, Raih Ekspor 700 Unit Su-27/Su-30 Sejak Tahun 2000

Peluncuran rudal maut yang diidentifikasi antara jenis R-77 atau R-37M tersebut dilaporkan sempat terekam oleh kanal-kanal pemantau militer Ukraina. Jika keterlibatan ini dikonfirmasi secara resmi, maka insiden rontoknya penempur buatan Amerika Serikat tersebut akan menjadi landmark atau tonggak sejarah krusial dalam operasi F-16 di Ukraina. Sebab, meskipun beberapa unit F-16 dilaporkan telah hilang dalam pertempuran sebelumnya akibat faktor lain, belum pernah ada satu pun unit yang dilaporkan jatuh akibat duel udara langsung (air-to-air combat).

Secara garis keturunan dan kelas rancang bangun, Su-35 merupakan turunan tercanggih dari jet tempur superioritas udara era Uni Soviet, Sukhoi Su-27, yang sejak awal dirancang secara spesifik untuk mampu mengungguli jet tempur andalan NATO seperti F-15 dan F-16, di mana kemampuan tersebut telah terbukti dalam berbagai simulasi pertempuran udara.

Sementara, jet tempur F-16 sendiri awalnya didesain sebagai rekanan yang lebih ringan dan berbiaya lebih murah dibandingkan jet tempur utama Angkatan Udara AS semasa Perang Dingin, yakni F-15. Walhasil, F-16 murni merupakan jet tempur ringan bermesin tunggal (lightweight single-engine), sedangkan F-15 dan Su-35 berdiri di kasta yang jauh lebih tinggi sebagai jet tempur berat bermesin ganda (heavyweight twin-engine).

Kekalahan perdana ini juga kembali memicu pertanyaan signifikan mengenai siapa personel yang sebenarnya berada di dalam kokpit F-16 Ukraina tersebut. Outlet keamanan Perancis, Intelligence Online, bersama beberapa sumber lainnya sempat melaporkan bahwa sebuah skadron yang berisi pilot-pilot veteran asal Angkatan Udara AS (USAF) dan Angkatan Udara Belanda (RNLAF) dikerahkan untuk mengoperasikan jet tempur standar NATO tersebut bagi Angkatan Udara Ukraina.

Sejak awal, kelangkaan pilot lokal Ukraina yang terlatih memang telah diidentifikasi sebagai hambatan utama dalam mengintegrasikan jet tempur Barat ke dalam struktur armada mereka, yang sepanjang sejarahnya hanya mengoperasikan pesawat-pesawat pabrikan Uni Soviet.

Seperti dikutip Military Watch Magazine, keputusan negara-negara Barat untuk memasok F-16 dilakukan setelah Ukraina menderita kerugian besar pada armada jet tempur berat era Soviet miliknya, seperti MiG-29, Su-24M, dan Su-27, meskipun sempat mendapatkan sementaan armada MiG-29 bekas dari negara-negara Eropa Timur. Sialnya, unit F-16 bekas yang dipasok dari inventaris Eropa ini merupakan pesawat tangan kedua yang tidak dimodernisasi ke standar abad ke-21, sehingga sudah lama dianggap usang di ranah pertempuran modern.

Oleh karena itu, sumber internal Ukraina pun sebenarnya sudah berulang kali memperingatkan bahwa jet tempur F-16 dan armada Mirage 2000 pasokan Perancis sama sekali tidak akan mampu menandingi kapabilitas jet tempur mutakhir Rusia seperti Su-35. Mantan juru bicara Angkatan Udara Ukraina, Yuri Ignat, pada 3 Juni 2025 sempat mengeluhkan bahwa Rusia saat ini memiliki jet tempur yang dapat melihat lebih jauh dan rudal yang dapat terbang lebih jauh, bahkan jika dibandingkan dengan F-16 sekalipun, ditambah dengan payung pertahanan udara darat Rusia yang sangat kuat yang bekerja bahu-membahu dengan armada penerbangan mereka.

Pada Maret sebelumnya, Ignat secara spesifik membandingkan F-16 dengan Su-35 dan menegaskan bahwa modifikasi pesawat yang dimiliki Ukraina tidak dapat berkompetisi satu-lawan-satu dalam pertempuran udara karena Su-35 Rusia merupakan jet tempur yang relatif baru. Ukraina membutuhkan pendekatan komprehensif yang mencakup sistem pertahanan udara berbasis darat, sistem perang elektronik (EW), radar udara (AWACS), serta integrasi radar on-board dan rudal udara-ke-udara yang mumpuni pada jet tempur mereka untuk bisa mengimbanginya.

Ketimpangan superioritas udara yang masif ini pada akhirnya memaksa Angkatan Udara Ukraina mengadopsi taktik operasional baru yang sangat defensif untuk menerbangkan F-16 mereka. Seorang pilot F-16 Ukraina pada Januari lalu mengungkapkan bahwa armada Su-35, jet siluman Su-57, serta jet pencegat MiG-31 milik Rusia merupakan ancaman udara paling utama yang terus melakukan patroli udara tempur di ketinggian sangat tinggi guna mengintai dan menunggu jet tempur Ukraina lepas landas.

Akibatnya, F-16 Ukraina dilarang keras beroperasi di ketinggian tinggi dan terpaksa mengadopsi strategi terbang sangat rendah (low-altitude flight). Metode memanfaatkan kontur bumi (terrain masking) ini digunakan untuk mengurangi efektivitas pelacakan radar dan pencari rudal Rusia, karena efek hamburan gelombang permukaan tanah (ground clutter) akan mengganggu sensor pintar Rusia dan mempersulit mereka untuk mengunci target (lock-on).

Laporan taktik merayap Ukraina ini juga dikonfirmasi secara sepihak oleh CEO konglomerat teknologi pertahanan negara Rusia Rostec, Sergey Chemezov, pada November 2025. Chemezov melaporkan bahwa armada F-16 and Mirage 2000 Ukraina telah dipaksa beroperasi secara eksklusif di ketinggian minimal dan berada di ruang udara yang sangat jauh di belakang garis depan demi menghindari target buruan jet tempur Rusia, di mana ia menunjuk peran vital Su-35S secara spesifik.

Menurut Chemezov, Su-35S telah sukses memaksa pesawat musuh turun rendah dan terbang di area belakang, sementara Su-35S sendiri mampu mengunci dan menghancurkan sasaran dari jarak ratusan kilometer. Hal inilah yang membuat jet tempur Ukraina tidak dapat mendekati garis depan untuk meluncurkan rudal udara ke udara mereka. (Gilang Perdana)

R-73: Dibalik Kecanggihan Rudal Pemburu Panas Sukhoi TNI AU

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *