Misi Victory Day 2026: Rusia Siapkan Reaktivasi Pangkalan Laut Tartus di Suriah

Tartus Russian naval base (Alexander Zemlianichenko/AP)

Kejatuhan rezim Bashar al-Assad di Suriah beberapa waktu lalu sempat memicu spekulasi berakhirnya era kekuatan maritim Rusia di Mediterania, namun kenyataan di lapangan menunjukkan manuver yang jauh lebih kompleks. Menjelang peringatan Victory Day pada Mei 2026, Moskow memperlihatkan manuver ‘comeback’ yang sangat terencana dengan upaya menghidupkan kembali kuku militernya yang sempat “mati suri” pasca naiknya pemerintahan baru di Damaskus.

Baca juga:Β Lawan Serangan Drone Masif: Rusia Luncurkan Serp-FPV, Perisai Elektronik untuk Kendaraan Tempur

Indikasi kuat kembalinya kehadiran permanen Rusia terpantau dari aktivitas korvet Steregushchiy class, RFS Stoykiy (F545), yang melakukan pelayaran luar biasa mengelilingi Afrika hingga menembus Terusan Suez untuk terus bersandar di dermaga khusus Tartus. Alih-alih kembali ke pangkalannya di utara setelah misi panjang, korvet ini justru menetap di dermaga yang secara historis merupakan “pos suci” bagi Armada Mediterania Rusia sejak era Uni Soviet.

Manuver intelijen ini semakin dipertegas dengan pergerakan konvoi logistik raksasa yang dikawal ketat oleh fregat Gorshkov class, Admiral Kasatonov (F461). Konvoi yang terdiri dari kapal tanker General Skobelev, kapal Ro-Ro Sparta, dan kapal tanker Akademik Pashin ini terpantau melakukan tindakan deparasi sinyal AIS (spoofing) untuk menutupi jejak mereka, di mana kapal General Skobelev berpura-pura berada di Laut Baltik padahal tengah melintasi selatan Malta.

Pola pelayaran yang sangat tertutup ini mengindikasikan kuat bahwa Rusia sedang membawa muatan logistik masif, termasuk kemungkinan sistem persenjataan dan suku cadang cadangan, untuk menyuplai ulang Pangkalan Tartus agar siap beroperasi penuh secara permanen sebagai tumpuan utama proyeksi kekuatan Moskow di perairan hangat.

Pangkalan Angkatan Laut di Tartus sendiri memiliki nilai sejarah dan strategis yang tak tergantikan bagi Rusia, yang bermula dari perjanjian Uni Soviet dengan Suriah pada tahun 1971. Fasilitas ini merupakan satu-satunya titik tumpu logistik dan pemeliharaan teknis (PMTO) milik Rusia di luar wilayah bekas Soviet yang memungkinkan mereka mengawasi sayap selatan NATO dan Terusan Suez secara simultan.

Setelah sempat terbengkalai pasca runtuhnya Soviet, pangkalan ini dihidupkan kembali secara besar-besaran oleh Vladimir Putin pada 2013 dengan fasilitas dermaga apung dan bengkel pemeliharaan yang mampu menampung kapal penjelajah hingga kapal selam bertenaga nuklir, yang kemudian diperkuat dengan perjanjian sewa ekstrateritorial selama 49 tahun sejak 2017.

Upaya reaktivasi ini nampaknya sengaja mengambil momentum strategis pasca hengkangnya pasukan terakhir Amerika Serikat dari Suriah pada pertengahan April 2026. Selama masa transisi politik yang tidak menentu di Suriah, militer Rusia memang sempat beralih menggunakan fasilitas di Aljazair, namun pihak Aljazair tetap membatasi hubungan hanya sebatas kunjungan pelabuhan (port call) demi menjaga kedaulatan mereka.

Bagi Rusia, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Tartus sebagai “benteng terapung” di jantung Mediterania Timur. Dengan pengiriman logistik besar-besaran di bawah pengawalan fregat tercanggihnya, Rusia ingin membuktikan kepada dunia menjelang parade Victory Day 2026 bahwa kehadiran mereka di Mediterania bukanlah sekadar kunjungan singkat, melainkan penetrasi militer yang akan tetap eksis meski peta kekuasaan di Damaskus telah berubah. (Gilang Perdana)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *